Farrakhan Peringatkan Trump Perang dengan Iran Bikin AS Tamat
Jum'at, 09 November 2018 - 14:53 WIB
Farrakhan Peringatkan Trump Perang dengan Iran Bikin AS Tamat
A
A
A
TEHERAN - Louis Farrakhan, pemimpin gerakan agama sinkretis Afrika-Amerika; Nation of Islam (NOI), memperingatkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tentang bahaya jika berperang dengan Iran. Menurutnya, perang dengan Teheran akan menyulut keterlibatan Rusia dan China yang akan membuat riwayat Amerika Serikat berakhir.
Pemimpin NOI ini sudah berada di Teheran sejak Washington memulihkan seluruh sanksi Iran yang sempat dicabut di bawah kesepakatan nuklir internasional yang bernama resmi Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) 2015. Sanksi dipulihkan setelah Trump telah menarik AS keluar dari JCPOA.
Selama berada di Teheran, Farrakhan ikut menerikkan yel-yel anti-AS seperti "Matilah Amerika". Aksinya itu telah memicu kemarahan di dalam negeri Amerika.
Pemimpin NOI itu memperingatkan Presiden Trump pada hari Kamis untuk tidak menarik "pemicu perang di Timur Tengah atas desakan Israel".
Dia mengatakan kepada wartawan di Teheran bahwa dia "memohon" Trump untuk "sangat berhati-hati".
"Perang akan memicu jenis perang lain yang akan menyeret China, Rusia, semua bangsa ke dalam perang," kata Farrakhan, seperti dikutip Fox News, Jumat (9/11/2018). "Perang akan mengakhiri Amerika seperti yang Anda tahu," katanya, yang ditujukan untuk Presiden Trump.
Lebih lanjut, Farrakhan membuat seruan publik untuk membunuh orang-orang Yahudi di Israel. Di AS, sosoknya sudah dianggap sebagai tokoh anti-Semit.
Farrakhan mengatakan kepada mahasiswa fakultas hukum di Universitas Teheran bahwa Amerika tidak pernah menjadi negara demokrasi. Di akhir pembicaraannya, dia memekikkan slogan "Matilah Israel".
Kunjungan Farrakhan bertepatan dengan peringatan ke-39 jatuhnya Kedutaan AS di Teheran dalam Revolusi Islam Iran 1979. Saat itu, lebih dari 50 diplomat Amerika dan warga sipil AS disandera selama 444 hari.
Pemimpin NOI ini sudah berada di Teheran sejak Washington memulihkan seluruh sanksi Iran yang sempat dicabut di bawah kesepakatan nuklir internasional yang bernama resmi Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) 2015. Sanksi dipulihkan setelah Trump telah menarik AS keluar dari JCPOA.
Selama berada di Teheran, Farrakhan ikut menerikkan yel-yel anti-AS seperti "Matilah Amerika". Aksinya itu telah memicu kemarahan di dalam negeri Amerika.
Pemimpin NOI itu memperingatkan Presiden Trump pada hari Kamis untuk tidak menarik "pemicu perang di Timur Tengah atas desakan Israel".
Dia mengatakan kepada wartawan di Teheran bahwa dia "memohon" Trump untuk "sangat berhati-hati".
"Perang akan memicu jenis perang lain yang akan menyeret China, Rusia, semua bangsa ke dalam perang," kata Farrakhan, seperti dikutip Fox News, Jumat (9/11/2018). "Perang akan mengakhiri Amerika seperti yang Anda tahu," katanya, yang ditujukan untuk Presiden Trump.
Lebih lanjut, Farrakhan membuat seruan publik untuk membunuh orang-orang Yahudi di Israel. Di AS, sosoknya sudah dianggap sebagai tokoh anti-Semit.
Farrakhan mengatakan kepada mahasiswa fakultas hukum di Universitas Teheran bahwa Amerika tidak pernah menjadi negara demokrasi. Di akhir pembicaraannya, dia memekikkan slogan "Matilah Israel".
Kunjungan Farrakhan bertepatan dengan peringatan ke-39 jatuhnya Kedutaan AS di Teheran dalam Revolusi Islam Iran 1979. Saat itu, lebih dari 50 diplomat Amerika dan warga sipil AS disandera selama 444 hari.
(mas)