Seteru dengan Inggris, Rusia Isyaratkan Perang Dingin II Dimulai

Kamis, 15 Maret 2018 - 16:43 WIB
Seteru dengan Inggris,...
Seteru dengan Inggris, Rusia Isyaratkan Perang Dingin II Dimulai
A A A
LONDON - Pemerintah Rusia secara mengejutkan memberi isyarat bahwa Perang Dingin II telah dimulai. Isyarat yang disuarakan Kedutaan Besar Rusia di Inggris melalui Twitter.

Kedutaan Rusia di London via akun Twitter @RussianEmbassy pada Kamis (15/3/2018), menulis; ”Suhu hubungan Rusia-Inggris turun menjadi minus 23, tapi kami tidak takut dengan cuaca dingin.”

Tweet ini disertai gambar termometer dan kata “Rusia-Inggris” dalam tweet tersebut digambarkan dalam emoji bendera kedua negara.

Respons diplomatik Moskow ini muncul setelah Perdana Menteri Inggris (PM) Theresa May mengumumkan untuk mengusir 23 diplomat Rusia. Dalam pengumumannya di parlemen, PM May juga menyatakan akan membekukan aset-aset Rusia, membekukan komunikasi tingkat tinggi kedua negara dan Inggris akan memboikot World Cup atau Piala Dunia 2018 yang akan digelar di negeri Presiden Vladimir Putin tersebut.

Keputusan May itu sebagai respons atas tuduhan bahwa Moskow dalang di balik serangan racun terhadap mantan agen Rusia Sergei Skripal yang membelot ke Inggris. Skripal—sang agen ganda—bersama putrinya, Yulia Skripal, ditemukan tak berdaya setelah terpapar racun di Salisbury, Inggris selatan pada tanggal 4 Maret 2018.

May dengan tegas menuduh Rusia melakukan serangan racun syarat Novichok terhadap Skripal yang kini berstatus sebagai warga Inggris. Racun militer itu tercatat sebagai senjata kimia terhebat yang pernah dimiliki Rusia yang dikembangkan di era Uni Soviet menjelang akhir Perang Dingin.

Perang Dingin I pernah terjadi ketika ketegangan antara Uni Soviet dan Barat—AS, Inggris dan anggota NATO lainnya—mengalami polarisasi. Perang Dingin I berlangsung dari akhir 1940-an sampai 1991, ketika Uni Soviet runtuh.

Perang Dingin memiliki medan tempur di dunia spionase dan sebagai perangnya adalah pembunuhan mata-mata.

Baca: Moskow: Inggris Pilih Konfrontasi dengan Rusia !

Rentetan tindakan Inggris yang diumumkan PM May juga telah diterjemahkan Kementerian Luar Negeri Rusia sebagai pilihan London untuk konfrontasi.

”Pemerintah Inggris membuat pilihan untuk konfrontasi dengan Rusia," kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan yang dikutip AFP. ”Tanggapan kami tidak akan terlambat," lanjut kementerian itu.

Duta Besar Rusia untuk Inggris Alexander Yakovenko menolak tuduhan bahwa Moskow meracuni Skripal seperti yang dilontarkan PM May. Menurutnya, tudingan tersebut tidak bisa diterima dan sebuah provokasi.

"Semua yang dilakukan hari ini (kemarin) oleh pemerintah Inggris sama sekali tidak dapat diterima dan kami menganggap ini sebuah provokasi," katanya.
(mas)
Berita Terkait
Negara-negara Eropa...
Negara-negara Eropa yang Dihasut Amerika Serikat untuk Boikot Gas Rusia
Hubungan Amerika Serikat...
Hubungan Amerika Serikat dan Ukraina Dikabarkan Retak
Fakta Perang Hibrida...
Fakta Perang Hibrida Amerika Serikat-Rusia
Perbandingan Wagner...
Perbandingan Wagner Rusia dan Blackwater Amerika Serikat
Ancaman Rudal Muncul...
Ancaman Rudal Muncul dari Barat, Rusia Siap Beri Respons Militer
Pejabat Rusia yang Dilarang...
Pejabat Rusia yang Dilarang Masuk ke Amerika Serikat
Berita Terkini
IRGC Seharusnya Jadi...
IRGC Seharusnya Jadi Teladan bagi Negara Muslim di Seluruh Dunia
2 jam yang lalu
G7 Kini Fokus Memusuhi...
G7 Kini Fokus Memusuhi Rusia, Trump: Ini Perang yang Mudah Diselesaikan
2 jam yang lalu
Pasokan Senjata Rapuh,...
Pasokan Senjata Rapuh, Presiden Trump Dorong Produksi Massal
3 jam yang lalu
Fregat Rusia Tembaki...
Fregat Rusia Tembaki Kapal Pesiar Inggris, Starmer: Tindakan Sembrono
5 jam yang lalu
2 Pesawat Pengebom Nuklir...
2 Pesawat Pengebom Nuklir dari 2 Negara Adikuasa yang Bermusuhan Jatuh di Hari yang Sama
5 jam yang lalu
AS dan Iran Berdamai,...
AS dan Iran Berdamai, MBS: Semua untuk Kepentingan Bersama
6 jam yang lalu
Infografis
6 Strategi Iran Memperpanjang...
6 Strategi Iran Memperpanjang Durasi Perang dengan AS dan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved