Serbu Tepi Barat, Pasukan Israel Tangkap 40 Warga Palestina
Sabtu, 15 Desember 2018 - 00:05 WIB
Serbu Tepi Barat, Pasukan Israel Tangkap 40 Warga Palestina
A
A
A
RAMALLAH - Pasukan militer menyerbu wilayah Tepi Barat pada Kamis malam dan menangkap puluhan warga Palestina termasuk anggota parlemen. Militer Tel Aviv pada hari Jumat mengonfirmasi bahwa 40 orang ditangkap dan menuduh 37 di antaranya terkait dengan Hamas.
Penangkapan besar-besaran ini terjadi ketika empat warga Palestina tewas dibunuh pasukan Israel dalam operasi terpisah selama 24 jam terakhir.
Dalam operasinya, militer Israel menyatakan kota Ramallah—ibu kota Palestina saat ini—sebagai zona militer tertutup.
Penutupan kota itu diumumkan menyusul serangan penembakan dekat pemukiman ilegal Israel, Ofra, di timur Ramallah. Dua tentara Israel ditembak mati oleh seorang Palestina yang tidak dikenal.
Zona militer tertutup itu diberlakukan karena pasukan Tel Aviv masih melakukan pencarian orang-orang yang dianggap terkait penembakan tersebut di sekitar jalan masuk dan keluar kota Ramallah.
"Setelah serangan penembakan kemarin di mana 2 tentara IDF (Pasukan Pertahanan Israel) tewas dan yang lainnya terluka, IDF dan pasukan keamanan lainnya menangkap 40 tersangka yang dicari karena terlibat dalam teror. 37 dari mereka dikenal sebagai anggota Hamas. IDF akan terus menggagalkan teror dan menjaga keamanan," kata IDF dalam sebuah pernyataan di Twitter, Jumat (14/12/2018), yang dikutip SINDOnews.com.
Sementara itu, kelompok Hamas mengatakan sekitar 70 anggotanya telah ditangkap pasukan Israel sepanjang pekan ini. Pejabat Hamas yang berbicara dengan syarat anonim mengungkap jumlah tersebut. Dia berbicara dalam kondisi anonim karena takut dikenali dan ditangkap militer Israel.
Hamas, faksi yang berkuasa di Jalur Gaza, memberi penghormatan kepada pelaku yang menembak mati dua tentara Israel pada hari Kamis. Faksi itu dalam pernyataannya mengatakan bahwa penembakan itu menjadi bukti perlawanan masih hidup di Tepi Barat.
"Api perlawanan di Tepi Barat akan tetap hidup sampai pendudukan Israel dikalahkan dari keseluruhan tanah kami, dan kami mendapatkan kembali hak penuh kami," kata Hamas.
Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas, seperti dilaporkan Al Jazeera, telah mengutuk kekerasan secara menyeluruh.
Sedangkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji pada hari Kamis untuk melegalkan ribuan rumah pemukiman Yahudi di Tepi Barat yang dibangun tanpa izin pemerintah Israel. Pemukiman dianggap sebagai pelanggaran hukum internasional.
Dia juga berjanji untuk mempercepat pembongkaran rumah para penyerang Palestina, meningkatkan penahanan anggota Hamas yang sudah berada di penjara Israel dan meningkatkan jumlah pasukan Israel di Tepi Barat.
Penangkapan besar-besaran ini terjadi ketika empat warga Palestina tewas dibunuh pasukan Israel dalam operasi terpisah selama 24 jam terakhir.
Dalam operasinya, militer Israel menyatakan kota Ramallah—ibu kota Palestina saat ini—sebagai zona militer tertutup.
Penutupan kota itu diumumkan menyusul serangan penembakan dekat pemukiman ilegal Israel, Ofra, di timur Ramallah. Dua tentara Israel ditembak mati oleh seorang Palestina yang tidak dikenal.
Zona militer tertutup itu diberlakukan karena pasukan Tel Aviv masih melakukan pencarian orang-orang yang dianggap terkait penembakan tersebut di sekitar jalan masuk dan keluar kota Ramallah.
"Setelah serangan penembakan kemarin di mana 2 tentara IDF (Pasukan Pertahanan Israel) tewas dan yang lainnya terluka, IDF dan pasukan keamanan lainnya menangkap 40 tersangka yang dicari karena terlibat dalam teror. 37 dari mereka dikenal sebagai anggota Hamas. IDF akan terus menggagalkan teror dan menjaga keamanan," kata IDF dalam sebuah pernyataan di Twitter, Jumat (14/12/2018), yang dikutip SINDOnews.com.
Sementara itu, kelompok Hamas mengatakan sekitar 70 anggotanya telah ditangkap pasukan Israel sepanjang pekan ini. Pejabat Hamas yang berbicara dengan syarat anonim mengungkap jumlah tersebut. Dia berbicara dalam kondisi anonim karena takut dikenali dan ditangkap militer Israel.
Hamas, faksi yang berkuasa di Jalur Gaza, memberi penghormatan kepada pelaku yang menembak mati dua tentara Israel pada hari Kamis. Faksi itu dalam pernyataannya mengatakan bahwa penembakan itu menjadi bukti perlawanan masih hidup di Tepi Barat.
"Api perlawanan di Tepi Barat akan tetap hidup sampai pendudukan Israel dikalahkan dari keseluruhan tanah kami, dan kami mendapatkan kembali hak penuh kami," kata Hamas.
Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas, seperti dilaporkan Al Jazeera, telah mengutuk kekerasan secara menyeluruh.
Sedangkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji pada hari Kamis untuk melegalkan ribuan rumah pemukiman Yahudi di Tepi Barat yang dibangun tanpa izin pemerintah Israel. Pemukiman dianggap sebagai pelanggaran hukum internasional.
Dia juga berjanji untuk mempercepat pembongkaran rumah para penyerang Palestina, meningkatkan penahanan anggota Hamas yang sudah berada di penjara Israel dan meningkatkan jumlah pasukan Israel di Tepi Barat.
(mas)