'Mati Rasa', Warga Suriah Tanggapi Santai Ancaman Serangan AS
Sabtu, 14 April 2018 - 06:15 WIB
'Mati Rasa', Warga Suriah Tanggapi Santai Ancaman Serangan AS
A
A
A
DAMASKUS - Presiden Amerika Serikat (AS) akan menghukum rezim Bashar al-Assad atas dugaan serangan senjata kimia yang dilakukan terhadap warga sipil di Suriah. Meskipun ancaman serangan militer AS mungkin ada di benak warga Suriah, namun itu tidak banyak memberikan pengaruh.
Seorang mahasiswa kedokteran, Khaled al-Anaz (23) mengatakan, ia tidak melakukan apa pun yang berbeda dalam menanggapi ancaman serangan tersebut.
"Aku punya kehidupan biasa," kata Anaz seperti dikutip dari CBS News, Sabtu (14/4/2018).
Kebetulan saat itu adalah hari Kamis di sebuah kelah pekerjas, sebuah lingkungan pemukiman Damaskus, di mana orang-orang telah mendengar tentang dugaan serangan kimia. Hanya saja mereka tidak percaya pemerintah Suriah berada di belakangnya.
"Bagaimana Trump bisa tahu jika teroris menggunakannya atau jika pemerintah Suriah melakukan ini?" tanya Anaz.
Presiden Suriah Bashar al-Assad sendiri tampak tenang dan tidak terpengaruh dalam beberapa kali kesempatan pada minggu ini. Ia mengatakan bahwa ancaman aksi militer Barat didasarkan pada kebohongan.
Ali Jallal, yang bekerja di toko pakaian, memberi tahu ia tidak takut dengan prospek serangan militer AS.
"Kami sudah perang selama tujuh tahun," cetus Jallal.
Warga Suriah tampaknya telah mati rasa setelah lama berperang. Bahkan, Jallal mempertanyakan apakah AS benar-benar akan mengambil tindakan tersebut.
Sekutu medan perang terkuat Suriah, Rusia, mengklaim kemenangan di Douma pada hari Kamis lalu, di mana dugaan serangan kimia telah terjadi pada Sabtu lalu.
Ketika CBS News meminta untuk mengunjungi Douma, pihak berwenang mengatakan wilayah itu masih berbahaya dan pemerintah Suriah tidak sepenuhnya memegang kendali. Pemerintah mungkin mempersulit pekerjaan para inspektur senjata kimia yang diatur untuk memulai penyelidikan mereka pada hari Sabtu.
Seorang mahasiswa kedokteran, Khaled al-Anaz (23) mengatakan, ia tidak melakukan apa pun yang berbeda dalam menanggapi ancaman serangan tersebut.
"Aku punya kehidupan biasa," kata Anaz seperti dikutip dari CBS News, Sabtu (14/4/2018).
Kebetulan saat itu adalah hari Kamis di sebuah kelah pekerjas, sebuah lingkungan pemukiman Damaskus, di mana orang-orang telah mendengar tentang dugaan serangan kimia. Hanya saja mereka tidak percaya pemerintah Suriah berada di belakangnya.
"Bagaimana Trump bisa tahu jika teroris menggunakannya atau jika pemerintah Suriah melakukan ini?" tanya Anaz.
Presiden Suriah Bashar al-Assad sendiri tampak tenang dan tidak terpengaruh dalam beberapa kali kesempatan pada minggu ini. Ia mengatakan bahwa ancaman aksi militer Barat didasarkan pada kebohongan.
Ali Jallal, yang bekerja di toko pakaian, memberi tahu ia tidak takut dengan prospek serangan militer AS.
"Kami sudah perang selama tujuh tahun," cetus Jallal.
Warga Suriah tampaknya telah mati rasa setelah lama berperang. Bahkan, Jallal mempertanyakan apakah AS benar-benar akan mengambil tindakan tersebut.
Sekutu medan perang terkuat Suriah, Rusia, mengklaim kemenangan di Douma pada hari Kamis lalu, di mana dugaan serangan kimia telah terjadi pada Sabtu lalu.
Ketika CBS News meminta untuk mengunjungi Douma, pihak berwenang mengatakan wilayah itu masih berbahaya dan pemerintah Suriah tidak sepenuhnya memegang kendali. Pemerintah mungkin mempersulit pekerjaan para inspektur senjata kimia yang diatur untuk memulai penyelidikan mereka pada hari Sabtu.
(ian)