Mattis: Militer AS Bakal Terus Beroperasi di Laut China Selatan
Rabu, 30 Mei 2018 - 05:50 WIB
Mattis: Militer AS Bakal Terus Beroperasi di Laut China Selatan
A
A
A
WASHINGTON - Menteri Pertahanan (menhan) Amerika Serikat (AS) James Norman Mattis menegaskan bahwa militer Washington akan terus beroperasi di Laut China Selatan. Operasi itu untuk melawan militerisasi China di pulau-pulau kawasan sengketa tersebut.
Komentar kepala Pentagon itu muncul setelah Beijing marah atas manuver dua kapal perang Amerika di di dekat pulau yang diklaim China di Laut China Selatan pada hari Minggu. Sebagai respons, Beijing mengirim kapal perang dan pesawat untuk mengusir dua kapal perang Washington tersebut.
Pentagon sudah telah mengeluhkan sikap Beijing yang belum cukup berterus terang tentang penumpukan kekuatan militer dan operasi pengumpulan data intelijen dengan menggunakan pulau yang mereka klaim di kawasan Laut China Selatan.
Citra satelit terbaru menunjukkan bahwa China telah menggunakan rudal surface-to-air yang dipasang di truk atau rudal jelajah anti-kapal di Woody Island.
Awal bulan ini, angkatan udara China mendaratkan beberapa pesawat pembom, termasuk H-6K, di pulau-pulau sengketa dan terumbu karang di Laut China Selatan sebagai bagian dari latihan militer.
"Ketika mereka (China) melakukan hal-hal yang tidak jelas bagi kita semua, maka kita tidak bisa bekerja sama di daerah-daerah yang seharusnya kita kerjakan," kata Mattis, yang dikutip Reuters, Rabu (30/5/2018).
Mattis mengatakan para diplomat AS telah terlibat dalam masalah ini dan dia telah mendengar kekhawatiran tentang tindakan China yang tidak hanya membuat Washington khawatir, tapi juga para sekutu regional AS.
Laut China Selatan, yang menghasilkan sekitar USD5 triliun dari lalu lintas kapal perdagangan dunia setiap tahunnya. Kawasan itu diperebutkan oleh China, Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam.
Komentar kepala Pentagon itu muncul setelah Beijing marah atas manuver dua kapal perang Amerika di di dekat pulau yang diklaim China di Laut China Selatan pada hari Minggu. Sebagai respons, Beijing mengirim kapal perang dan pesawat untuk mengusir dua kapal perang Washington tersebut.
Pentagon sudah telah mengeluhkan sikap Beijing yang belum cukup berterus terang tentang penumpukan kekuatan militer dan operasi pengumpulan data intelijen dengan menggunakan pulau yang mereka klaim di kawasan Laut China Selatan.
Citra satelit terbaru menunjukkan bahwa China telah menggunakan rudal surface-to-air yang dipasang di truk atau rudal jelajah anti-kapal di Woody Island.
Awal bulan ini, angkatan udara China mendaratkan beberapa pesawat pembom, termasuk H-6K, di pulau-pulau sengketa dan terumbu karang di Laut China Selatan sebagai bagian dari latihan militer.
"Ketika mereka (China) melakukan hal-hal yang tidak jelas bagi kita semua, maka kita tidak bisa bekerja sama di daerah-daerah yang seharusnya kita kerjakan," kata Mattis, yang dikutip Reuters, Rabu (30/5/2018).
Mattis mengatakan para diplomat AS telah terlibat dalam masalah ini dan dia telah mendengar kekhawatiran tentang tindakan China yang tidak hanya membuat Washington khawatir, tapi juga para sekutu regional AS.
Laut China Selatan, yang menghasilkan sekitar USD5 triliun dari lalu lintas kapal perdagangan dunia setiap tahunnya. Kawasan itu diperebutkan oleh China, Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam.
(mas)