Singgung Nuklir, AS Klaim Tak Akan Perang Dingin dengan Rusia

Rabu, 23 Januari 2019 - 04:53 WIB
Singgung Nuklir, AS...
Singgung Nuklir, AS Klaim Tak Akan Perang Dingin dengan Rusia
A A A
WASHINGTON - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Michael Pompeo mengatakan negaranya dan Rusia tidak ditakdirkan untuk memasuki Perang Dingin baru. Menurutnya, kedua negara adalah kekuatan nuklir dunia dan perlu berunding untuk mencegah penyebaran senjata mengerikan itu.

Meski meyakini tidak akan ada Perang Dingin baru, Pompeo mendesak Moskow untuk mengubah arah masalah termasuk soal Ukraina.

"Bukan itu masalahnya kita ditakdirkan untuk menghadapi persaingan Perang Dingin," kata Pompeo kepada elite bisnis dunia di Davos, Swiss, hari Selasa, di mana dia berbicara melalui sambungan video karena pemerintah AS sedang shutdown yang membuatnya tidak bisa melakukan perjalanan ke luar negeri.

Diplomat top Washington itu mengatakan bahwa Amerika Serikat dan Rusia harus melakukan dialog langsung untuk mencegah penyebaran senjata nuklir.

"Kedua negara ini adalah pemilik kemampuan nuklir terbesar di dunia. Rusia adalah kekuatan yang luar biasa dalam hal ini kami menghormati dan kami memahami itu. Kami perlu memastikan bahwa ada pembicaraan yang terjadi sehingga kami dapat mencegah proliferasi dan sisanya yang datang dengan kepemilikan senjata nuklir itu," kata Pompeo.

"Saya harus mengatakan itu adalah perjuangan," lanjut dia.

Lebih lanjut Pompeo menyindir berbagai tindakan Rusia yang tak patut. Contoh, mendukung separatis Ukraina dan menganeksasi Crimea dan ikut campur pemilu Amerika Serikat dan tempat lain seperti yang dituduhkan intelijen Amerika.

"Ini bukan perilaku bangsa yang ingin menjadi bagian dari komunitas internasional," kritik mantan direktur CIA itu, seperti dikutip AFP, Rabu (23/1/2019).

"Dan kami berharap mereka akan kembali ke tindakan yang tepat, serangkaian tindakan, yang membawa mereka ke jalan aturan hukum, ketertiban dan kebebasan," katanya.

"Jika mereka melakukan hal-hal itu, saya yakin bahwa kedua negara kita dapat makmur dan tumbuh bersama satu sama lain. Kita tidak ditakdirkan untuk menjadi antagonis," katanya.

Presiden Donald Trump, yang kampanye kepresidenannya 2016 menjadi subjek penyelidikan atas hubungannya dengan Rusia, telah mengundang kontroversi di dalam negeri dengan seruannya untuk membangun hubungan AS dan Rusia dengan lebih baik.

Departemen Luar Negeri dan aktor-aktor penting lainnya termasuk Kongres AS hingga kini tetap mempertahankan tekanan dan memperluas sanksi terhadap Rusia. Kebijakan Washington itu telah membuat marah pemerintah Presiden Vladimir Putin.
(mas)
Berita Terkait
Begini Perbandingan...
Begini Perbandingan Senjata Nuklir Rusia dan Amerika Serikat
China: Amerika Serikat...
China: Amerika Serikat Ancaman Nuklir Utama di Dunia!
Adu Kekuatan Senjata...
Adu Kekuatan Senjata Nuklir Rusia vs Amerika Serikat, Siapa Unggul?
Amerika Serikat Anggap...
Amerika Serikat Anggap Serius Ancaman Senjata Nuklir Putin
Hacker Rusia Targetkan...
Hacker Rusia Targetkan 3 Lab Nuklir Amerika Serikat
Rusia Beritahu Amerika...
Rusia Beritahu Amerika Serikat: Kami Latihan Kekuatan Nuklir!
Berita Terkini
Teror Israel di Tepi...
Teror Israel di Tepi Barat Makin Mencekam, Mesir dan Spanyol Marah Besar!
11 menit yang lalu
Meski Wilayahnya Dicaplok...
Meski Wilayahnya Dicaplok Zionis, Presiden Suriah Tidak Tertarik Perang Melawan Israel
46 menit yang lalu
Drone Kamikaze Rusia...
Drone Kamikaze Rusia Hujani Kapal dan Pelabuhan Ukraina
2 jam yang lalu
70% Warga Negara di...
70% Warga Negara di Eropa Ini Tidak Percaya Militernya Mampu Melindungi Wilayahnya
3 jam yang lalu
Pemukim Israel Bakar...
Pemukim Israel Bakar 2 Masjid Bersejarah di Tepi Barat, Hamas: Lanjutkan Jalan Perlawanan
4 jam yang lalu
Setelah 13 Hari Menyerang...
Setelah 13 Hari Menyerang Iran, Trump Tunda Invasi Udara, Ini 5 Pertimbangannya
5 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved