Pemerintahan Selandia Baru Larang Senjata Semiotomatis

Jum'at, 22 Maret 2019 - 10:49 WIB
Pemerintahan Selandia...
Pemerintahan Selandia Baru Larang Senjata Semiotomatis
A A A
CHRISTCHURCH - Selandia Baru akan melarang senapan serbu dan semiotomatis ala militer dalam undang-undang (UU) senjata baru yang lebih ketat. Perdana Menteri (PM) Selandia Baru Jacinda Ardern menyatakan langkah ini diambil setelah pembunuhan terhadap 50 orang di dua masjid di Kota Christchurch.

“Pada 15 Maret, sejarah kita berubah selamanya. Sekarang, UU kita juga demikian. Kami mengumumkan aksi hari ini atas nama seluruh rakyat Selandia Baru untuk memperkuat UU senjata kita dan membuat negara kita tempat yang lebih aman,” tutur Ardern dilansir Reuters, kemarin.

“Semua senjata semiotomatis yang digunakan saat serangan teroris pada Jumat 15 Maret akan dilarang,” kata dia. Ardern berharap, UU baru akan diterapkan pada 11 April dan skema pembelian kembali akan menghabiskan dana USD 138 juta untuk semua senjata terlarang itu. Semua senapan serbu dan semitomatis ala militer (MSSA) akan dilarang beserta suku cadang yang digunakan untuk mengubah senjata menjadi MSSA dan semua magazin kapasitas tinggi.

Dalam UU senjata sekarang, lisensi senjata kategori A standar mengizinkan senjata semiotomatis terbatas hingga tujuh tembakan. Video yang diunggah live oleh pelaku penembakan di satu masjid menunjukkan senjata semiotomatis dimodifikasi dengan magazin besar.

Australia melarang senjata semiotomatis dan meluncurkan pembelian kembali setelah pembantaian Port Arthur pada 1996 yang menewaskan 35 orang. Ardern menjelaskan langkah ini sama dengan Australia. Menurut dia, UU akan mengizinkan secara ketat para petani memiliki senjata itu untuk kontrol hama pengganggu dan keamanan hewan ternak.

“Saya sangat yakin bahwa para pemilih senjata sah yang mayoritas di Selandia Baru akan memahami langkah ini demi kepentingan nasional dan akan mengubah langkah mereka,” ujar dia yang menambahkan lebih banyak perubahan kebijakan akan mencakup senjata yang terdaftar dan memiliki lisensi.

Selandia Baru dengan penduduk kurang dari 5 juta jiwa itu memiliki sekitar 1,2 juta hingga 1,5 juta senjata api, sekitar 13.500 senjata itu berjenis MSSA. Sebagian besar petani memiliki senjata untuk berburu kijang, babi, dan kambing. Berbagai kelompok pemilik senjata dan menembak juga banyak di negara itu.

Kondisi ini menciptakan lobi kuat menghalangi berbagai upaya sebelumnya untuk memperketat UU senjata. Federasi Petani yang mewakili ribuan petani menyatakan mendukung UU baru itu. “Ini tidak akan populer bagi beberapa anggota kami, tapi kami yakin ini satu-satunya solusi praktis,” ungkap juru bicara Federasi Petani, Miles Anderson.

Oposisi utama Partai Nasional yang memiliki dukungan kuat di wilayah pedesaan juga mendukung larangan ini. Perubahan ini tidak termasuk dua kelas umum senjata api yang sering digunakan untuk berburu, kontrol hama, dan manajemen stok di lahan pertanian.

“Saya memiliki senjata ala militer. Tapi sejujurnya, saya tidak benar-benar menggunakannya, saya tidak benar-benar membutuhkannya. Jadi, saya cukup senang menyerahkan senjata milik saya,” tutur Noel Womersley yang bekerja di tempat pemotongan sapi untuk para petani kecil di sekitar Christchurch.

Nada Tawfeek telah menguburkan bapak mertuanya yang tewas dalam serangan itu, Hussein Moustafa, menyambut larangan senjata tersebut. “Ini reaksi hebat. Saya pikir negarane gara lain perlu belajar dari dia,” kata Tawfeek. Mohammed Faqih, anggota ulama yang terbang ke Selandia Baru dari California dan menghadiri pemakaman beberapa korban, kemarin, menyatakan bersyukur dengan adanya larangan senjata itu.

“Saya harap para pemimpin kita di Amerika Serikat akan mengikuti langkahnya dan melakukan hal sama,” ungkap dia. Beberapa korban telah dikuburkan pada Rabu (20/3) dan pemakaman berlanjut hingga ke marin dengan seorang pelajar yang disemayamkan. Pemakaman massal diperkirakan dilakukan hari ini.
(don)
Berita Terkait
Angkat Keberagaman,...
Angkat Keberagaman, Ardern Tunjuk Wanita Maori Bertato hingga Pria Gay Dalam Kabinetnya
Bulan Depan, Selandia...
Bulan Depan, Selandia Baru Kembali Gelar Turnamen Tenis
Pelaku Penembakan Polisi...
Pelaku Penembakan Polisi Selandia Baru Tertangkap
Selandia Baru Heboh,...
Selandia Baru Heboh, Kelelawar Menangkan Kontes Burung Tahunan
Tersesat, Pinguin Antartika...
Tersesat, Pinguin Antartika Ini Berenang 3.000 km ke Selandia Baru
Negara Paling Damai...
Negara Paling Damai di Tahun 2022 Menurut Global Peace Index
Berita Terkini
Trump akan Bicara dengan...
Trump akan Bicara dengan Hizbullah jika Presiden Lebanon Mau
9 menit yang lalu
Menlu Rubio Ungkap AS...
Menlu Rubio Ungkap AS Masih Bersedia Negosiasi dengan Iran
1 jam yang lalu
RUU Integrasi Militer...
RUU Integrasi Militer AS-Israel Dianggap Ancaman Eksistensial, Anggota Kongres Diseru Menolak
2 jam yang lalu
Trump Setujui Kesepakatan...
Trump Setujui Kesepakatan Nuklir Arab Saudi yang Memungkinkan Pengayaan Uranium
2 jam yang lalu
Trump Ingin Terus Serang...
Trump Ingin Terus Serang Iran dari Pangkalan Militer Inggris
4 jam yang lalu
Menhan AS Hegseth Ungkap...
Menhan AS Hegseth Ungkap Biaya Perang Melawan Iran Sejauh Ini Sebesar Rp672 Triliun
5 jam yang lalu
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved