Inggris Sebut Rezim Assad Dalang Serangan Kimia di Douma
Rabu, 11 April 2018 - 23:36 WIB
Inggris Sebut Rezim Assad Dalang Serangan Kimia di Douma
A
A
A
LONDON - Perdana Menteri Inggris, Theresa May mengatakan, semua indikasi menunjukkan pihak berwenang Suriah bertanggung jawab atas serangan kimia di kota Douma. May juga mengatakan bahwa serangan itu tidak bisa dibenarkan.
"Serangan senjata kimia yang terjadi pada Sabtu di Douma, Suriah adalah tindakan yang mengejutkan dan biadab," kata May.
“Penggunaan senjata kimia tidak bisa dibenarkan. Semua indikasi menunjukkan rezim Suriah bertanggung jawab," imbuhnya seperti dikutip dari Reuters, Rabu (11/4/2018).
May menolak mengatakan apakah ia sepakat dengan cuitan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menegaskan kembali bahwa Inggris bekerja dengan sekutunya untuk mencari tahu persis apa yang telah terjadi.
Lewat akun Twitter-nya, Presiden AS Donald Trump memperingatkan Rusia tentang aksi militer yang akan segera terjadi di Suriah atas dugaan serangan gas beracun. Trump menyatakan bahwa rudal "akan datang" dan mencerca Moskow berdiri bersama Presiden Suriah Bashar al-Assad.
"Kami akan bekerja dengan sekutu terdekat kami untuk mempertimbangkan bagaimana kami dapat memastikan bahwa mereka yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban, dan juga bagaimana kami dapat mencegah dan mencegah bencana kemanusiaan penggunaan senjata kimia di masa depan," tutur May.
"Kami dengan cepat mencapai pemahaman tentang apa yang terjadi di lapangan," tukasnya.
Sedikitnya 85 orang tewas dalam serangan senjata kimia jenis gas klorin di Douma, Ghouta timur, pada Minggu (8/4/2018). Banyak pihak menuduh rezim Suriah sebagai pelakunya. Namun, pemerintah Suriah membantahnya dan menganggapnya sebagai laporan "lucu".
"Serangan senjata kimia yang terjadi pada Sabtu di Douma, Suriah adalah tindakan yang mengejutkan dan biadab," kata May.
“Penggunaan senjata kimia tidak bisa dibenarkan. Semua indikasi menunjukkan rezim Suriah bertanggung jawab," imbuhnya seperti dikutip dari Reuters, Rabu (11/4/2018).
May menolak mengatakan apakah ia sepakat dengan cuitan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menegaskan kembali bahwa Inggris bekerja dengan sekutunya untuk mencari tahu persis apa yang telah terjadi.
Lewat akun Twitter-nya, Presiden AS Donald Trump memperingatkan Rusia tentang aksi militer yang akan segera terjadi di Suriah atas dugaan serangan gas beracun. Trump menyatakan bahwa rudal "akan datang" dan mencerca Moskow berdiri bersama Presiden Suriah Bashar al-Assad.
"Kami akan bekerja dengan sekutu terdekat kami untuk mempertimbangkan bagaimana kami dapat memastikan bahwa mereka yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban, dan juga bagaimana kami dapat mencegah dan mencegah bencana kemanusiaan penggunaan senjata kimia di masa depan," tutur May.
"Kami dengan cepat mencapai pemahaman tentang apa yang terjadi di lapangan," tukasnya.
Sedikitnya 85 orang tewas dalam serangan senjata kimia jenis gas klorin di Douma, Ghouta timur, pada Minggu (8/4/2018). Banyak pihak menuduh rezim Suriah sebagai pelakunya. Namun, pemerintah Suriah membantahnya dan menganggapnya sebagai laporan "lucu".
(ian)