Dukung Kesepakatan Nuklir, Uni Eropa-Iran Akan Bertemu
Kamis, 11 Januari 2018 - 09:56 WIB
Dukung Kesepakatan Nuklir, Uni Eropa-Iran Akan Bertemu
A
A
A
BRUSSELS - Kekuatan Eropa akan menegaskan kembali dukungan mereka untuk kesepakatan nuklir Iran yang ditolak oleh Donald Trump. Dukungan ini muncul jelang batas waktu bagi Presiden Amerika Serikat (AS) itu untuk memutuskan apakah akan mengajukan kembali sanksi minyak yang dicabut di bawah perjanjian tersebut.
Dalam sebuah pertemuan dengan Iran, Inggris, Prancis, dan Jerman, yang diadakan oleh diplomat tertinggi Uni Eropa Federica Mogherini, kekuatan Eropa yang membantu menegosiasikan kesepakatan 2015 di Wina akan meyakinkan Teheran bahwa mereka tetap berkomitmen untuk melakukannya.
Para menteri luar negeri Inggris, Jerman, Prancis dan juga Mohammad Javad Zarif dari Iran, diharapkan bertemu pada hari Kamis (11/1/2018) pagi dengan Mogherini, kepala kebijakan luar negeri UE.
Pertemuan di Brussels itu merupakan bagian dari diplomasi di kedua sisi Atlantik sebelum tenggat waktu terkait kesepakatan jatuh bulan ini, termasuk memutuskan apakah akan mengajukan kembali sanksi minyak yang diangkat berdasarkan kesepakatan tersebut.
Para diplomat Uni Eropa mengatakan mereka juga akan mendesak Iran untuk terus mematuhi inspektur internasional. Teheran sendiri selalu menolak jika mereka dikatakan tengah mencari senjata nuklir.
"Tujuannya adalah untuk mengirim pesan ke Washington bahwa Iran mematuhi kesepakatan dan bahwa lebih baik memiliki perjanjian nuklir daripada mengisolasi Teheran," kata seorang diplomat seperti dilansir dari Reuters.
Seorang diplomat kedua mengatakan: "Tanggal pertemuan bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah kampanye yang telah kami lakukan sejak Oktober," mengacu pada keputusan Trump untuk tidak menyatakan bahwa Teheran memenuhi persyaratan sebuah perjanjian untuk menghentikannya berkembang menjadi senjata nuklir.
Seorang juru bicara kementerian luar negeri Prancis mengatakan Menteri Luar negeri Jean-Yves Le Drian mengungkapkan kekhawatiran Paris tentang kesepakatan tersebut dan juga programa rudal balistik Iran. Meski begitu, ia tetap berusaha untuk tetap membuka dialog dengan Iran.
"Perancis bertekad untuk tetap mempertahankan kesepakatan Wina. Iran harus segera menerapkan perikatannya," kata juru bicara kementerian luar negeri Alexandre Giorgini.
Seorang juru bicara badan energi atom Iran mengatakan pada hari Rabu bahwa sebuah pengesahan kembali sanksi oleh AS akan menjadi pelanggaran kesepakatan nuklir dan menambahkan bahwa Republik Islam memiliki kapasitas untuk meningkatkan pengayaan uraniumnya secara signifikan.
Baca juga:
Iran Ancam Percepat Pengayaan Uranium jika AS Berlakukan Sanksi
Presiden AS Donald Trump harus memutuskan pada pertengahan Januari ini apakah akan melanjutkan pembebasan sanksi terhadap ekspor minyak Iran berdasarkan ketentuan perjanjian. Departemen Luar Negeri mengatakan pada hari Selasa bahwa pemerintahan Trump diperkirakan akan memutuskan pada hari Jumat esok.
Keputusan tersebut muncul saat pemerintah Iran menghadapi protes atas kesulitan ekonomi dan korupsi yang menimbulkan frustasi di kalangan generasi muda Iran yang berharap dapat memperoleh lebih banyak manfaat dari pencabutan sanksi tersebut.
Pensiunan perwira militer, anggota Kongres dan mantan duta besar AS ada di antara 52 pakar keamanan nasional yang menandatangani sebuah surat yang dikeluarkan pada hari Senin mendesak Trump untuk tidak membahayakan kesepakatan dengan Iran.
Negara-negara Eropa termasuk Prancis dan Italia mendapat keuntungan dari perdagangan baru dengan Iran, yang cadangan gas alamnya terbukti seluas Rusia, sementara Inggris membuka kembali kedutaan besarnya di Teheran menyusul kesepakatan tersebut.
