Presiden Tayyip Erdogan Resmikan Masjid Terbesar di Jerman

Senin, 01 Oktober 2018 - 09:34 WIB
Presiden Tayyip Erdogan...
Presiden Tayyip Erdogan Resmikan Masjid Terbesar di Jerman
A A A
COLOGNE - Presiden Turki Tayyip Erdogan meresmikan pembukaan masjid terbesar di Jerman. Masjid yang berada di Cologne itu diresmikan di tengah unjuk rasa yang digelar pada pendukung dan penentang Erdogan pada Sabtu (29/9) waktu setempat.

Sejumlah penembak jitu kepolisian dikerahkan di atap-atap gedung dan wilayah yang ditutup setelah otoritas kota membatalkan rencana lebih dari 25.000 berkumpul di luar masjid yang dibangun organisasi relijius yang dekat dengan negara Turki.

Jerman telah mengundang Erdogan dalam tiga hari kunjungan untuk memperkuat hubungan yang memburuk setelah upaya kudeta yang gagal pada 2016. Jerman juga berupaya membebaskan beberapa warganya yang masih ditahan di Turki.

Kanselir Jerman Angela Merkel menyatakan setelah bertemu Erdogan pada Jumat (28/9) bahwa perbedaan masih ada. Saat berada di Cologne, Erdogan menunjukkan nada positif.

“Dalam periode kritis, kita membuat kunjungan ke Jerman yang sukses dan membuahkan hasil. Saya tekankan bahwa kita perlu mengesampingkan perbedaan dan fokus pada kepentingan bersama kita,” papar Erdogan saat pembukaan Masjid Sentral tersebut, dikutip kantor berita Reuters.

Erdogan juga meminta Jerman untuk membersihkan separatis Kurdi. Dia juga mengeluhkan bahwa bintang sepakbola Mesut Ozil dikeluarkan dari tim nasional Jerman setelah World Cup di Jerman karena keturunan Turki. “Rasisme ini harus berakhir,” tegas Erdogan.

Saat perjamuan dengan Presiden Jerman Frank Walter Steinmeier pada Jumat (28/9) malam, Erdogan tidak membaca naskah pidato yang telah disiapkan, dia pun menuduh Jerman menampung para teroris.

Aliansi Merkel menyatakan kunjungan Erdogan itu terlalu dini dan menolak pemberian bantuan ekonomi baru apapun pada Turki. Saat ini Turki mengalami pelemahan nilai mata uang setelah mendapat sanksi perdagangan oleh Amerika Serikat (AS).

“Masa kunjungan ini salah. Ini masih terlalu dini. Hubungan Turki-Jerman tidak lebih baik atau mudah setelah kunjungan ini,” ujar Norbert Roettgen, ketua komite urusan luar negeri parlemen Jerman pada grup surat kabar Funke.

Di Cologne yang menjadi kawasan terbesar yang dihuni 3 juta komunitas Turki di Jerman, tampak beberapa ratus pendukung Erdogan mengibarkan bendera dan mengenakan pakaian warna bendera nasional Turki merah dan putih. “Ini kehormatan besar bagi kami,” kata pendukung Erdogan, Ali Tas, tentang kunjungan presiden Turki itu.

Sebanyak 1.000 demonstran, termasuk para aktivis sayap kiri Jerman berkumpul di sisi berlawasan di Sungai Rhine setelah ditolak izinnya berpawai ke pusat kota.

Kepala menteri regional Armin Laschet tidak menghadiri pembukaan masjid tersebut dengan alasan memisahkan antara negara dan agama. Pemimpin sipil lain mengeluhkan mereka tidak diundang ke acara tersebut. Erdogan dan Laschet bertemu sebelumnya di bandara Cologne.

Selama kunjungan, Erdogan ingin Turki mendapat akses lebih mudah ke Uni Eropa (UE) bagi warganegaranya. Turki akan berupaya memenuhi kriteria UE untuk mendapat status bebas visa.

Erdogan juga ingin menarik lebih banyak investasi dari Jerman. “Pembebasan visa, memperbarui serikat pabean dan memperbarui pembicaraan akses akan menguntungkan bagi Turki dan UE,” kata dia.

Merkel menyatakan dia mendorong pembebasan beberapa warga Jerman yang masih ditahan setelah kudeta yang gagal di Turki. “Kami menganggap serius bukti yang dimiliki Turki,” ujar Merkel yang menjelaskan, Jerman perlu lebih banyak bukti untuk mendeklarasikan gerakan ulama Fetullah Gulen sebagai kelompok ilegal seperti permintaan Turki.

Turki menganggap Gulen sebagai dalang kudeta yang gagal. Tuduhan itu disangkal oleh Gulen yang kini tinggal di Amerika Serikat (AS).

Surat kabar Bild melaporkan, Erdogan telah siap membatalkan konferensi pers jika dihadiri Can Dunhar, jurnalis yang lari dari Turki ke Jerman setelah mendapat tuduhan menjadi mata-mata.

Dunhar tidak menghadiri konferensi pers itu dengan alasan agar Erdogan tidak memiliki alasan menghindari konferensi pers dan mendapat berbagai pertanyaan kritis dari para jurnalis di Jerman.
(don)
Berita Terkait
Jerman dan Yunani Peringatkan...
Jerman dan Yunani Peringatkan Turki tentang Pengeboran di Mediterania
Jurnalis Turki Divonis...
Jurnalis Turki Divonis 27 Tahun Penjara dalam Kasus Spionase
Situasi Keamanan Memburuk,...
Situasi Keamanan Memburuk, Austria dan Jerman Tunda Operasi Penyelamatan di Turki
Jerman pada Turki: Hentikan...
Jerman pada Turki: Hentikan Tindakan Provokasi di Mediterania Timur
Yunani-Turki Bersitegang,...
Yunani-Turki Bersitegang, Menlu Jerman: Sebuah Percikan Bisa Picu Bencana
Turki Tuduh Barat Kobarkan...
Turki Tuduh Barat Kobarkan Perang Psikologis
Berita Terkini
Militer AS Bangun Pangkalan...
Militer AS Bangun Pangkalan Baru di Dekat Perbatasan Gaza untuk Dukung Rencana Pasca-Perang
23 menit yang lalu
Trump Puji Unggahan...
Trump Puji Unggahan Menlu Iran tentang Kemungkinan Kesepakatan AS-Iran Sangat Positif
1 jam yang lalu
Menlu Iran Ungkap MoU...
Menlu Iran Ungkap MoU dengan AS Mencakup Lebanon dan Blokade Paman Sam
2 jam yang lalu
Trump Marah, Tuding...
Trump Marah, Tuding Iran Bocorkan Detail Kesepakatan Damai
10 jam yang lalu
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
12 jam yang lalu
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
13 jam yang lalu
Infografis
10 Wonderkid Calon Bintang...
10 Wonderkid Calon Bintang di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved