Pelatih Tim Bola Anak Thailand yang Terjebak di Gua Minta Maaf
Sabtu, 07 Juli 2018 - 14:14 WIB
Pelatih Tim Bola Anak Thailand yang Terjebak di Gua Minta Maaf
A
A
A
CHIANG RAI - Tim sepak bola junior Thailand yang terdiri dari 12 anak remaja masih terjebak di dalam gua Tham Luang yang kebanjiran. Pelatih tim, Ekka Chantawong, 25, yang ikut terjebak di dalam gua meminta maaf kepada para orang tua dari anak-anak tersebut.
Ekkapol menyampaikan permintaan maaf dalam sebuah catatan yang dipublikasikan oleh Angkatan Laut Thailand di halaman Facebook-nya, pada hari Sabtu (7/7/2018). Mereka terjebak di gua itu sejak 23 Juni ketika berwisata.
"Kepada semua orang tua, semua anak-anak masih baik-baik saja. Saya berjanji untuk merawat anak-anak dengan sangat baik," tulis Ekkapol. "Terima kasih atas semua dukungan moral dan saya mohon maaf kepada orang tua."
Beberapa netizen telah memuji pelatih itu setelah muncul laporan bahwa dia memberikan bagian makanannya kepada anak-anak. Namun, ada juga yang mengkritiknya karena setuju untuk membawa anak-anak ke dalam gua selama musim hujan.
Salah satu catatan pesan dari tim bola anak Thailand yang terjebak di gua. Foto/Facebook
Insiden itu telah menjadi sorotan media-media internasional setelah beberapa negara, seperti Amerika Serikat (AS), China, Inggris dan Australia menawarkan bantuan penyelamatan.
Penyelamatan belasan anak itu sangat sulit, karena jalur utama untuk keluar dari gua masih tertutup banjir yang tinggi. Mereka masih bertahan di sebuah gundukan tanah di dalam gua yang tidak terendam banjir.
Sekadar diketahui, mereka terjebak di dalam gua sejauh sekitar 6 kilometer dari pintu gua. Butuh oksigen banyak dan ketahanan untuk berenang jika ingin keluar dari banjir tersebut. Belasan anak dan pelatihnya masih bertahan hidup dengan sisa-sisa makanan yang ada.
Media lokal melaporkan ada dua cara untuk mengeluarkan anak-anak. Yakni menyelam melalui rute sepanjang enam kilometer (3,7 mil) atau dengan mengangkatnya mereka melalui langit-langit gua.
Opsi mengebor untuk mengeluarkan anak-anak melalui langit-langit gua dilaporkan telah dikesampingkan karena pertimbangan teknis. Tim penyelamat berupaya dengan cepat mengajar anak-anak berenang dan menggunakan peralatan selam.
Belasan anak yang terjebak itu berusia 11 hingga 16 tahun. Selain stok makanan, krisis oksigen juga sangat mengkhawatirkan.
Lebih dari 1.000 personel militer Thailand, tim penyelamat dan sukarelawan dari Thailand dan negara lain telah berpartisipasi dalam operasi untuk menemukan belasan anak itu. Setelah ditemukan, evakuasi menjadi masalah baru yang hingga kini belum terpecahkan.
Alih-alih membuahkan hasil, operasi penyelamatan justru telah memakan korban jiwa. Seorang mantan Navy SEAL Thailand bernama Saman Anan tewas ketika mencoba melakukan evakuasi. Mantan pasukan elite Angkatan Laut Thailand itu tewas setelah kehabisan oksigen. Publik Thailand menghormati pengorbanannya dan menganggapnya sebagai "pahlawan".
Selain permintaan maaf dari pelatih tim sepak bola, catatan yang dipublikasikan Angkatan Laut Thailand juga berisi ungkapan anak-anak yang terjebak."Saya ingin makan daging babi goreng," tulis salah seorang anak yang terjebak di gua.
"Jangan khawatir, semua orang kuat. Ketika kami keluar dari sini, kami ingin makan banyak. Kami ingin pulang sesegera mungkin," lanjut pesan anak-anak, yang dikutip ABC.
Ekkapol menyampaikan permintaan maaf dalam sebuah catatan yang dipublikasikan oleh Angkatan Laut Thailand di halaman Facebook-nya, pada hari Sabtu (7/7/2018). Mereka terjebak di gua itu sejak 23 Juni ketika berwisata.
"Kepada semua orang tua, semua anak-anak masih baik-baik saja. Saya berjanji untuk merawat anak-anak dengan sangat baik," tulis Ekkapol. "Terima kasih atas semua dukungan moral dan saya mohon maaf kepada orang tua."
Beberapa netizen telah memuji pelatih itu setelah muncul laporan bahwa dia memberikan bagian makanannya kepada anak-anak. Namun, ada juga yang mengkritiknya karena setuju untuk membawa anak-anak ke dalam gua selama musim hujan.

Insiden itu telah menjadi sorotan media-media internasional setelah beberapa negara, seperti Amerika Serikat (AS), China, Inggris dan Australia menawarkan bantuan penyelamatan.
Penyelamatan belasan anak itu sangat sulit, karena jalur utama untuk keluar dari gua masih tertutup banjir yang tinggi. Mereka masih bertahan di sebuah gundukan tanah di dalam gua yang tidak terendam banjir.
Sekadar diketahui, mereka terjebak di dalam gua sejauh sekitar 6 kilometer dari pintu gua. Butuh oksigen banyak dan ketahanan untuk berenang jika ingin keluar dari banjir tersebut. Belasan anak dan pelatihnya masih bertahan hidup dengan sisa-sisa makanan yang ada.
Media lokal melaporkan ada dua cara untuk mengeluarkan anak-anak. Yakni menyelam melalui rute sepanjang enam kilometer (3,7 mil) atau dengan mengangkatnya mereka melalui langit-langit gua.
Opsi mengebor untuk mengeluarkan anak-anak melalui langit-langit gua dilaporkan telah dikesampingkan karena pertimbangan teknis. Tim penyelamat berupaya dengan cepat mengajar anak-anak berenang dan menggunakan peralatan selam.
Belasan anak yang terjebak itu berusia 11 hingga 16 tahun. Selain stok makanan, krisis oksigen juga sangat mengkhawatirkan.
Lebih dari 1.000 personel militer Thailand, tim penyelamat dan sukarelawan dari Thailand dan negara lain telah berpartisipasi dalam operasi untuk menemukan belasan anak itu. Setelah ditemukan, evakuasi menjadi masalah baru yang hingga kini belum terpecahkan.
Alih-alih membuahkan hasil, operasi penyelamatan justru telah memakan korban jiwa. Seorang mantan Navy SEAL Thailand bernama Saman Anan tewas ketika mencoba melakukan evakuasi. Mantan pasukan elite Angkatan Laut Thailand itu tewas setelah kehabisan oksigen. Publik Thailand menghormati pengorbanannya dan menganggapnya sebagai "pahlawan".
Selain permintaan maaf dari pelatih tim sepak bola, catatan yang dipublikasikan Angkatan Laut Thailand juga berisi ungkapan anak-anak yang terjebak."Saya ingin makan daging babi goreng," tulis salah seorang anak yang terjebak di gua.
"Jangan khawatir, semua orang kuat. Ketika kami keluar dari sini, kami ingin makan banyak. Kami ingin pulang sesegera mungkin," lanjut pesan anak-anak, yang dikutip ABC.
(mas)