Polling: Warga AS Salahkan Trump Atas Penutupan Pemerintah

Jum'at, 28 Desember 2018 - 13:31 WIB
Polling: Warga AS Salahkan...
Polling: Warga AS Salahkan Trump Atas Penutupan Pemerintah
A A A
WASHINGTON - Mayoritas warga Amerika Serikat (AS) menyalahkan Presiden Donald Trump daripada Partai Demokrat atas penutupan sebagian pemerintah AS. Itu ditunjukkan dari hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos seiring penutupan pemerintah berlanjut ke hari keenam tanpa menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Menurut jajak pendapat yang dilakukan 21-25 Desember, sebanyak 47% menganggap Trump bertanggung jawab, sementara 33% menyalahkan Partai Demokrat di Kongres. Hanya sebanyak tujuh persen menyalahkan Parti Republik di kongres seperti dilansir dari Reuters, Jumat (28/12/2018).

Penutupan ini dipicu oleh permintaan Trump, sebagian besar ditentang oleh Demokrat dan beberapa anggota parlemen dari Partai Republik sendiri, bahwa pembayar pajak memberinya USD5 miliar untuk membantu membuat tembok yang ia ingin bangun di sepanjang perbatasan AS-Meksiko. Total estimasi biaya adalah USD23 miliar.

Hanya 35 persen dari mereka yang disurvei dalam jajak pendapat mengatakan mereka mendukung termasuk uang untuk tembok dalam rancangan dana pengeluaran kongres. Hanya 25 persen mengatakan mereka mendukung Trump menutup pemerintah atas masalah ini.

"Presiden telah menjelaskan bahwa setiap tagihan untuk mendanai pemerintah harus cukup mendanai keamanan perbatasan," kata juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders dalam sebuah pernyataan.

Pernyataan itu tidak menyebutkan dinding yang diusulkan Trump.

Menunjukkan sedikit rasa urgensi, kedua kamar Kongres bertemu hanya beberapa menit pada hari Kamis, tetapi tidak ada yang mengambil tindakan untuk mengakhiri penutupan sebelum menunda sampai minggu depan.

"Demokrat dan Republik masih sangat jauh dalam menyelesaikan kebuntuan," kata juru bicara Demokrat di Senat Chuck Schumer Justin Goodman dalam sebuah pernyataan.

Perwakilan Demokrat Jim McGovern mencoba menghentikan sesi singkat yang dijalankan Partai Republik di Dewan Perwakilan Rakyat dengan menawarkan langkah untuk membuka kembali lembaga pemerintah yang tutup dan tetap menjalankannya hingga 8 Februari. Tetapi dia diabaikan dan mikrofonnya segera terputus. Rapat Parlemen hanya berlangsung kurang dari tiga menit.

"Itu adalah permintaan yang sah dan saya seharusnya didengarkan," kata McGovern kepada wartawan kemudian.

"Mereka bahkan tidak akan mendengarkan saya. Ini adalah cara mereka menjalankan tempat ini," ujarnya.
(ian)
Berita Terkait
Suhu Udara di California...
Suhu Udara di California Tembus 100 Derajat Celcius
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Apa Pemicu Kehancuran...
Apa Pemicu Kehancuran Amerika Serikat?
Menhan Prabowo Bertemu...
Menhan Prabowo Bertemu Menhan Amerika Serikat
Pilpres Bagi Diaspora...
Pilpres Bagi Diaspora Indonesia di Amerika Serikat
Pilpres Amerika Serikat...
Pilpres Amerika Serikat Diwarnai Kericuhan di Washington
Berita Terkini
Meski Sedang Perang,...
Meski Sedang Perang, Trump Puji Iran karena Bebaskan Warga AS dari Penjara
34 menit yang lalu
Rusia: Serangan Drone...
Rusia: Serangan Drone Ukraina Tewaskan Kepala Insinyur Pembangkit Nuklir Terbesar Eropa
1 jam yang lalu
Iran Hancurkan Markas...
Iran Hancurkan Markas Besar Armada Ke-5 AS di Bahrain, Amerika Habisi 7 Tentara Teheran
1 jam yang lalu
AS Berambisi Caplok...
AS Berambisi Caplok 3 Pulau Terluar Iran, Bunuh Diri atau Raih Kemenangan Taktis?
3 jam yang lalu
Wakil PM Italia Sebut...
Wakil PM Italia Sebut Rusia Bukan Ancaman Utama bagi Eropa, tapi Siapa?
4 jam yang lalu
10 Negara Eropa Ini...
10 Negara Eropa Ini Bersatu Bangun Perisai Rudal Balistik, Apakah Efekif Hadapi Misil Rusia?
6 jam yang lalu
Infografis
AS Kerahkan 15.000 Prajurit...
AS Kerahkan 15.000 Prajurit dan 100 Jet Tempur Amankan Selat Hormuz
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved