China Sebut Myanmar Siap Menerima Kembali Rohingya

Jum'at, 29 Juni 2018 - 16:11 WIB
China Sebut Myanmar...
China Sebut Myanmar Siap Menerima Kembali Rohingya
A A A
BEIJING - China percaya bahwa Myanmar sekarang siap untuk menerima kembali ratusan ribu Muslim Rohingya yang mengungsi ke Bangladesh. Mereka menyeberang ke Bangladesh untuk menyelamatkan diri dari aksi kekerasan di Myanmar.

Anggota Dewan Negara China Wang Yi mengatakan bahwa pada hari Kamis dia bertemu menteri Kantor Konseling Negara Myanmar Kyaw Tint Swe di Beijing, dan mendengar laporan darinya tentang bagaimana Myanmar berusaha menyelesaikan masalah repatriasi.

"Saya sangat merasa bahwa pihak Myanmar telah siap untuk menerima orang-orang yang telah memasuki Bangladesh untuk berlindung," kata Wang, saat jumpa pers bersama Menteri Luar Negeri Bangladesh Abul Hassan Mahmood Ali di sisinya.

"Kami benar-benar berharap untuk melihat bahwa proses pengembalian, terutama kelompok pertama yang kembali, dapat direalisasikan secepat mungkin," imbuh Wang seperti dilansir dari Reuters, Jumat (29/6/2018).

Wang mengungkapkan China akan memberikan bantuan dan memainkan peran konstruktif, dan China telah menyediakan rumah pra-fabrikasi ke Myanmar bagi mereka yang kembali. Sementara untuk Bangladesh, China telah menyediakan tenda dan perlengkapan kemanusiaan lainnya.

"Kami ingin melihat dan percaya bahwa dengan kerja keras Bangladesh dan Myanmar, proses pemulangan ini dapat dimulai sesegera mungkin," ujarnya.

China memiliki hubungan dekat dengan Myanmar, dan telah mendukung apa yang disebut pejabat Myanmar sebagai operasi kontra-pemberontakan yang sah di Rakhine.

Sementara Menteri Luar Negeri Bangladesh Abul Hassan Mahmood Ali mengatakan ia telah membicarakan secara detail dengan Wang tentang Rohingya.

"Dalam hal ini kami mencari dukungan China dalam memastikan lingkungan yang kondusif di negara bagian Rakhine untuk repatriasi awal dari orang-orang terlantar ini kembali ke tanah air mereka," katanya.

“China telah menjamin dukungannya yang berkelanjutan dalam menyelesaikan masalah ini. Saya pikir kami telah menerima dukungan luar biasa dari China tentang bagaimana menyelesaikan masalah ini,” tukasnya.

Sejak Agustus 2017, sekitar 700 ribu Muslim Rohingya telah melarikan diri dari penumpasan militer di Myanmar yang mayoritas beragama Budha. Amerika Serikat (AS) dan organisasi bantuan lainnya mengatakan banyak laporan pembunuhan, perkosaan dan pembakaran dalam skala besar di negara bagian barat Rakhine.

Pada bulan Mei, PBB mengatakan telah mencapai kesepakatan garis besar dengan Myanmar yang bertujuan untuk memungkinkan mereka kembali.
(ian)
Berita Terkait
Bangladesh Minta Bantuan...
Bangladesh Minta Bantuan China Pulangkan Pengungsi Rohingya ke Myanmar
Negara Kecil Ini Ingin...
Negara Kecil Ini Ingin Myanmar Dihukum atas Genosida Etnis Muslim Rohingya
Sebut Tentaranya Diancam,...
Sebut Tentaranya Diancam, Myanmar Bantah Pengakuan Kekejaman Rohingya
Pengakuan Tentara Myanmar...
Pengakuan Tentara Myanmar Soal Pembantaian Rohingya: Bunuh Mereka Semua
Pendekatan Rasional...
Pendekatan Rasional terhadap Krisis Rohingya
Agama Warga Negara Bagian...
Agama Warga Negara Bagian Rakhine Myanmar dan Persentasenya
Berita Terkini
Permusuhan Memanas,...
Permusuhan Memanas, AS Bombardir Lagi Pulau Qeshm Iran
25 menit yang lalu
PM Inggris: Rusia Akan...
PM Inggris: Rusia Akan Serang NATO 4 Tahun Lagi
49 menit yang lalu
Penasihat Militer Mojtaba...
Penasihat Militer Mojtaba Khamenei: Iran Siap Ubah Israel Jadi Neraka Jika Beirut Diinvasi
1 jam yang lalu
Negara Mayoritas Islam...
Negara Mayoritas Islam Ini Sangkal Jadi Markas Pasukan Elite Israel untuk Perang Melawan Iran
1 jam yang lalu
Presiden Lebanon Kecam...
Presiden Lebanon Kecam Hizbullah, Iran, dan IRGC: Ini Bukan Negaramu, Ini Negara Kami!
2 jam yang lalu
Terungkap, Israel Kerahkan...
Terungkap, Israel Kerahkan Pasukan Elite ke Azerbaijan untuk Perang Melawan Iran
2 jam yang lalu
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved