Duterte: Jika Saya Tak Bertindak seperti Diktator Filipina Tak Maju
Jum'at, 09 Februari 2018 - 02:30 WIB
Duterte: Jika Saya Tak Bertindak seperti Diktator Filipina Tak Maju
A
A
A
MANILA - Presiden Rodrigo Duterte mengatakan jika bukan karena gaya diktatornya, Filipina tidak akan maju dan tidak pernah membaik. Komentarnya itu muncul di saat usulannya untuk merevisi kontitusi Filipina ramai ditentang kubu oposisi.
Presiden Filipina itu mengusulkan perubahan sistem pemerintahan menjadi sistem federal dengan merevisi kontitusi. Namun, para pemimpin oposisi menentangnya.
“Jika Anda mengatakan diktator, saya benar-benar seorang diktator, jika saya tidak bertindak (seperti seorang) diktator, tidak akan terjadi apa-apa di negara ini,” kata Duterte dalam pidatonya sebuah pertemuan di Visayan, seperti dikutip dari The SunStar Manila, Jumat (9/2/2018).
Pertemuan itu melibatkan para mantan pemberontak komunis. Dia mengklaim gaya pemerintahannya yang keras diperlukan untuk menopang kemajuan dan pertumbuhan di Filipina.
”Itu benar, jika saya tidak bertindak (seperti seorang) diktator, yang merupakan gaya saya sekarang, tidak akan terjadi apa-apa di negara ini,” ujar Duterte.
”Saya harus (bertindak seperti seorang diktator). Selain itu, Anda telah memilih saya sebagai presiden Anda, mengapa Anda tidak mengikuti saya saat impian saya adalah untuk Anda?".
Baca: Duterte Perintahkan Militer Tembak Dirinya jika Jadi Diktator
Para kritikus telah lama menuduh Duterte memiliki kecenderungan otoriter, mengingat retorika abrasif dan agresifnya saat berhadapan dengan lawan-lawannya. Sikap kerasnya dalam perang melawan narkoba juga dianggap sebagai ciri-ciri pemerintahan Duterte otoriter.
Pemimpin Filipina ini pernah mendapat kecaman keras karena mengumumkan darurat militer di Kota Marawi, Mindanao, pada tahun lalu saat kelompok pro-ISIS berulah.
Pidato Duterte ini berlawanan dengan pernyataannya beberapa waktu lalu yang menegaskan bahwa dia tidak berniat menjadi diktator. Saat itu, dia memerintahkan militer dan polisi untuk menembaknya jika dia memperpanjang masa jabatannya sebagai presiden yang akan berakhir pada 2022.
Presiden Filipina itu mengusulkan perubahan sistem pemerintahan menjadi sistem federal dengan merevisi kontitusi. Namun, para pemimpin oposisi menentangnya.
“Jika Anda mengatakan diktator, saya benar-benar seorang diktator, jika saya tidak bertindak (seperti seorang) diktator, tidak akan terjadi apa-apa di negara ini,” kata Duterte dalam pidatonya sebuah pertemuan di Visayan, seperti dikutip dari The SunStar Manila, Jumat (9/2/2018).
Pertemuan itu melibatkan para mantan pemberontak komunis. Dia mengklaim gaya pemerintahannya yang keras diperlukan untuk menopang kemajuan dan pertumbuhan di Filipina.
”Itu benar, jika saya tidak bertindak (seperti seorang) diktator, yang merupakan gaya saya sekarang, tidak akan terjadi apa-apa di negara ini,” ujar Duterte.
”Saya harus (bertindak seperti seorang diktator). Selain itu, Anda telah memilih saya sebagai presiden Anda, mengapa Anda tidak mengikuti saya saat impian saya adalah untuk Anda?".
Baca: Duterte Perintahkan Militer Tembak Dirinya jika Jadi Diktator
Para kritikus telah lama menuduh Duterte memiliki kecenderungan otoriter, mengingat retorika abrasif dan agresifnya saat berhadapan dengan lawan-lawannya. Sikap kerasnya dalam perang melawan narkoba juga dianggap sebagai ciri-ciri pemerintahan Duterte otoriter.
Pemimpin Filipina ini pernah mendapat kecaman keras karena mengumumkan darurat militer di Kota Marawi, Mindanao, pada tahun lalu saat kelompok pro-ISIS berulah.
Pidato Duterte ini berlawanan dengan pernyataannya beberapa waktu lalu yang menegaskan bahwa dia tidak berniat menjadi diktator. Saat itu, dia memerintahkan militer dan polisi untuk menembaknya jika dia memperpanjang masa jabatannya sebagai presiden yang akan berakhir pada 2022.
(mas)