Gelombang Panas Mencengkeram Australia 7 Hari Berturut-turut

Minggu, 30 Desember 2018 - 13:13 WIB
Gelombang Panas Mencengkeram...
Gelombang Panas Mencengkeram Australia 7 Hari Berturut-turut
A A A
SYDNEY - Tujuh orang meninggal dunia ketika gelombang panas mencengkeram Australia. Gelombang panas juga membuat banyak orang ke pantai untuk menyegarkan diri.

Lima dari tujuh kematian itu terjadi di negara bagian tenggara Victoria antara Malam Natal dan Sabtu. Seorang warga Korea Selatan (Korsel) tenggelam pada Hari Natal ketika snorkeling di sebuah danau di negara bagian New South Wales bagian timur, sementara seorang lelaki lainnya tewas saat berselancar di Pantai Sunshine di negara bagian timur Queensland.

Temperatur telah melonjak lebih dari 40 derajat Celcius dari Australia Barat turun melalui gurun tengah yang berpenduduk jarang ke negara bagian pesisir timur yang padat selama tujuh hari terakhir. Biro cuaca memperkirakan panas akan berlanjut setelah jeda Malam Tahun Baru yang singkat.

"Selama beberapa hari mendatang, panas akan berkontraksi di daratan tetapi akan menguat lagi mulai pertengahan minggu pada hari Rabu," kata Jonathan How, seorang ahli cuaca di Biro Meteorologi seperti disitir dari Channel News Asia, Minggu (30/12/2018).

Peringatan "gelombang panas ekstrem" yang dikeluarkan biro itu termasuk kota terpadat di Australia, Sydney, tetapi kota-kota di tepi laut termasuk Hobart, Adelaide dan Melbourne didinginkan oleh angin laut.

Bagi empat perlima dari 25 juta penduduk Australia yang tinggal di pantai, panas musim panas biasanya membuat mereka bermalas-malasan di pantai.

Tetapi bagi mereka yang tinggal di wilayah yang kering ada sedikit jeda.

Di Kulgera Road House, dekat pusat Australia di mana kota terdekat hanya berpenduduk 15 orang, suhunya begitu tinggi sehingga pompa bensin berhenti beroperasi.

"Panas sekali bahan bakarnya tidak mengalir," kata Shelley Safran, manajer sebuah pom bensin, melalui telepon.

Gelombang panas baru-baru ini memecahkan rekor pada hari Kamis di Marble Bar di wilayah Pilbara yang kaya mineral Australia Barat, di mana panas mencapai 49,3 Celcius, rekor tertinggi sejak stasiun cuaca dibuka pada tahun 1999.

Desember adalah awal musim panas bagi Belahan Bumi Selatan dan musim membawa siklon hujan ke ujung utara negara itu.

Sebuah dataran awan tropis rendah telah terbentuk di lepas pantai Queensland utara jauh yang menurut biro cuaca memiliki peluang sedang untuk berkembang menjadi topan selama beberapa hari ke depan.

Biro cuaca juga mengeluarkan peringatan badai pada hari Minggu karena angin yang menghancurkan dan hujan yang memicu banjir di Semenanjung Cape York di ujung utara Australia, termasuk kota penambangan bauksit Weipa.
(ian)
Berita Terkait
Anthony Albanese, Tokoh...
Anthony Albanese, Tokoh Kelas Pekerja yang Jadi PM Australia Terpilih
Mertens dan Sabalenka...
Mertens dan Sabalenka Juarai Ganda Putri Australia Open 2021
Kunjungan Danielle Wood...
Kunjungan Danielle Wood Perkuat Kerja Sama Ekonomi Indonesia–Australia
Cendekiawan Muda RI...
Cendekiawan Muda RI di Australia Sumbang Ide Wujudkan Indonesia 4.0
Banjir Besar Landa Sydney,...
Banjir Besar Landa Sydney, Ribuan Orang Diminta Mengungsi
Australia Menyadari...
Australia Menyadari Konsumen China Tak Tergantikan Usai 30 Bulan Konflik
Berita Terkini
AS Berambisi Caplok...
AS Berambisi Caplok 3 Pulau Terluar Iran, Bunuh Diri atau Raih Kemenangan Taktis?
1 jam yang lalu
Wakil PM Italia Sebut...
Wakil PM Italia Sebut Rusia Bukan Ancaman Utama bagi Eropa, tapi Siapa?
2 jam yang lalu
10 Negara Eropa Ini...
10 Negara Eropa Ini Bersatu Bangun Perisai Rudal Balistik, Apakah Efekif Hadapi Misil Rusia?
4 jam yang lalu
Deretan 25 Pemimpin...
Deretan 25 Pemimpin Dunia yang Sampaikan Belasungkawa atas Kematian Sheikh Hamad
5 jam yang lalu
Mantan PM Yordania Sebut...
Mantan PM Yordania Sebut Perang Iran dan AS Tak Ada Gunanya
6 jam yang lalu
Kirim Video ke Agen...
Kirim Video ke Agen Intelijen Iran, Tentara Israel Ini Dipenjara selama 5 Tahun
9 jam yang lalu
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved