Korut Peringatkan Jepang Tidak Ikut Campur Perundingan Denuklirisasi
Kamis, 28 Juni 2018 - 09:51 WIB
Korut Peringatkan Jepang Tidak Ikut Campur Perundingan Denuklirisasi
A
A
A
JENEWA - Korea Utara (Korut) memperingatkan Jepang untuk memikirkan masalahnya sendiri dan tidak ikut campur dalam perundingan denuklirisasi dengan Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan (Korsel).
Seorang diplomat Korut di Jenewa, Ju Yong-chol mengatakan, Jepang harus menahan diri dari campur tangan dalam proses denuklirisasi karena tidak menandatangani perjanjian yang dibuat oleh kedua Korea dan AS.
Hal itu dikatakan Yong-chol dalam Konferensi PBB tentang Perlucutan Senjata.
Sebelumnya perwakilan dari Argentina, Australia, Austria, dan Jepang meminta Korut untuk mematuhi ketentuan perjanjian dengan Korsel dan AS. Mereka menyuarakan keprihatinan atas lambatnya Korut dalam mengimplementasikan ketentuan kesepakatan.
Jepang melangkah lebih jauh dengan mengancam berpihak pada AS dan Korsel untuk menuntut Korut meningkatkan upaya denuklirisasi.
"Pada saat kami melihat sinyal positif setelah penandatanganan perjanjian bersejarah, asumsi salah yang bertentangan dengan upaya negara-negara yang terlibat dan setiap upaya internasional untuk mengkritik dan menekan Korea Utara tidak dapat diterima," ujarnya seperti dikutip dari Chosun Ilbo, Kamis (28/6/2018).
Pada 16 Juni lalu Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengatakan ia tengah berusaha melakukan pertemuan dengan pemimpin Korut, Kim Jong-un. Ia juga mengatakan negaranya bersedia membiayai biaya denuklirisasi, selama masalah penculikan warga Jepang diselesaikan.
Baca: PM Jepang Ngebet Ingin Bertemu Kim Jong-un
Isu emosional penculikan warga Jepang pada 1970-an dan 1980-an untuk membantu kereta api mata-mata Pyongyang telah memperburuk hubungan yang sudah tegang antara Tokyo dan Pyongyang.
Media Pyongyang menanggapi tawaran Abe dengan mengatakan Jepang seharusnya malah memprioritaskan kompensasi yang terkait dengan masa lalu kekaisarannya dan menahan diri dari menggunakan trik kecil.
Seorang diplomat Korut di Jenewa, Ju Yong-chol mengatakan, Jepang harus menahan diri dari campur tangan dalam proses denuklirisasi karena tidak menandatangani perjanjian yang dibuat oleh kedua Korea dan AS.
Hal itu dikatakan Yong-chol dalam Konferensi PBB tentang Perlucutan Senjata.
Sebelumnya perwakilan dari Argentina, Australia, Austria, dan Jepang meminta Korut untuk mematuhi ketentuan perjanjian dengan Korsel dan AS. Mereka menyuarakan keprihatinan atas lambatnya Korut dalam mengimplementasikan ketentuan kesepakatan.
Jepang melangkah lebih jauh dengan mengancam berpihak pada AS dan Korsel untuk menuntut Korut meningkatkan upaya denuklirisasi.
"Pada saat kami melihat sinyal positif setelah penandatanganan perjanjian bersejarah, asumsi salah yang bertentangan dengan upaya negara-negara yang terlibat dan setiap upaya internasional untuk mengkritik dan menekan Korea Utara tidak dapat diterima," ujarnya seperti dikutip dari Chosun Ilbo, Kamis (28/6/2018).
Pada 16 Juni lalu Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengatakan ia tengah berusaha melakukan pertemuan dengan pemimpin Korut, Kim Jong-un. Ia juga mengatakan negaranya bersedia membiayai biaya denuklirisasi, selama masalah penculikan warga Jepang diselesaikan.
Baca: PM Jepang Ngebet Ingin Bertemu Kim Jong-un
Isu emosional penculikan warga Jepang pada 1970-an dan 1980-an untuk membantu kereta api mata-mata Pyongyang telah memperburuk hubungan yang sudah tegang antara Tokyo dan Pyongyang.
Media Pyongyang menanggapi tawaran Abe dengan mengatakan Jepang seharusnya malah memprioritaskan kompensasi yang terkait dengan masa lalu kekaisarannya dan menahan diri dari menggunakan trik kecil.
(ian)