Kuwait Usir Duta Besar Filipina, Beri Waktu Seminggu

Rabu, 25 April 2018 - 23:37 WIB
Kuwait Usir Duta Besar...
Kuwait Usir Duta Besar Filipina, Beri Waktu Seminggu
A A A
KUWAIT - Kuwait memerintahkan Duta Besar Filipina untuk meninggalkan negara itu dalam waktu seminggu. Kuwait juga telah memanggil Duta Besarnya untuk Filipina guna berkonsultasi.

Keputusan ini muncul setelah staf kedutaan mencoba "menyelamatkan" pekerja rumah tangga Filipina di tengah laporan pelecehan.

Keputusan itu adalah episode terbaru dalam krisis tiga bulan kedua negara terkait pelecehan oleh majikan di negara Teluk Arab yang kaya telah mendorong beberapa orang Filipina untuk bunuh diri.

Pada Selasa kemarin, Filipina telah meminta maaf untuk apa yang dipandang Kuwait sebagai pelanggaran "mencolok" dari kedaulatannya. Menteri Luar Negeri Filipina mengatakan bahwa pihak kedutaan terpaksa "membantu" para pekerja Filipina yang meminta bantuan karena beberapa situasi terkait masalah hidup dan mati.

Kementerian luar negeri Kuwait mengatakan telah memberi duta besar tiga hari untuk memberikan nama-nama penduduk Filipina di Kuwait yang telah "menculik" pekerja rumah tangga dari rumah majikan mereka, menambahkan bahwa pihaknya belum menerima tanggapan dari kedutaan.

"Pasukan keamanan Kuwait akan terus memburu mereka yang melanggar keamanan negara dan mengadilinya," kementerian itu menambahkan dalam sebuah pernyataan seperti dilansir dari Reuters, Rabu (25/4/2018).

Menurut Menteri Luar Negeri Filipina lebih dari 65 persen dari lebih 260 ribu warga Filipina di Kuwait dalah pembantu rumah tangga.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada Februari menyerukan kepada para pekerja Filipina di Kuwait untuk pulang setelah penemuan mayat pekerja rumah tangga di dalam lemari pendingin di sebuah rumah yang ditinggalkan. Dia kemudian mengatakan bahwa daftar kasus-kasus penganiayaan buruh migran Filipina yang dilaporkan dan tidak dilaporkan akan dipersiapkan.

Pekerja asing di banyak negara Teluk bekerja di bawah sistem sponsor yang memberi majikan hak untuk menyimpan paspor mereka dan melakukan kontrol penuh atas masa tinggal mereka.

Human Rights Watch dan Amnesty International telah lama mengeluhkan bahwa negara-negara Teluk tidak mengatur dengan benar kondisi kerja bagi pekerja rumah tangga dan pekerja berpenghasilan rendah.

Kedua lembaha itu mengatakan jam kerja yang terlalu panjang dan fleksibilitas yang tidak cukup untuk mengubah kontrak atau kembali ke negara asal bertentangan dengan undang-undang ketenagakerjaan internasional dan mencabut hak asasi manusia para pekerja.
(ian)
Berita Terkait
Rekannya Dibunuh Secara...
Rekannya Dibunuh Secara Brutal, 114 PRT Filipina Ramai-ramai Tinggalkan Kuwait
Kasus Baru di Kuwait...
Kasus Baru di Kuwait dan Filipina, Total 1.425 WNI Positif Covid-19
Dunia Berduka, Emir...
Dunia Berduka, Emir Kuwait Meninggal Dunia
Mengenang Emir Kuwait...
Mengenang Emir Kuwait Sheikh Sabah, Sang Pembela Persatuan Arab
Emir Kuwait Baru Tegaskan...
Emir Kuwait Baru Tegaskan Lagi Dukungan untuk Palestina
Kuwait Melepas Mendiang...
Kuwait Melepas Mendiang Sheikh Sabah, Emir Baru Resmi Dilantik
Berita Terkini
Rumor Putin Gunakan...
Rumor Putin Gunakan Pemeran Pengganti Muncul Lagi usai Wakil PM Rusia Salah Sebut Namanya
27 menit yang lalu
Presiden Iran Diklaim...
Presiden Iran Diklaim Mundur karena Ribut dengan IRGC, Ini Faktanya
1 jam yang lalu
Imbas Perang Iran, Proyek...
Imbas Perang Iran, Proyek NEOM Arab Saudi Impian Mohammed bin Salman Jadi Berantakan
2 jam yang lalu
Negara Pecahan Soviet...
Negara Pecahan Soviet Ini Ingin Gabung NATO, tapi Ditentang Rakyatnya
2 jam yang lalu
Iran Diduga Gunakan...
Iran Diduga Gunakan Rudal China saat Tembak Jatuh Jet Tempur F-15 AS
3 jam yang lalu
Malaysia Geram dengan...
Malaysia Geram dengan Respons Lemah Dunia atas Norwegia Batalkan Sepihak Penjualan Rudal Canggih
3 jam yang lalu
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved