Duterte Cabut Amnesti dan Perintahkan Penangkapan Senator Oposisi
Selasa, 04 September 2018 - 13:22 WIB
Duterte Cabut Amnesti dan Perintahkan Penangkapan Senator Oposisi
A
A
A
MANILA - Presiden Filipina Rodrigo Duterte mencabut amnesti yang diberikan kepada seorang senator oposisi yang terlibat dalam kudeta yang gagal 15 tahun lalu dan memerintahkan penangkapannya. Ini akan menjadi penahanan kedua seorang senator yang kritis terhadap presiden.
Senator Antonio Trillanes adalah senator oposisi yang paling vokal terhadap Duterte. Ia telah berulang kali menuduh Duterte menyembunyikan aset. Ia juga mendukung pengaduan yang diajukan ke Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) yang menuduh Duterte melakukan dugaan pembunuhan terhadap ribuan penjahat dan pengedar narkoba.
Sebuah perintah eksekutif yang dicetak di surat kabar pro-Duterte, Manila Times, mengatakan amnesti yang diberikan pada tahun 2010 kepada mantan prajurit militer itu dibatalkan karena dia tidak memenuhi persyaratan minimum untuk menerimanya, termasuk mengakui kesalahannya.
Perintah itu menginstruksikan departemen kehakiman dan angkatan bersenjata untuk mengejar kasus-kasus pidana dan administratif Trillanes, sementara polisi dan militer diperintahkan untuk menangkapnya dan menempatkannya dalam tahanan untuk diadili.
Menanggapi hal itu, Trillanes menyebutnya sebagai perintah eksekutif yang bodoh. Ia mengatakan tidak akan menahan diri dari penangkapan atau mencoba melarikan diri.
"Ini adalah kasus penganiayaan politik yang jelas," katanya kepada wartawan di Senat seperti dikutip dari Reuters, Selasa (4/9/2018).
Jika Trillanes ditangkap, dia akan menjadi anggota kedua dari Senat 24-kursi yang akan ditahan di bawah Duterte. Ia bergabung dengan Leila de Lima, mantan menteri kehakiman yang ditahan selama 18 bulan setelah dituduh memfasilitasi kesepakatan narkoba di penjara nasional.
Keduanya bersikap kritis terhadap Duterte dan perangnya terhadap narkoba. Mereka juga memimpin penyelidikan Senat atas peran Duterte dalam dugaan eksekusi para penjahat oleh polisi, baik ketika sebagai presiden dan ketika menjadi walikota Davao City selatan. Duterte menyangkal melakukan kesalahan.
ICC pada bulan Februari memulai pemeriksaan awal pengaduan terhadap Duterte, yang menuduhnya melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Duterte saat ini sedang melakukan kunjungan resmi ke Israel dan juru bicaranya direncanakan akan melakukan jumpa pers singkat di sana.
Trillanes diberikan amnesti oleh mantan Presiden Benigno Aquino karena terlibat dalam kudeta dan pemberontakan 2003 yang gagal pada 2007.
Kedua insiden itu menentang Presiden Gloria Macapagal Arroyo, sekutu Duterte yang pada Juli menjadi pembicara di majelis rendah.
"Insiden ini, harus jelas bagi semua orang bahwa Duterte adalah seorang diktator," kata Trillanes.
“Dia tidak menghormati institusi. Itulah mengapa kami seperti ini: orang biasa terbunuh dan kritikus dipenjara,” imbuhnya.
Ditanya tentang penangkapan Trillanes, juru bicara polisi Benigno Durana mengatakan setiap perintah yang diberikan oleh otoritas peradilan akan dipenuhi.
Senator Antonio Trillanes adalah senator oposisi yang paling vokal terhadap Duterte. Ia telah berulang kali menuduh Duterte menyembunyikan aset. Ia juga mendukung pengaduan yang diajukan ke Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) yang menuduh Duterte melakukan dugaan pembunuhan terhadap ribuan penjahat dan pengedar narkoba.
Sebuah perintah eksekutif yang dicetak di surat kabar pro-Duterte, Manila Times, mengatakan amnesti yang diberikan pada tahun 2010 kepada mantan prajurit militer itu dibatalkan karena dia tidak memenuhi persyaratan minimum untuk menerimanya, termasuk mengakui kesalahannya.
Perintah itu menginstruksikan departemen kehakiman dan angkatan bersenjata untuk mengejar kasus-kasus pidana dan administratif Trillanes, sementara polisi dan militer diperintahkan untuk menangkapnya dan menempatkannya dalam tahanan untuk diadili.
Menanggapi hal itu, Trillanes menyebutnya sebagai perintah eksekutif yang bodoh. Ia mengatakan tidak akan menahan diri dari penangkapan atau mencoba melarikan diri.
"Ini adalah kasus penganiayaan politik yang jelas," katanya kepada wartawan di Senat seperti dikutip dari Reuters, Selasa (4/9/2018).
Jika Trillanes ditangkap, dia akan menjadi anggota kedua dari Senat 24-kursi yang akan ditahan di bawah Duterte. Ia bergabung dengan Leila de Lima, mantan menteri kehakiman yang ditahan selama 18 bulan setelah dituduh memfasilitasi kesepakatan narkoba di penjara nasional.
Keduanya bersikap kritis terhadap Duterte dan perangnya terhadap narkoba. Mereka juga memimpin penyelidikan Senat atas peran Duterte dalam dugaan eksekusi para penjahat oleh polisi, baik ketika sebagai presiden dan ketika menjadi walikota Davao City selatan. Duterte menyangkal melakukan kesalahan.
ICC pada bulan Februari memulai pemeriksaan awal pengaduan terhadap Duterte, yang menuduhnya melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Duterte saat ini sedang melakukan kunjungan resmi ke Israel dan juru bicaranya direncanakan akan melakukan jumpa pers singkat di sana.
Trillanes diberikan amnesti oleh mantan Presiden Benigno Aquino karena terlibat dalam kudeta dan pemberontakan 2003 yang gagal pada 2007.
Kedua insiden itu menentang Presiden Gloria Macapagal Arroyo, sekutu Duterte yang pada Juli menjadi pembicara di majelis rendah.
"Insiden ini, harus jelas bagi semua orang bahwa Duterte adalah seorang diktator," kata Trillanes.
“Dia tidak menghormati institusi. Itulah mengapa kami seperti ini: orang biasa terbunuh dan kritikus dipenjara,” imbuhnya.
Ditanya tentang penangkapan Trillanes, juru bicara polisi Benigno Durana mengatakan setiap perintah yang diberikan oleh otoritas peradilan akan dipenuhi.
(ian)