Sanksi Baru AS 'Tampar' Kroni Putin Termasuk 7 Orang Terkaya Rusia

Sabtu, 07 April 2018 - 03:36 WIB
Sanksi Baru AS Tampar...
Sanksi Baru AS 'Tampar' Kroni Putin Termasuk 7 Orang Terkaya Rusia
A A A
WASHINGTON - Pemerintah Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi baru terhadap puluhan kroni Presiden Rusia Vladimir Putin. Target sanksi baru ini mencakup tujuh orang terkaya Rusia dan 17 pejabat tinggi pemerintah Moskow.

Tindakan terbaru Administrasi Donald Trump ini diumumkan pada hari Jumat sebagai upaya terakhir untuk "menampar" rezim Putin atas tuduhan ikut campur pemilu AS tahun 2016 dan "agresi" Rusia lainnya.

Orang-orang terkaya jadi target sanksi Washington karena dianggap berkontribusi untuk membuat pemerintahan Putin semakin otoriter.

Pemerintah Trump menyatakan, aset-aset oligarki Rusia akan dibekukan. Entitas dan individu AS juga dicegah atau dilarang melakukan bisnis dengan mereka yang masuk daftar orang yang dijatuhi sanksi.

"Pemerintah Rusia beroperasi untuk keuntungan yang tidak proporsional dari oligarki dan elite pemerintah," kata Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin.

"Para oligarki dan elite Rusia yang mendapat untung dari sistem korup ini tidak akan lagi terisolasi dari konsekuensi kegiatan destabilisasi pemerintah mereka," lanjut Mnuchin, seperti dikutip New York Times, Sabtu (7/4/2018).

Orang-orang Rusia yang dijatuhi sanksi baru AS salah satunya adalah Oleg V Deripaska, seorang oligarki yang pernah memiliki hubungan dekat dengan mantan manajer kampanye Trump, Paul Manafort.

Tokoh lain yang dikenai sanksi adalah Suleiman Kerimov, seorang pemodal yang dekat dengan Putin. Kemudian Vladimir Bogdanov, seorang eksekutif top Surgutneftegaz, sebuah perusahaan minyak Rusia; Igor Rotenberg, eksekutif minyak Rusia lainnya; Kirill Shamalov, seorang eksekutif energi yang menikahi putri Putin, Katerina Tikhonova; Andrei Skoch, seorang wakil Duma Negara Federasi Rusia; dan Viktor Vekselberg, ketua Renova Group, sebuah perusahaan investasi Rusia.

Kasus serangan racun terhadap mantan agen ganda Kremlin, Sergei Skripal, di Salisbury, Inggris, juga menjadi pertimbangan Washington untuk menjatuhkan sanksi baru. Dalam kasus Skripal, London menyalahkan Moskow sebagai dalang serangan. Namun, Kremlin telah membantahnya.

Menurut laporan media AS, "hukuman" untuk Rusia diusulkan Penasihat Keamanan Nasional Trump, Letnan Jenderal HR McMaster, yang dalam beberapa hari ke depan akan pensiun dan digantikan John Bolton.

Sementara itu, pemerintah Mosow mengecam saksi baru dari Washington. Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa demokrasi AS sedang terdegradasi karena Washington menggunakan segala cara guna mempertahankan hegemoni globalnya, bahkan dengan tindakan-tindakan yang merugikan rakyat Amerika.

Moskow menegaskan akan bereaksi terhadap babak baru sanksi anti-Rusia.

"Demokrasi Amerika jelas sedang terdegradasi. Keinginan (satu-satunya) adalah memastikan dengan segala cara bahwa hegemoni global AS tetap ada, termasuk menekan negara-negara yang melakukan jalur independen dan berbicara (dengan) suara mereka sendiri, tidak seperti sekutu NATO," kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan.
(mas)
Berita Terkait
AS dan Inggris Bongkar...
AS dan Inggris Bongkar Metode Peretasan oleh Mata-mata Rusia
Rusia: Kacamata Pintar...
Rusia: Kacamata Pintar Facebook Bisa Jadi Alat Mata-mata Amerika Serikat
Penyelidikan Inggris:...
Penyelidikan Inggris: Putin Dalang Serangan Racun Ganas Novichok terhadap Eks Mata-mata Rusia!
Rusia Tolak Ultimatum...
Rusia Tolak Ultimatum AS Soal Perjanjian Mata-mata Open Skies
Lima Mata akan Buta...
Lima Mata akan Buta Tanpa Dukungan Amerika Serikat
Angkatan Udara Rusia...
Angkatan Udara Rusia Cegat Pesawat Mata-mata AS di Laut Hitam
Berita Terkini
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
1 jam yang lalu
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
2 jam yang lalu
Netanyahu dan Trump...
Netanyahu dan Trump Bahas Nota Kesepahaman Mendatang dengan Iran
4 jam yang lalu
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
4 jam yang lalu
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
6 jam yang lalu
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
7 jam yang lalu
Infografis
Ahmad Vahidi, Panglima...
Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC di Tengah Perang Lawan AS-Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved