Swedia Gelar Pemilu, Kubu Anti-imigrasi Menguat
Senin, 10 September 2018 - 13:00 WIB
Swedia Gelar Pemilu, Kubu Anti-imigrasi Menguat
A
A
A
STOCKHOLM - Swedia mulai menggelar pemilu di tengah kekhawatiran publik tentang kesejahteraan dan para pencari suaka, kemarin. Partai Demokrat Swedia yang anti-imigrasi diperkirakan menjadi partai terbesar di negara yang sejak lama menjadi basis stabilitas ekonomi dan nilai-nilai liberal di Eropa itu.
Partai-partai sayap kanan jauh mendapat banyak dukungan di Eropa dalam beberapa tahun terakhir, setelah krisis pengungsi yang dipicu perang sipil di Suriah dan konflik di Afghanistan serta negara-negara Afrika.
Di Swedia, ada 163.000 pencari suaka pada 2015 hingga itu memecah para pemilih. Kondisi tersebut membuat Partai Demokrat Swedia yang berakar pada neo-Nazi itu bisa memiliki veto atas partai-partai lain untuk membentuk pemerintahan baru mendatang.
“Partai-partai tradisional gagal merespons ketidakpuasan publik. Ketidakpuasan itu mungkin tidak secara langsung terkait pada pengangguran atau ekonomi, tapi hanya hilangnya kepercayaan pada sistem politik. Swedia tidak sendiri dalam hal ini,” kata Magnus Blomgren, pakar sosial di Universitas Umea dikutip kantor berita Reuters.
Kubu kiri-tengah yang menyatukan Partai Demokrat Sosial, Partai Hijau, dan Partai Kiri, di dukung 40% pemilih, berdasarkan sejumlah survei dengan keunggulan tipis terhadap kubu Aliansi sayap kanantengah.
Partai Demokrat Swedia yang ingin negara itu keluar dari Uni Eropa (UE) dan membekukan imigrasi mendapat dukungan sekitar 17% menurut proyeksi. Jumlah itu naik dari 13% pada pemilu 2014.
Meski demikian, dukungan publik terhadap mereka sering di remehkan pada pemilu sebelumnya. Beberapa survei online menyatakan Partai Demokrat Swedia dapat meraih hingga 25% suara. Itu artinya, Demokrat Swedia bisa menjadi partai terbesar menggeser Demokrat Sosial untuk pertama kali dalam satu abad.
Dominasi Demokrat Swedia bisa melemahkan mata uang crown dalam jangka pendek namun para pengamat tidak melihat ada dampak jangka panjang pada pasar dari pemilu itu.
Alasannya, pertumbuhan ekonomi kuat, pemerintah dapat mengendalikan bursa saham dan ada kesepatatan luas tentang kepercayaan pada kebijakan ekonomi. Warga Swedia pernah tertarik dengan populisme sebelumnya.
Partai Demokrat Baru yang didirikan aristokrat dan produsen rekaman meraih hampir 7% pada pemilu 1991 dengan janji memperketat kebijakan imigrasi, menurunkan harga minuman alkohol, dan parkir gratis.
Namun, Demokrat Baru terpental dari parlemen tiga tahun kemudian. Jika Demokrat Swedia menang seperempat suara, partai itu akan menjadi sensasi di negara yang pada 2014 menyebut dirinya sebagai superpower kemanusiaan.
Saat itu, klaim tersebut diungkapkan Perdana Menteri Fredrik Reinfeldt dari Partai Moderat. Demokrat Swedia juga bisa menjadi partai populis terbesar di kawasan Nordik mengalahkan Partai Rakyat di Denmark yang meraih 21% pada 2015 dan Partai Alternatif di Jerman yang mendapat 12,6% suara.
Dengan perhatian publik mengarah ke pemilu Parlemen Eropa tahun depan, para pembuat kebijakan di Brussels mengamati hasil pemilu Swedia ini dengan cemas. Mereka khawatir negara yang dianggap sebagai salah satu kekuatan demokrasi itu memperkuat suara euro skeptisme di Uni Eropa (UE).
Swedia menampung lebih banyak pencari suaka perkapita di bandingkan negara lain di Eropa pada 2015 sehingga memicu kekhawatiran tentang sistem kesejahteraan yang menurut banyak pemilih telah mengalami krisis.
Semakin panjangnya antrean untuk layanan kesehatan operasi bedah kritis, keterbatasan dokter dan guru serta kepolisian yang gagal mengatasi kekerasan geng dalam kota telah mengguncang kepercayaan publik pada konsep “model Swedia”, janji tentang kesejahteraan komprehensif dan inklusi sosial.
Ketua Demokrat Swedia Jimmie Akesson menyebut pemilu itu sebagai pilihan antara imi grasi dan kesejahteraan. Dia juga berjanji mengganti pemerintahan yang menolak ide partainya tentang imigrasi.
Para politisi arus utama sejauh ini menolak Akesson, tapi ada kerja sama antara partai di kubu kiri tengah dan kanan tengah untuk mengatasi kebuntuan politik. Para pengamat menduga Akesson belum memiliki pengaruh kuat dalam kebijakan imigrasi. Dengan berbagai kompromi yang harus dilakukan, pembentukan pemerintahan baru dapat membutuhkan waktu beberapa pekan.
Partai-partai sayap kanan jauh mendapat banyak dukungan di Eropa dalam beberapa tahun terakhir, setelah krisis pengungsi yang dipicu perang sipil di Suriah dan konflik di Afghanistan serta negara-negara Afrika.
Di Swedia, ada 163.000 pencari suaka pada 2015 hingga itu memecah para pemilih. Kondisi tersebut membuat Partai Demokrat Swedia yang berakar pada neo-Nazi itu bisa memiliki veto atas partai-partai lain untuk membentuk pemerintahan baru mendatang.
“Partai-partai tradisional gagal merespons ketidakpuasan publik. Ketidakpuasan itu mungkin tidak secara langsung terkait pada pengangguran atau ekonomi, tapi hanya hilangnya kepercayaan pada sistem politik. Swedia tidak sendiri dalam hal ini,” kata Magnus Blomgren, pakar sosial di Universitas Umea dikutip kantor berita Reuters.
Kubu kiri-tengah yang menyatukan Partai Demokrat Sosial, Partai Hijau, dan Partai Kiri, di dukung 40% pemilih, berdasarkan sejumlah survei dengan keunggulan tipis terhadap kubu Aliansi sayap kanantengah.
Partai Demokrat Swedia yang ingin negara itu keluar dari Uni Eropa (UE) dan membekukan imigrasi mendapat dukungan sekitar 17% menurut proyeksi. Jumlah itu naik dari 13% pada pemilu 2014.
Meski demikian, dukungan publik terhadap mereka sering di remehkan pada pemilu sebelumnya. Beberapa survei online menyatakan Partai Demokrat Swedia dapat meraih hingga 25% suara. Itu artinya, Demokrat Swedia bisa menjadi partai terbesar menggeser Demokrat Sosial untuk pertama kali dalam satu abad.
Dominasi Demokrat Swedia bisa melemahkan mata uang crown dalam jangka pendek namun para pengamat tidak melihat ada dampak jangka panjang pada pasar dari pemilu itu.
Alasannya, pertumbuhan ekonomi kuat, pemerintah dapat mengendalikan bursa saham dan ada kesepatatan luas tentang kepercayaan pada kebijakan ekonomi. Warga Swedia pernah tertarik dengan populisme sebelumnya.
Partai Demokrat Baru yang didirikan aristokrat dan produsen rekaman meraih hampir 7% pada pemilu 1991 dengan janji memperketat kebijakan imigrasi, menurunkan harga minuman alkohol, dan parkir gratis.
Namun, Demokrat Baru terpental dari parlemen tiga tahun kemudian. Jika Demokrat Swedia menang seperempat suara, partai itu akan menjadi sensasi di negara yang pada 2014 menyebut dirinya sebagai superpower kemanusiaan.
Saat itu, klaim tersebut diungkapkan Perdana Menteri Fredrik Reinfeldt dari Partai Moderat. Demokrat Swedia juga bisa menjadi partai populis terbesar di kawasan Nordik mengalahkan Partai Rakyat di Denmark yang meraih 21% pada 2015 dan Partai Alternatif di Jerman yang mendapat 12,6% suara.
Dengan perhatian publik mengarah ke pemilu Parlemen Eropa tahun depan, para pembuat kebijakan di Brussels mengamati hasil pemilu Swedia ini dengan cemas. Mereka khawatir negara yang dianggap sebagai salah satu kekuatan demokrasi itu memperkuat suara euro skeptisme di Uni Eropa (UE).
Swedia menampung lebih banyak pencari suaka perkapita di bandingkan negara lain di Eropa pada 2015 sehingga memicu kekhawatiran tentang sistem kesejahteraan yang menurut banyak pemilih telah mengalami krisis.
Semakin panjangnya antrean untuk layanan kesehatan operasi bedah kritis, keterbatasan dokter dan guru serta kepolisian yang gagal mengatasi kekerasan geng dalam kota telah mengguncang kepercayaan publik pada konsep “model Swedia”, janji tentang kesejahteraan komprehensif dan inklusi sosial.
Ketua Demokrat Swedia Jimmie Akesson menyebut pemilu itu sebagai pilihan antara imi grasi dan kesejahteraan. Dia juga berjanji mengganti pemerintahan yang menolak ide partainya tentang imigrasi.
Para politisi arus utama sejauh ini menolak Akesson, tapi ada kerja sama antara partai di kubu kiri tengah dan kanan tengah untuk mengatasi kebuntuan politik. Para pengamat menduga Akesson belum memiliki pengaruh kuat dalam kebijakan imigrasi. Dengan berbagai kompromi yang harus dilakukan, pembentukan pemerintahan baru dapat membutuhkan waktu beberapa pekan.
(don)