Hacker Iran Dituding Bobol Pabrik Kapal Perang Australia

Rabu, 14 November 2018 - 02:31 WIB
Hacker Iran Dituding...
Hacker Iran Dituding Bobol Pabrik Kapal Perang Australia
A A A
CANBERRA - Para hacker atau peretas Iran ditudin bertanggung jawab atas pelanggaran keamanan siber Austal, pabrik kapal perang yang juga eksportir pertahanan terbesar Australia. Serangan siber itu sebagai upaya untuk pemerasan.

Belum diketahui apakah para peretas bekerja untuk Pemerintah Iran atau tidak.

Austal pada awal bulan ini mengungkapkan bahwa "pelaku tidak dikenal" telah meretas sistem komputernya, mengakses alamat email dan nomor telepon staf, serta gambar dan desain kapal.

Beberapa informasi itu kemudian ditawarkan untuk dijual di webiste gelap dalam upaya untuk pemerasan.

ABC.net.au, pada Selasa (13/11/2018) malam, mengungkapkan bahwa Pusat Keamanan Siber ​​Australia (ACSC) telah menentukan bahwa serangan itu kemungkinan besar dilakukan oleh peretas Iran.

Kepala ACSC, Alastair MacGibbon, menolak mengonfirmasi kewarganegaraan para peretas. Namun, dia mengatakan para peretas gagal mencuri informasi sensitif.

"Kami tidak suka siapa pun yang terlibat dalam bisnis apa pun, khususnya kontraktor pertahanan, tetapi saya dapat mengatakan bahwa tidak ada (data) keamanan nasional penting yang diambil," katanya.

MacGibbon menyamakan serangan itu dengan "ram-raid", yang menunjukkan bahwa peretas mencuri sebanyak mungkin informasi sampai mereka terdeteksi dan ditutup.

"Fakta bahwa bahan ini diletakkan di jejaring gelap untuk dijual kepada penawar tertinggi, itu adalah masalah kriminal," katanya.

Pelanggaran itu terdeteksi pada pertengahan Oktober, ketika Perdana Menteri Scott Morrison mengumumkan Australia akan meninjau kembali dukungannya untuk kesepakatan nuklir Iran.

Sementara itu, seorang juru bicara Kedutaan Besar Iran di Canberra membantah keras negaranya bertanggung jawab atas serangan siber tersebut."Iran sangat menghormati Australia," katanya.

Menurut komunitas intelijen Amerika Serikat, Iran adalah musuh dunia maya terkemuka, bersama dengan China, Rusia, dan Korea Utara.

"Rusia, Iran, dan Korea Utara sedang menguji serangan siber yang lebih agresif yang menimbulkan ancaman yang semakin besar terhadap Amerika Serikat dan mitra AS," bunyi laporan pemerintah AS tentang ancaman 2018 yang disampaikan kepada Kongres beberapa waktu lalu.
(mas)
Berita Terkait
Iran Coba Rekrut Tahanan...
Iran Coba Rekrut Tahanan Cantik Asal Australia Jadi Mata-mata
Iran Turunkan Hubungan...
Iran Turunkan Hubungan Diplomatik dengan Australia
Krisis BBM, Transportasi...
Krisis BBM, Transportasi Umum di Dua Negara Bagian Australia Digratiskan
Heboh, Australia Tiba-tiba...
Heboh, Australia Tiba-tiba Usir Dubes Iran
Australia Tampung 5...
Australia Tampung 5 Pemain Timnas Putri Iran
Israel Ingin Seret Negara...
Israel Ingin Seret Negara Tetangga Indonesia Ini dalam Perang Melawan Iran
Berita Terkini
Apa Itu Kokushobi? Cuaca...
Apa Itu Kokushobi? Cuaca Ekstrem yang Terjadi Pertama Kalinya di Jepang
13 menit yang lalu
Anggaran Perang AS Membengkak,...
Anggaran Perang AS Membengkak, Pakar Militer Ini Sebut Pentagon Kurang Transparan
53 menit yang lalu
Sistem Pertahanan Udara...
Sistem Pertahanan Udara Sudah Diaktifkan, tapi Belum Ada Serangan AS ke Teheran
2 jam yang lalu
CIA Akui Agresi AS ke...
CIA Akui Agresi AS ke Iran Gagal Total, Ini 4 Indikatornya
3 jam yang lalu
Terowongan Runtuh Akibat...
Terowongan Runtuh Akibat Ledakan Pipa Gas di India, 12 Orang Tewas
4 jam yang lalu
Presiden Zelensky Pecat...
Presiden Zelensky Pecat Panglima Militer Ukraina, Rusia Untung Besar!
4 jam yang lalu
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved