OKI Nyatakan AS Bukan Lagi Mediator Damai Timur Tengah
Kamis, 14 Desember 2017 - 11:36 WIB
OKI Nyatakan AS Bukan Lagi Mediator Damai Timur Tengah
A
A
A
ISTANBUL - Negara-negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam menyatakan Amerika Serikat (AS) tidak lagi menjadi mediator damai Timur Tengah. OKI juga telah mendklarasikan bahwa Yerusalem Timur Ibu Kota dari Palestina.
Baca juga:
Negara-negara Muslim Akui Yerusalem Timur Ibu Kota Palestina
Deklarasi itu dilakukan dalam sebuah pertemuan darurat yang dilakukan di Istanbul, Turki. Organisasi yang beranggota 57 negara ini menganggap keputusan Washington untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel sebagai tanda penarikan AS dari perannya sebagai sponsor perdamaian Timur Tengah.
Dalam kesempatan itu, Presiden Palestina Mahmoud Abbas meminta negara-negara dunia untuk mempertimbangkan kembali pengakuan mereka atas Israel setelah keputusan AS mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.
"Kami meminta negara-negara dunia untuk mempertimbangkan kembali pengakuan mereka atas Israel atas tindakannya terhadap orang-orang Palestina dan gugatannya terhadap masyarakat internasional dengan dukungan dari Amerika Serikat," kata Abbas seperti dikutip dari Haaretz, Kamis (14/12/2017).
Abbas juga meminta negara-negara dunia, khususnya negara-negara Eropa, untuk secara resmi mengakui Palestina di dalam perbatasan tahun 1967. Dia mengatakan bahwa Raja Arab Saudi Salman bin Abdullah berjanji kepadanya secara pribadi bahwa tidak akan ada kesepakatan damai tanpa sebuah negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya.
"Trump memberikan Yerusalem kepada gerakan Zionis seolah-olah seperti kota Amerika, tapi untuk pertama kalinya seluruh dunia menentangnya, bahkan Inggris, Kanada dan Australia," cetus Abbas.
Turki, tuan rumah KTT tersebut, telah mengkritik dengan tajam apa yang digambarkan sebagai tanggapan Arab yang lemah sejauh ini atas isu Yerusalem yang diperebutkan.
Berbicara dalam pertemuan tersebut, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menggambarkan keputusan Washington sebagai hadiah atas "tindakan teror" Israel dan mengatakan bahwa Yerusalem adalah garis batas bagi umat Islam. Untuk kedua kalinya minggu ini, Erdogan menyebut Israel sebagai "negara teror".
Pemimpin Turki tersebut meminta kekuatan dunia untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Palestina dan mengatakan bahwa AS harus mencabut keputusannya.
Sementara Raja Arab Saudi Salman mengatakan bahwa Palestina memiliki hak atas Yerusalem Timur sebagai ibukota negara Palestina masa depan.
"Kerajaan telah meminta solusi politik untuk menyelesaikan krisis regional, yang terpenting adalah masalah Palestina dan pemulihan hak-hak sah orang-orang Palestina, termasuk hak untuk mendirikan negara merdeka mereka dengan Yerusalem timur sebagai ibukotanya," ujar Raja Salman.
Baca juga:
Raja Salman: Hak Palestina Merdeka Beribukota di Yerusalem Timur
Dalam pidatonya di puncak pertemuan, Raja Yordania Abdullah menolak usaha apapun untuk mengubah status Yerusalem atau tempat-tempat suci, dan mengatakan bahwa perdamaian tidak akan sampai ke wilayah tersebut tanpa sebuah resolusi konflik Israel-Palestina.
"Semua kekerasan adalah akibat dari kegagalan menemukan solusi damai untuk masalah Palestina," katanya.
Baca juga:
Negara-negara Muslim Akui Yerusalem Timur Ibu Kota Palestina
Deklarasi itu dilakukan dalam sebuah pertemuan darurat yang dilakukan di Istanbul, Turki. Organisasi yang beranggota 57 negara ini menganggap keputusan Washington untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel sebagai tanda penarikan AS dari perannya sebagai sponsor perdamaian Timur Tengah.
Dalam kesempatan itu, Presiden Palestina Mahmoud Abbas meminta negara-negara dunia untuk mempertimbangkan kembali pengakuan mereka atas Israel setelah keputusan AS mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel.
"Kami meminta negara-negara dunia untuk mempertimbangkan kembali pengakuan mereka atas Israel atas tindakannya terhadap orang-orang Palestina dan gugatannya terhadap masyarakat internasional dengan dukungan dari Amerika Serikat," kata Abbas seperti dikutip dari Haaretz, Kamis (14/12/2017).
Abbas juga meminta negara-negara dunia, khususnya negara-negara Eropa, untuk secara resmi mengakui Palestina di dalam perbatasan tahun 1967. Dia mengatakan bahwa Raja Arab Saudi Salman bin Abdullah berjanji kepadanya secara pribadi bahwa tidak akan ada kesepakatan damai tanpa sebuah negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya.
"Trump memberikan Yerusalem kepada gerakan Zionis seolah-olah seperti kota Amerika, tapi untuk pertama kalinya seluruh dunia menentangnya, bahkan Inggris, Kanada dan Australia," cetus Abbas.
Turki, tuan rumah KTT tersebut, telah mengkritik dengan tajam apa yang digambarkan sebagai tanggapan Arab yang lemah sejauh ini atas isu Yerusalem yang diperebutkan.
Berbicara dalam pertemuan tersebut, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menggambarkan keputusan Washington sebagai hadiah atas "tindakan teror" Israel dan mengatakan bahwa Yerusalem adalah garis batas bagi umat Islam. Untuk kedua kalinya minggu ini, Erdogan menyebut Israel sebagai "negara teror".
Pemimpin Turki tersebut meminta kekuatan dunia untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Palestina dan mengatakan bahwa AS harus mencabut keputusannya.
Sementara Raja Arab Saudi Salman mengatakan bahwa Palestina memiliki hak atas Yerusalem Timur sebagai ibukota negara Palestina masa depan.
"Kerajaan telah meminta solusi politik untuk menyelesaikan krisis regional, yang terpenting adalah masalah Palestina dan pemulihan hak-hak sah orang-orang Palestina, termasuk hak untuk mendirikan negara merdeka mereka dengan Yerusalem timur sebagai ibukotanya," ujar Raja Salman.
Baca juga:
Raja Salman: Hak Palestina Merdeka Beribukota di Yerusalem Timur
Dalam pidatonya di puncak pertemuan, Raja Yordania Abdullah menolak usaha apapun untuk mengubah status Yerusalem atau tempat-tempat suci, dan mengatakan bahwa perdamaian tidak akan sampai ke wilayah tersebut tanpa sebuah resolusi konflik Israel-Palestina.
"Semua kekerasan adalah akibat dari kegagalan menemukan solusi damai untuk masalah Palestina," katanya.
(ian)