Turki Mulai Persidangan Pelaku Pembunuhan Dubes Rusia
Selasa, 08 Januari 2019 - 20:15 WIB
Turki Mulai Persidangan Pelaku Pembunuhan Dubes Rusia
A
A
A
ANKARA - Sidang pertama tentang pembunuhan Duta Besar Rusia untuk Turki, Andrey Karlov dilaporkan telah dimulai di Ankara. Pada akhir November tahun lalu, kantor kejaksaan Ankara mengirim dakwaan ke Pengadilan Tingkat Kedua Turki di Ankara atas kasus ini.
Kasus ini memiliki 28 tersangka, termasuk pemimpin Kelompok Teroris Fethullah, Fethullah Gulen, serta mantan pegawai pemerintah Turki, Sahin Sogut, yang diduga memerintahkan pembunuhan diplomat Rusia.
Menurut hakim, seperti dilansir Tass pada Selasa (8/1), beberapa tersangka berada di luar negeri, sehingga mereka tidak bisa dihadirkan dalam persidangan har ini. Sebanyak 18 tersangka dihadirkan dalam persindangan, empat dari mereka berada di penjara dan berpartisipasi dalam persidangan melalui tautan video.
Tuduhan yang dibawa oleh kantor kejaksaan termasuk melanggar perintah konstitusi, keanggotaan dalam kelompok teroris bersenjata, pembunuhan berencana untuk tujuan teroris. Jaksa menggambarkan insiden itu sebagai tindakan provokatif untuk merusak hubungan antara Turki dan Rusia.
Karlov, ditembak mati pada 19 Desember 2016. Seorang pria bersenjata yang kemudian diidentifikasi polisi sebagai mantan petugas polisi berusia 22 tahun melepaskan tembakan tanpa pandang bulu di sebuah galeri seni di Ankara tempat Karlov membuka pameran foto.
Pelaku pembunuhan sendiri tewas ditempat, setelah terkena timah panas polisi Ankara. Presiden Rusia, Vladimir Putin kemudian mengeluarkan dekrit untuk memberikan gelar Pahlawan Federasi Rusia kepada Karlov.
Kasus ini memiliki 28 tersangka, termasuk pemimpin Kelompok Teroris Fethullah, Fethullah Gulen, serta mantan pegawai pemerintah Turki, Sahin Sogut, yang diduga memerintahkan pembunuhan diplomat Rusia.
Menurut hakim, seperti dilansir Tass pada Selasa (8/1), beberapa tersangka berada di luar negeri, sehingga mereka tidak bisa dihadirkan dalam persidangan har ini. Sebanyak 18 tersangka dihadirkan dalam persindangan, empat dari mereka berada di penjara dan berpartisipasi dalam persidangan melalui tautan video.
Tuduhan yang dibawa oleh kantor kejaksaan termasuk melanggar perintah konstitusi, keanggotaan dalam kelompok teroris bersenjata, pembunuhan berencana untuk tujuan teroris. Jaksa menggambarkan insiden itu sebagai tindakan provokatif untuk merusak hubungan antara Turki dan Rusia.
Karlov, ditembak mati pada 19 Desember 2016. Seorang pria bersenjata yang kemudian diidentifikasi polisi sebagai mantan petugas polisi berusia 22 tahun melepaskan tembakan tanpa pandang bulu di sebuah galeri seni di Ankara tempat Karlov membuka pameran foto.
Pelaku pembunuhan sendiri tewas ditempat, setelah terkena timah panas polisi Ankara. Presiden Rusia, Vladimir Putin kemudian mengeluarkan dekrit untuk memberikan gelar Pahlawan Federasi Rusia kepada Karlov.
(esn)