Khamenei: Perang Tak Mungkin, tapi Militer Iran Harus Waspada
Senin, 03 September 2018 - 09:26 WIB
Khamenei: Perang Tak Mungkin, tapi Militer Iran Harus Waspada
A
A
A
TEHERAN - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan perang tidak mungkin akan terjadi. Namun, dia meminta militer Iran untuk meningkatkan kapasitas pertahanannya.
Komentar Khamenei pada hari Minggu yang dilansir di situs resminya itu muncul di saat Republik Islam Iran sedang bersitegang dengan Amerika Serikat (AS).
Pada hari Sabtu, Iran mengumumkan rencananya untuk meningkatkan kapasitas rudal balistik dan kapal militernya. Teheran juga mengklaim sudah memperoleh pesawat tempur modern dan kapal selam untuk meningkatkan pertahanannya menyusul penarikan AS dari perjanjian nuklir 2015 yang diteken Teheran dengan enam kekuatan dunia (AS, Rusia, Inggris, Prancis, Jerman dan China).
"Ayatollah Khamenei menekankan bahwa berdasarkan perhitungan politik tidak ada kemungkinan perang militer, tetapi (dia) menambahkan bahwa angkatan bersenjata harus waspada...dan meningkatkan kapasitas personel dan peralatan mereka," bunyi keterangan pers di situs Khamenei, yang dikutip Senin (3/9/2018).
"Pemimpin Tertinggi mengatakan unit pertahanan udara adalah bagian yang sangat sensitif dari pasukan bersenjata dan berada di garis depan dalam menghadapi musuh, dan menekankan perlunya meningkatkan kesiapan dan kemampuan mereka," lanjut keterangan tersebut mengutip pernyataan Khamenei dalam sebuah pertemuan yang diadakan untuk menandai Hari Angkatan Udara Iran.
Pengumuman rencana Iran untuk mengembangkan kekuatan militernya itu muncul sehari setelah Teheran menolak seruan Prancis untuk perundingan nuklir masa depan Teheran, persenjataan rudal balistik dan perannya dalam perang di Suriah dan Yaman.
Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan pada bulan lalu bahwa kekuatan militer Republik Islam Iran adalah benteng untuk menghalangi Washington jika menyerang Teheran.
Secara terpisah, seorang diplomat senior Iran bertemu dengan Menteri Luar Negeri Junior Inggris Alistair Burt dan mendesak tindakan cepat Eropa soal paket ekonomi yang direncanakan untuk mengimbangi hengkangnya AS dari kesepakatan nuklir Iran 2015 dan reimposisi sanksi yang telah diberlakukan oleh Washington.
"Pengenaan sanksi dan tekanan (AS) serta kurangnya tindakan cepat oleh Eropa untuk memenuhi komitmen mereka akan memiliki konsekuensi serius," kata Kamal Kharrazi, mantan menteri luar negeri yang mengepalai dewan kebijakan luar negeri Iran, kepada Burt, seperti dirilis kantor berita IRNA.
Komentar Khamenei pada hari Minggu yang dilansir di situs resminya itu muncul di saat Republik Islam Iran sedang bersitegang dengan Amerika Serikat (AS).
Pada hari Sabtu, Iran mengumumkan rencananya untuk meningkatkan kapasitas rudal balistik dan kapal militernya. Teheran juga mengklaim sudah memperoleh pesawat tempur modern dan kapal selam untuk meningkatkan pertahanannya menyusul penarikan AS dari perjanjian nuklir 2015 yang diteken Teheran dengan enam kekuatan dunia (AS, Rusia, Inggris, Prancis, Jerman dan China).
"Ayatollah Khamenei menekankan bahwa berdasarkan perhitungan politik tidak ada kemungkinan perang militer, tetapi (dia) menambahkan bahwa angkatan bersenjata harus waspada...dan meningkatkan kapasitas personel dan peralatan mereka," bunyi keterangan pers di situs Khamenei, yang dikutip Senin (3/9/2018).
"Pemimpin Tertinggi mengatakan unit pertahanan udara adalah bagian yang sangat sensitif dari pasukan bersenjata dan berada di garis depan dalam menghadapi musuh, dan menekankan perlunya meningkatkan kesiapan dan kemampuan mereka," lanjut keterangan tersebut mengutip pernyataan Khamenei dalam sebuah pertemuan yang diadakan untuk menandai Hari Angkatan Udara Iran.
Pengumuman rencana Iran untuk mengembangkan kekuatan militernya itu muncul sehari setelah Teheran menolak seruan Prancis untuk perundingan nuklir masa depan Teheran, persenjataan rudal balistik dan perannya dalam perang di Suriah dan Yaman.
Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan pada bulan lalu bahwa kekuatan militer Republik Islam Iran adalah benteng untuk menghalangi Washington jika menyerang Teheran.
Secara terpisah, seorang diplomat senior Iran bertemu dengan Menteri Luar Negeri Junior Inggris Alistair Burt dan mendesak tindakan cepat Eropa soal paket ekonomi yang direncanakan untuk mengimbangi hengkangnya AS dari kesepakatan nuklir Iran 2015 dan reimposisi sanksi yang telah diberlakukan oleh Washington.
"Pengenaan sanksi dan tekanan (AS) serta kurangnya tindakan cepat oleh Eropa untuk memenuhi komitmen mereka akan memiliki konsekuensi serius," kata Kamal Kharrazi, mantan menteri luar negeri yang mengepalai dewan kebijakan luar negeri Iran, kepada Burt, seperti dirilis kantor berita IRNA.
(mas)