Myanmar Berusaha Hapus Semua Sejarah Rohingya

Minggu, 03 Desember 2017 - 10:33 WIB
Myanmar Berusaha Hapus Semua Sejarah Rohingya
Myanmar Berusaha Hapus Semua Sejarah Rohingya
A A A
SITTWE - Myanmar, melalui sebuah kampanye militer, tengah berusaha untuk menghilangkan bukti sejarah tentang Rohingya. Begitu peringatan yang dikeluarkan oleh lembaga pengawas hak asasi manusia.

"Pasukan keamanan Myanmar telah berusaha untuk secara efektif untuk menghapus semua tanda geografis yang menunjukkan lanskap dan memori tentang Rohingya sedemikian rupa sehingga kembalinya mereka tidak akan menghasilkan apa-apa selain medan yang terpencil dan tak dapat dikenali," bunyi laporan uarkan pada bulan Oktober, Kantor Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia PBB.

Laporan PBB juga mengatakan bahwa tindakan keras di Rakhine telah menargetkan para guru, pemimpin budaya dan agama. Aksi itu juga mengincar orang-orang berpengaruh lainnya di komunitas Rohingya dalam upaya mengurangi sejarah, budaya dan pengetahuan Rohingya.

"Kami adalah orang-orang dengan sejarah dan tradisi kami sendiri," kata U Kyaw Hla Aung, seorang pengacara Rohingya dan mantan tahanan politik, yang ayahnya bertugas sebagai pegawai pengadilan di Sittwe, ibu kota Rakhine.

"Bagaimana mereka bisa berpura-pura kita bukan apa-apa?" tanyanya seperti disitir dari New York Times, Minggu (3/12/2017).

Berbicara melalui telepon, Kyaw Hla Aung mengatakan bahwa keluarganya tidak memiliki cukup makanan karena pejabat telah mencegah distribusi bantuan internasional secara penuh. Aung sendiri telah dipenjara berkali-kali karena aktivismenya dan sekarang diasingkan di sebuah kamp Sittwe.

Amnesia Myanmar yang tiba-tiba tentang Rohingya sama beraninya dengan penghapusan sejarah Rohingya secara sistematik.

Lima tahun yang lalu, Sittwe, yang terletak di muara di Teluk Benggala, adalah kota campuran, terbagi antara mayoritas etnis Rakhine Buddha dan minoritas Muslim Rohingya. Tapi sejak kerusuhan sektarian di tahun 2012, yang mengakibatkan jumlah korban Rohingya yang tidak proporsional, kota ini sebagian besar telah dibersihkan dari umat Islam. Di seberang pusat Rakhine, sekitar 120 ribu orang Rohingya, bahkan mereka yang memiliki kewarganegaraan, telah diasingkan di kamp-kamp, kehilangan mata pencaharian mereka dan dicegah untuk mengakses sekolah atau perawatan kesehatan yang tepat.

Mereka tidak bisa meninggalkan ghetto tanpa izin resmi. Pada bulan Juli, seorang pria Rohingya yang diijinkan masuk ke pengadilan di Sittwe digantung oleh sekelompok etnis Rakhine. Masjid Jama sekarang tidak digunakan lagi dan telah luluh lantak, di belakang kawat berduri. Imam Masjid yang berusia 89 tahun telah diasingkan.

"Kami tidak memiliki hak sebagai manusia. Ini adalah pembersihan etnis yang dilakukan negara dan tidak ada yang lain," kata sang Imam Masjid, meminta untuk tidak menggunakan namanya karena masalah keamanan.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1335 seconds (10.177#12.26)