Sekjen PBB Desak Penghentian Serangan di Ghouta
Rabu, 21 Februari 2018 - 21:50 WIB
Sekjen PBB Desak Penghentian Serangan di Ghouta
A
A
A
NEW YORK -
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengatakan bahwa dia sangat khawatir dengan meningkatnya kekerasan di wilayah Ghouta, Suriah. Lebih dari 200 orang tewas dalam serangan yang dilancarkan pasukan pro-pemerintah Suriah dalam dua hari terakhir.
Juru bicara Guterres, Stephane Dujarric, menuturkan bahwa pria asal Lisbon, Portugal itu mendesak semua pihak untuk menegakkan prinsip-prinsip dasar hukum humaniter, termasuk perlindungan warga sipil.
"Sekretaris Jenderal sangat khawatir dengan situasi yang meningkat di Ghouta Timur dan dampaknya yang menghancurkan pada warga sipil," kata Dujarric dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Al Arabiya pada Rabu (21/2).
"Hampir 400 ribu orang di Ghouta Timur terus mengalami serangan udara, penembakan, dan pemboman. Dikepung oleh pasukan pemerintah Suriah, penduduk Ghouta Timur hidup dalam kondisi ekstrim, termasuk kekurangan gizi," sambungnya.
Dujaric menambahkan, Guterres ingat bahwa Ghouta Timur telah ditunjuk sebagai zona de-eskalasi oleh Rusia, Iran dan Turki. "Sekertaris Jenderal mengingatkan semua pihak tentang komitmen mereka dalam hal ini," tukasnya.
Sebelumnya, Prancis menuturkan pemboman di Ghouta timur oleh pasukan pro-pemerintah merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan menyerukan sebuah gencatan senjata kemanusiaan.
Menurut pemantau krisis Suriah, pemboman besar-besaran ini dianggap sebagai serangan terberat dari pasukan loyalis Presiden Bashar al-Assad dalam tiga tahun terakhir. Serangan itu sebagai upaya rezim Assad untuk mengakhiri pemberontakan yang sudah berlangsung selama tujuh tahun.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengatakan bahwa dia sangat khawatir dengan meningkatnya kekerasan di wilayah Ghouta, Suriah. Lebih dari 200 orang tewas dalam serangan yang dilancarkan pasukan pro-pemerintah Suriah dalam dua hari terakhir.
Juru bicara Guterres, Stephane Dujarric, menuturkan bahwa pria asal Lisbon, Portugal itu mendesak semua pihak untuk menegakkan prinsip-prinsip dasar hukum humaniter, termasuk perlindungan warga sipil.
"Sekretaris Jenderal sangat khawatir dengan situasi yang meningkat di Ghouta Timur dan dampaknya yang menghancurkan pada warga sipil," kata Dujarric dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Al Arabiya pada Rabu (21/2).
"Hampir 400 ribu orang di Ghouta Timur terus mengalami serangan udara, penembakan, dan pemboman. Dikepung oleh pasukan pemerintah Suriah, penduduk Ghouta Timur hidup dalam kondisi ekstrim, termasuk kekurangan gizi," sambungnya.
Dujaric menambahkan, Guterres ingat bahwa Ghouta Timur telah ditunjuk sebagai zona de-eskalasi oleh Rusia, Iran dan Turki. "Sekertaris Jenderal mengingatkan semua pihak tentang komitmen mereka dalam hal ini," tukasnya.
Sebelumnya, Prancis menuturkan pemboman di Ghouta timur oleh pasukan pro-pemerintah merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan menyerukan sebuah gencatan senjata kemanusiaan.
Menurut pemantau krisis Suriah, pemboman besar-besaran ini dianggap sebagai serangan terberat dari pasukan loyalis Presiden Bashar al-Assad dalam tiga tahun terakhir. Serangan itu sebagai upaya rezim Assad untuk mengakhiri pemberontakan yang sudah berlangsung selama tujuh tahun.
(esn)