Pembelot: Takut Diserang Trump, Kim Jong-un Diplomasi dengan Korsel
Jum'at, 16 Februari 2018 - 11:29 WIB
Pembelot: Takut Diserang Trump, Kim Jong-un Diplomasi dengan Korsel
A
A
A
WASHINGTON - Seorang mantan pejabat ekonomi Korea Utara (Korut) yang telah membelot mengatakan bahwa Kim Jong-un sekarang terlibat dalam diplomasi dengan Korea Selatan (Korsel). Penyebabnya karena diktator muda itu takut negaranya diserang militer Amerika Serikat (AS) di bawah komando Presiden Donald Trump.
”Kim Jong-un takut bahwa AS akan melakukan serangan preventif, dan dia mencoba untuk membeli waktu untuk menyelesaikan program nuklir dan misilnya,” kata pembelot bernama Ri Jong Ho tersebut seperti dilansir Yonhap, Jumat (16/2/2018).
Ri, yang bekerja selama tiga dekade di kantor ekonomi Korea Utara guna mengumpulkan dana untuk Kim, berbicara di sebuah forum Wilson Center di Washington.
Menurut Ri, tak hanya ancaman tindakan militer Donald Trump yang berpengaruh terhadap Korea Utara. Upaya diplomatik AS untuk mengunci Pyongyang dari perdagangan dunia juga mulai “menggigit”.
”Kim Jong-un sedang berjuang di bawah sanksi terkuat, namun (juga menghadapi) sanksi militer dan diplomatik, jadi dia berusaha memperbaiki situasi dengan memasang front palsu,” kata Ri.
Ri, yang membelot pada 2014, mengaku tidak tahu pemikiran rezim Pyongyang saat ini. Namun, dia tahu persis situasi ekonomi negaranya sebelum dijatuhi rentetan sanksi AS dan DK PBB.
Pernyataan Ri sinkron dengan isyarat administrasi Trump yang nyaris menyerang Korea Utara.
Kendati demikian, pernyataan Ri juga menyulut salah satu ketakutan terburuk AS bahwa Kim Jong-un tidak secara sah ingin melakukan perdamaian dengan Korea Selatan. Diktator muda itu dinilai ingin menggunakan tipu muslihat diplomasi untuk mengulur waktu sampai program nuklirnya rampung dan menjadikan warga sipil Korea Selatan sebagai “sandera”.
”Tergantung pada keadaan, Korea Utara dapat menahan sandera Korea Selatan dan melanjutkan provokasi yang mengancam,” kata Ri.
Pemikiran Ri senada dengan Kepala Komando Pasifik AS, Laksamana Harry Harris.“Kim, setelah penyatuan kembali di bawah satu sistem komunis tunggal, dia mengejar apa yang gagal dilakukan kakeknya dan ayahnya,” kata Harris pada hari Rabu di hadapan Komite Angkatan Bersenjata Senat AS.
Tapi akhir permainan Kim Jong-un tidak relevan saat ini. Ada bukti bahwa sebuah kampanye sanksi pimpinan AS telah mulai berjalan untuk menyengsarakan rezim Kim Jong-un.
”Kim Jong-un takut bahwa AS akan melakukan serangan preventif, dan dia mencoba untuk membeli waktu untuk menyelesaikan program nuklir dan misilnya,” kata pembelot bernama Ri Jong Ho tersebut seperti dilansir Yonhap, Jumat (16/2/2018).
Ri, yang bekerja selama tiga dekade di kantor ekonomi Korea Utara guna mengumpulkan dana untuk Kim, berbicara di sebuah forum Wilson Center di Washington.
Menurut Ri, tak hanya ancaman tindakan militer Donald Trump yang berpengaruh terhadap Korea Utara. Upaya diplomatik AS untuk mengunci Pyongyang dari perdagangan dunia juga mulai “menggigit”.
”Kim Jong-un sedang berjuang di bawah sanksi terkuat, namun (juga menghadapi) sanksi militer dan diplomatik, jadi dia berusaha memperbaiki situasi dengan memasang front palsu,” kata Ri.
Ri, yang membelot pada 2014, mengaku tidak tahu pemikiran rezim Pyongyang saat ini. Namun, dia tahu persis situasi ekonomi negaranya sebelum dijatuhi rentetan sanksi AS dan DK PBB.
Pernyataan Ri sinkron dengan isyarat administrasi Trump yang nyaris menyerang Korea Utara.
Kendati demikian, pernyataan Ri juga menyulut salah satu ketakutan terburuk AS bahwa Kim Jong-un tidak secara sah ingin melakukan perdamaian dengan Korea Selatan. Diktator muda itu dinilai ingin menggunakan tipu muslihat diplomasi untuk mengulur waktu sampai program nuklirnya rampung dan menjadikan warga sipil Korea Selatan sebagai “sandera”.
”Tergantung pada keadaan, Korea Utara dapat menahan sandera Korea Selatan dan melanjutkan provokasi yang mengancam,” kata Ri.
Pemikiran Ri senada dengan Kepala Komando Pasifik AS, Laksamana Harry Harris.“Kim, setelah penyatuan kembali di bawah satu sistem komunis tunggal, dia mengejar apa yang gagal dilakukan kakeknya dan ayahnya,” kata Harris pada hari Rabu di hadapan Komite Angkatan Bersenjata Senat AS.
Tapi akhir permainan Kim Jong-un tidak relevan saat ini. Ada bukti bahwa sebuah kampanye sanksi pimpinan AS telah mulai berjalan untuk menyengsarakan rezim Kim Jong-un.
(mas)