Jika Trump mengulangi sanksi terhadap Teheran, kekuatan Eropa khawatir kesepakatan itu akan berantakan. Uni Eropa bersikeras bahwa kesepakatan tersebut tidak dapat dinegosiasikan ulang.
Dalam sebuah pertemuan dengan Iran, Inggris, Prancis, dan Jerman, yang diadakan oleh diplomat tertinggi Uni Eropa Federica Mogherini, kekuatan Eropa yang membantu menegosiasikan kesepakatan 2015 di Wina akan meyakinkan Teheran bahwa mereka tetap berkomitmen untuk melakukannya.
Para menteri luar negeri Inggris, Jerman, Prancis dan juga Mohammad Javad Zarif dari Iran, diharapkan bertemu pada hari Kamis (11/1/2018) pagi dengan Mogherini, kepala kebijakan luar negeri UE.
Pertemuan di Brussels itu merupakan bagian dari diplomasi di kedua sisi Atlantik sebelum tenggat waktu terkait kesepakatan jatuh bulan ini, termasuk memutuskan apakah akan mengajukan kembali sanksi minyak yang diangkat berdasarkan kesepakatan tersebut.
Para diplomat Uni Eropa mengatakan mereka juga akan mendesak Iran untuk terus mematuhi inspektur internasional. Teheran sendiri selalu menolak jika mereka dikatakan tengah mencari senjata nuklir.
"Tujuannya adalah untuk mengirim pesan ke Washington bahwa Iran mematuhi kesepakatan dan bahwa lebih baik memiliki perjanjian nuklir daripada mengisolasi Teheran," kata seorang diplomat seperti dilansir dari Reuters.
Seorang diplomat kedua mengatakan: "Tanggal pertemuan bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah kampanye yang telah kami lakukan sejak Oktober," mengacu pada keputusan Trump untuk tidak menyatakan bahwa Teheran memenuhi persyaratan sebuah perjanjian untuk menghentikannya berkembang menjadi senjata nuklir.
Seorang juru bicara kementerian luar negeri Prancis mengatakan Menteri Luar negeri Jean-Yves Le Drian mengungkapkan kekhawatiran Paris tentang kesepakatan tersebut dan juga programa rudal balistik Iran. Meski begitu, ia tetap berusaha untuk tetap membuka dialog dengan Iran.
"Perancis bertekad untuk tetap mempertahankan kesepakatan Wina. Iran harus segera menerapkan perikatannya," kata juru bicara kementerian luar negeri Alexandre Giorgini.
Seorang juru bicara badan energi atom Iran mengatakan pada hari Rabu bahwa sebuah pengesahan kembali sanksi oleh AS akan menjadi pelanggaran kesepakatan nuklir dan menambahkan bahwa Republik Islam memiliki kapasitas untuk meningkatkan pengayaan uraniumnya secara signifikan.
Baca juga:
Iran Ancam Percepat Pengayaan Uranium jika AS Berlakukan Sanksi
Presiden AS Donald Trump harus memutuskan pada pertengahan Januari ini apakah akan melanjutkan pembebasan sanksi terhadap ekspor minyak Iran berdasarkan ketentuan perjanjian. Departemen Luar Negeri mengatakan pada hari Selasa bahwa pemerintahan Trump diperkirakan akan memutuskan pada hari Jumat esok.
Keputusan tersebut muncul saat pemerintah Iran menghadapi protes atas kesulitan ekonomi dan korupsi yang menimbulkan frustasi di kalangan generasi muda Iran yang berharap dapat memperoleh lebih banyak manfaat dari pencabutan sanksi tersebut.
Pensiunan perwira militer, anggota Kongres dan mantan duta besar AS ada di antara 52 pakar keamanan nasional yang menandatangani sebuah surat yang dikeluarkan pada hari Senin mendesak Trump untuk tidak membahayakan kesepakatan dengan Iran.
Negara-negara Eropa termasuk Prancis dan Italia mendapat keuntungan dari perdagangan baru dengan Iran, yang cadangan gas alamnya terbukti seluas Rusia, sementara Inggris membuka kembali kedutaan besarnya di Teheran menyusul kesepakatan tersebut.
Jika Trump mengulangi sanksi terhadap Teheran, kekuatan Eropa khawatir kesepakatan itu akan berantakan. Uni Eropa bersikeras bahwa kesepakatan tersebut tidak dapat dinegosiasikan ulang.
(ian)