Kim Jong-un Ingin Hidupkan Perundingan Enam Pihak Bahas Nuklir Korut
Jum'at, 06 April 2018 - 12:00 WIB
Kim Jong-un Ingin Hidupkan Perundingan Enam Pihak Bahas Nuklir Korut
A
A
A
TOKYO - Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un mengatakan pada Presiden China Xi Jinping saat perundingan di Beijing pekan lalu bahwa dia bersedia kembali ke perundingan enam pihak. Perundingan itu khusus membahas program rudal dan nuklir Korut.
Laporan ini diungkapkan surat kabar Nikkei, Kamis (5/4/2018). Setelah beberapa bulan suasana beku antara Beijing dan Pyongyang, kedua pihak tiba-tiba kembali mendekat dengan kunjungan rahasia Kim. China menyatakan Kim berjanji berkomitmen untuk denuklirisasi.
Mengutip beberapa sumber yang terkait China dan Korut, Nikkei melaporkan, menurut dokumen yang dikeluarkan setelah Kim dan Xi bertemu, Kim mengatakan pada Xi bahwa dia sepakat kembali ke perundingan enam pihak yang berakhir pada 2009. Korut mendeklarasikan keluar dari perundingan itu dengan alasan agresi Amerika Serikat (AS). Perundingan itu terdiri atas dua Korea, AS, Rusia, Jepang, dan tuan rumah China.
Beberapa sumber menyatakan ada kemungkinan Kim dapat mengatakan keinginannya kembali ke perundingan pada Presiden AS Donald Trump saat bertemu langsung pada Mei mendatang. Meski demikian, masih belum ada kepastian apakah perundingan itu benar-benar kembali dihidupkan. Para pejabat China tidak bisa dimintai komentarnya. China merupakan aliansi dekat Korut. Hubungan keduanya memburuk saat China mendukung sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap Pyongyang.
Korut menyatakan sebelumnya, dapat menyerahkan senjata nuklirnya jika AS memindahkan pasukannya dari Korsel dan mencabut payung penangkal nuklir dari Korea Selatan (Korsel) dan Jepang. Beberapa pengamat menyatakan keinginan Trump bertemu Kim menunjukkan kemenangan diplomatik Korut. AS selama beberapa tahun menyatakan pertemuan langsung hanya bisa dilakukan jika Korut melakukan langkah denuklirisasi.
Sementara itu, Majelis Rakyat Tertinggi Korut akan menggelar pertemuan pada 11 April mendatang, beberapa pekan sebelum konferensi tingkat tinggi (KTT) bersejarah antara Korut dan Korea Selatan (Korsel). Keputusan menggelar sidang langka itu menjadi yang pertama tahun ini. Keputusan itu dibuat oleh presidium parlemen pada 15 Maret. Parlemen Korut biasanya menjadi stempel keputusan pada isu-isu seperti struktur pemerintahan dan anggaran yang disusun Partai Pekerja.
Pertemuan itu digelar di tengah meningkatnya aktivitas diplomatik untuk mempertemukan para pejabat Korut dan Korsel yang mempersiapkan KTT dua Korea pada akhir April.
Laporan ini diungkapkan surat kabar Nikkei, Kamis (5/4/2018). Setelah beberapa bulan suasana beku antara Beijing dan Pyongyang, kedua pihak tiba-tiba kembali mendekat dengan kunjungan rahasia Kim. China menyatakan Kim berjanji berkomitmen untuk denuklirisasi.
Mengutip beberapa sumber yang terkait China dan Korut, Nikkei melaporkan, menurut dokumen yang dikeluarkan setelah Kim dan Xi bertemu, Kim mengatakan pada Xi bahwa dia sepakat kembali ke perundingan enam pihak yang berakhir pada 2009. Korut mendeklarasikan keluar dari perundingan itu dengan alasan agresi Amerika Serikat (AS). Perundingan itu terdiri atas dua Korea, AS, Rusia, Jepang, dan tuan rumah China.
Beberapa sumber menyatakan ada kemungkinan Kim dapat mengatakan keinginannya kembali ke perundingan pada Presiden AS Donald Trump saat bertemu langsung pada Mei mendatang. Meski demikian, masih belum ada kepastian apakah perundingan itu benar-benar kembali dihidupkan. Para pejabat China tidak bisa dimintai komentarnya. China merupakan aliansi dekat Korut. Hubungan keduanya memburuk saat China mendukung sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap Pyongyang.
Korut menyatakan sebelumnya, dapat menyerahkan senjata nuklirnya jika AS memindahkan pasukannya dari Korsel dan mencabut payung penangkal nuklir dari Korea Selatan (Korsel) dan Jepang. Beberapa pengamat menyatakan keinginan Trump bertemu Kim menunjukkan kemenangan diplomatik Korut. AS selama beberapa tahun menyatakan pertemuan langsung hanya bisa dilakukan jika Korut melakukan langkah denuklirisasi.
Sementara itu, Majelis Rakyat Tertinggi Korut akan menggelar pertemuan pada 11 April mendatang, beberapa pekan sebelum konferensi tingkat tinggi (KTT) bersejarah antara Korut dan Korea Selatan (Korsel). Keputusan menggelar sidang langka itu menjadi yang pertama tahun ini. Keputusan itu dibuat oleh presidium parlemen pada 15 Maret. Parlemen Korut biasanya menjadi stempel keputusan pada isu-isu seperti struktur pemerintahan dan anggaran yang disusun Partai Pekerja.
Pertemuan itu digelar di tengah meningkatnya aktivitas diplomatik untuk mempertemukan para pejabat Korut dan Korsel yang mempersiapkan KTT dua Korea pada akhir April.
(amm)