Teheran Curiga Intelijen Saudi Dalang Serangan Terorisme di Iran
Kamis, 25 Januari 2018 - 13:12 WIB
Teheran Curiga Intelijen Saudi Dalang Serangan Terorisme di Iran
A
A
A
TEHERAN - Kementerian Intelijen Iran mencurigai dinas intelijen Arab Saudi terlibat dalam perdagangan ilegal bahan peledak di perbatasan yang digunakan dalam aksi teror. Demikian pernyataan kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan.
Dinas keamanan Iran berhasil mendeteksi dua bom besar serta bahan peledak dan peluru yang dikirim ke Iran melalui perbatasan timur negara itu.
"Selama operasi pertama, 23 bom yang dioperasikan dari jarak jauh, yang disiapkan dan dikirim ke bagian timur Iran di bawah pengawasan badan intelijen Saudi, telah terdeteksi," kata pernyataan Kementerian Intelijen Iran seperti dikutip dari Sputnik, Kamis (25/1/2018).
Operasi kedua dilakukan di bagian barat negara - Kurdistan Iran - di mana petugas keamanan berhasil mengungkap peralatan dan bahan yang dibutuhkan untuk membuat alat peledak. Mereka dikatakan termasuk salah satu dari "kelompok teror separatis."
Kementerian tersebut menambahkan bahwa anggota sebuah kelompok, yang berasal dari Kurdistan Irak, memiliki 41 granat, lebih dari 30 magazine untuk senjata serbu Kalashnikov dan beberapa roket untuk senjata anti-tank.
Dua kekuatan utama Timur Tengah, Iran dan Arab Saudi, memiliki perselisihan mendalam mengenai sejumlah isu regional, termasuk konflik di Suriah dan Yaman. Pada 2016, Arab Saudi memutuskan hubungan dengan Iran menyusul demonstrasi tepat di depan pos diplomatiknya di Teheran.
Baru-baru ini, Presiden Iran Hassan Rouhani menyebut dua kondisi untuk mencairkan hubungan antara kedua negara, dengan mengatakan bahwa Riyadh harus "menghentikan persahabatan yang salah arah dengan Israel dan pemboman Yaman yang tidak manusiawi.
Dinas keamanan Iran berhasil mendeteksi dua bom besar serta bahan peledak dan peluru yang dikirim ke Iran melalui perbatasan timur negara itu.
"Selama operasi pertama, 23 bom yang dioperasikan dari jarak jauh, yang disiapkan dan dikirim ke bagian timur Iran di bawah pengawasan badan intelijen Saudi, telah terdeteksi," kata pernyataan Kementerian Intelijen Iran seperti dikutip dari Sputnik, Kamis (25/1/2018).
Operasi kedua dilakukan di bagian barat negara - Kurdistan Iran - di mana petugas keamanan berhasil mengungkap peralatan dan bahan yang dibutuhkan untuk membuat alat peledak. Mereka dikatakan termasuk salah satu dari "kelompok teror separatis."
Kementerian tersebut menambahkan bahwa anggota sebuah kelompok, yang berasal dari Kurdistan Irak, memiliki 41 granat, lebih dari 30 magazine untuk senjata serbu Kalashnikov dan beberapa roket untuk senjata anti-tank.
Dua kekuatan utama Timur Tengah, Iran dan Arab Saudi, memiliki perselisihan mendalam mengenai sejumlah isu regional, termasuk konflik di Suriah dan Yaman. Pada 2016, Arab Saudi memutuskan hubungan dengan Iran menyusul demonstrasi tepat di depan pos diplomatiknya di Teheran.
Baru-baru ini, Presiden Iran Hassan Rouhani menyebut dua kondisi untuk mencairkan hubungan antara kedua negara, dengan mengatakan bahwa Riyadh harus "menghentikan persahabatan yang salah arah dengan Israel dan pemboman Yaman yang tidak manusiawi.
(ian)