OPCW Temukan Penggunaan Senjata Kimia dalam Serangan Douma
Sabtu, 02 Maret 2019 - 06:42 WIB
OPCW Temukan Penggunaan Senjata Kimia dalam Serangan Douma
A
A
A
THE HAGUE - Pengawas senjata kimia global menyimpulkan bahwa zat klorin kemungkinan telah digunakan dalam serangan terhadap kota Douma di Suriah pada bulan April tahun lalu.
"Data memberikan alasan yang masuk akal bahwa penggunaan bahan kimia beracun sebagai senjata telah terjadi," kata Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW).
"Bahan kimia beracun ini mengandung klorin reaktif," tambahnya, tanpa menyebut kelompok yang harus bertanggung jawab seperti dilansir dari BBC, Sabtu (2/3/2019).
Kesimpulan OPCW didasarkan pada sampel lingkungan, wawancara saksi dan data lain yang dikumpulkan oleh anggota misi pencarian fakta yang mengunjungi sejumlah lokasi di Douma dua minggu setelah serangan.
Pengawas itu juga mengatakan tidak menemukan bukti penggunaan zat saraf di Douma, seperti yang disebutkan dalam beberapa laporan awal, juga tidak ada bukti untuk mendukung klaim pemerintah bahwa fasilitas lokal sedang digunakan oleh pejuang pemberontak untuk memproduksi senjata kimia.
Petugas medis mengatakan lebih dari 40 orang tewas dalam serangan di daerah yang dikuasai kelompok pemberontak itu.
Amerika Serikat (AS), Inggris dan Prancis menuduh pasukan pemerintah Suriah, yang mengepung Douma, menggunakan senjata kimia dalam serangan pada 7 April lalu itu, dan melakukan serangan udara sebagai pembalasan.
Namun pemerintah Suriah membantah pernah menggunakan senjata kimia, dan sekutunya Rusia mengatakan serangan itu dilakukan oleh petugas penyelamat.
"Data memberikan alasan yang masuk akal bahwa penggunaan bahan kimia beracun sebagai senjata telah terjadi," kata Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW).
"Bahan kimia beracun ini mengandung klorin reaktif," tambahnya, tanpa menyebut kelompok yang harus bertanggung jawab seperti dilansir dari BBC, Sabtu (2/3/2019).
Kesimpulan OPCW didasarkan pada sampel lingkungan, wawancara saksi dan data lain yang dikumpulkan oleh anggota misi pencarian fakta yang mengunjungi sejumlah lokasi di Douma dua minggu setelah serangan.
Pengawas itu juga mengatakan tidak menemukan bukti penggunaan zat saraf di Douma, seperti yang disebutkan dalam beberapa laporan awal, juga tidak ada bukti untuk mendukung klaim pemerintah bahwa fasilitas lokal sedang digunakan oleh pejuang pemberontak untuk memproduksi senjata kimia.
Petugas medis mengatakan lebih dari 40 orang tewas dalam serangan di daerah yang dikuasai kelompok pemberontak itu.
Amerika Serikat (AS), Inggris dan Prancis menuduh pasukan pemerintah Suriah, yang mengepung Douma, menggunakan senjata kimia dalam serangan pada 7 April lalu itu, dan melakukan serangan udara sebagai pembalasan.
Namun pemerintah Suriah membantah pernah menggunakan senjata kimia, dan sekutunya Rusia mengatakan serangan itu dilakukan oleh petugas penyelamat.
(ian)