Iran Sesumbar Tak Ada yang Bisa Hancurkan Kekuatan Rudalnya
Rabu, 30 Mei 2018 - 07:50 WIB
Iran Sesumbar Tak Ada yang Bisa Hancurkan Kekuatan Rudalnya
A
A
A
TEHERAN - Seorang pejabat senior militer Iran memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa perkembangan rudal angkatan dan pengaruh regionalnya terlalu kuat untuk dihancurkan, bahkan jika terjadi konflik langsung.
Wakil Komandan pasukan elit Pengawal Revolusi, Brigadir Jenderal Hossein Salami, mengkritik rencana 12 poin Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo karena berpotensi mencapai kesepakatan nuklir baru dengan Iran. Sebelumnya, Presiden Donald Trump telah menarik AS dari kesepakatan nuklir 2015 awal bulan ini.
Dalam pidato kebijakan besar pertamanya sebagai diplomat tertinggi AS, Pompeo mengatakan pekan lalu bahwa setiap perjanjian baru harus memasukkan komitmen Iran untuk mengakhiri dukungan bagi kelompok militan di luar negeri dan pengembangan rudal balistik, sesuatu yang ditolak para pejabat Iran.
"Mereka pikir Iran harus mengakhiri (program) pengembangan misilnya," kata Salami pada sebuah upacara di Teheran, menurut kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim.
"Karena mereka tidak dapat memaksa kami, mereka meminta kami melakukannya, diri kami sendiri," imbuhnya.
"Tidak ada yang bisa menghancurkan kekuatan rudal kami dan jika mereka takut mereka bisa pergi ke tempat penampungan," tukasnya seperti dikutip dari Newsweek, Rabu (30/5/2018).
Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir internasional karena menganggap kesepakatan nuklir tersebut sangatlah buruk. Ia telah menjadi kritikus yang keras terhadap perjanjian internasional yang ditandatangani pada 2015 lalu, dan menyebutnya "gila".
Di antara kritiknya adalah tidak adanya larangan terhadap program rudal balistik Iran. Perjanjian itu juga tidak melakukan apa pun untuk menghentikan dukungan Iran untuk kelompok militan di kawasan itu.
Trump juga ingin menghapus perjanjian yang disebut "klausa matahari terbenam", yang salah satunya memungkinkan pencabutan pembatasan program pengayaan nuklir Iran setelah 2025.
Penarikan Trump dari perjanjian nuklir Iran pada 8 Mei lalu dilakukan meskipun sejumlah sekutu AS memintanya untuk tetap bertahan. Dengan sanksi AS terkait nuklir akan mulai berlaku, Iran telah menyatakan skeptisismenya untuk tetap berthan menjadi pihak dalam kesepakatan itu.
Meski begitu, diplomat Teheran telah bertemu dengan sesama pihak lain macam China, Prancis, Jerman, Rusia, dan Inggris dalam upaya untuk menyelamatkannya.
Wakil Komandan pasukan elit Pengawal Revolusi, Brigadir Jenderal Hossein Salami, mengkritik rencana 12 poin Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo karena berpotensi mencapai kesepakatan nuklir baru dengan Iran. Sebelumnya, Presiden Donald Trump telah menarik AS dari kesepakatan nuklir 2015 awal bulan ini.
Dalam pidato kebijakan besar pertamanya sebagai diplomat tertinggi AS, Pompeo mengatakan pekan lalu bahwa setiap perjanjian baru harus memasukkan komitmen Iran untuk mengakhiri dukungan bagi kelompok militan di luar negeri dan pengembangan rudal balistik, sesuatu yang ditolak para pejabat Iran.
"Mereka pikir Iran harus mengakhiri (program) pengembangan misilnya," kata Salami pada sebuah upacara di Teheran, menurut kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim.
"Karena mereka tidak dapat memaksa kami, mereka meminta kami melakukannya, diri kami sendiri," imbuhnya.
"Tidak ada yang bisa menghancurkan kekuatan rudal kami dan jika mereka takut mereka bisa pergi ke tempat penampungan," tukasnya seperti dikutip dari Newsweek, Rabu (30/5/2018).
Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir internasional karena menganggap kesepakatan nuklir tersebut sangatlah buruk. Ia telah menjadi kritikus yang keras terhadap perjanjian internasional yang ditandatangani pada 2015 lalu, dan menyebutnya "gila".
Di antara kritiknya adalah tidak adanya larangan terhadap program rudal balistik Iran. Perjanjian itu juga tidak melakukan apa pun untuk menghentikan dukungan Iran untuk kelompok militan di kawasan itu.
Trump juga ingin menghapus perjanjian yang disebut "klausa matahari terbenam", yang salah satunya memungkinkan pencabutan pembatasan program pengayaan nuklir Iran setelah 2025.
Penarikan Trump dari perjanjian nuklir Iran pada 8 Mei lalu dilakukan meskipun sejumlah sekutu AS memintanya untuk tetap bertahan. Dengan sanksi AS terkait nuklir akan mulai berlaku, Iran telah menyatakan skeptisismenya untuk tetap berthan menjadi pihak dalam kesepakatan itu.
Meski begitu, diplomat Teheran telah bertemu dengan sesama pihak lain macam China, Prancis, Jerman, Rusia, dan Inggris dalam upaya untuk menyelamatkannya.
(ian)