'Sapu Bersih Korupsi' Saudi Meluas, Bos Travel al-Tayyar Ditangkap
Senin, 06 November 2017 - 16:36 WIB
'Sapu Bersih Korupsi' Saudi Meluas, Bos Travel al-Tayyar Ditangkap
A
A
A
RIYADH - Sebuah gerakan “sapu bersih korupsi” oleh komite anti-korupsi Arab Saudi yang dipimpin Putra Mahkota Mohammed bin Salman meluas pada hari Senin (6/11/2017). Kali ini giliaran Nasser bin Aqeel al-Tayyar, salah satu pendiri perusahaan travel terbesar Kerajaan Arab Saudi ditangkap.
Saham Al Tayyar Travel turun 10 persen pada menit-menit pembukaan perdagangan setelah perusahaan tersebut mengutip laporan media mengatakan bahwa Nasser bin Aqeel al-Tayyar, yang masih merupakan anggota dewan perusahaan, ditahan oleh pihak berwenang.
Baca: Saudi Pecat Para Menteri Senior dan Tahan 11 Pangeran
Perusahaan tersebut tidak memberikan rincian apapun, namun layanan berita ekonomi online SABQ, yang dekat dengan Pemerintah Kerajaan, melaporkan bahwa al-Tayyar telah ditahan terkait penyelidikan yang dilakukan komite anti-korupsi.
Sebelumnya, 11 pangeran, empat menteri senior dan belasan mantan menteri ditangkap dan ditahan terkait penyelidikan anti-korupsi. Dari 11 pangeran yang ditahan terdapa nama Pangeran Alwaleed bin Talal, miliarder top Saudi yang bisnisnya merambah di Barat.
Halaman depan Okaz, sebuah surat kabar terkemuka di Arab Saudi, memajang judul yang menantang terkait penahanan Pangeran Alwaleed. ”Dari mana Anda mendapatkan ini?,” bunyi judul headline dengan warna merah terang yang mempertanyakan asal-usul aset cucu raja pertama Saudi tersebut.
Baca juga: Kena 'Sapu Bersih Korupsi' Saudi, Pangeran Alwaleed Pemodal Top di Barat
Surat kabar Pan-Arab, Al-Asharq Al-Awsat, melaporkan bahwa daftar larangan terbang telah dibuat komite anti-korupsi. Pasukan keamanan telah siaga di beberapa bandara Saudi dan melarang pemilik pesawat jet pribadi untuk lepas landas tanpa izin.
Para pangeran, menteri, mantan menteri dan beberapa pengusaha rata-rata menghadapi tuduhan pencucian uang, penyuapan, pemerasan pejabat dan mengambil keuntungan pribadi lewat jabatan publik. Berbagai tuduhan itu diungkap pejabat Saudi yang mengetahui penyelidikan tersebut, kepada Reuters.
Tuduhan tersebut belum bisa diverifikasi secara independen, terlebih anggota keluarga Kerajaan Saudi tidak mudah dijangkau media.
Sebelum pembersihan anti-korupsi yang dipimpin putra kandung Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud ini diluncurkan, dokumen WikiLeaks pernah merinci tunjangan bulanan yang sangat besar yang diterima setiap anggota kerajaan Saudi. Dokumen itu juga memuat berbagai skema “pembuatan uang” yang telah digunakan beberapa orang untuk membiayai gaya hidup mewah.
Saham Al Tayyar Travel turun 10 persen pada menit-menit pembukaan perdagangan setelah perusahaan tersebut mengutip laporan media mengatakan bahwa Nasser bin Aqeel al-Tayyar, yang masih merupakan anggota dewan perusahaan, ditahan oleh pihak berwenang.
Baca: Saudi Pecat Para Menteri Senior dan Tahan 11 Pangeran
Perusahaan tersebut tidak memberikan rincian apapun, namun layanan berita ekonomi online SABQ, yang dekat dengan Pemerintah Kerajaan, melaporkan bahwa al-Tayyar telah ditahan terkait penyelidikan yang dilakukan komite anti-korupsi.
Sebelumnya, 11 pangeran, empat menteri senior dan belasan mantan menteri ditangkap dan ditahan terkait penyelidikan anti-korupsi. Dari 11 pangeran yang ditahan terdapa nama Pangeran Alwaleed bin Talal, miliarder top Saudi yang bisnisnya merambah di Barat.
Halaman depan Okaz, sebuah surat kabar terkemuka di Arab Saudi, memajang judul yang menantang terkait penahanan Pangeran Alwaleed. ”Dari mana Anda mendapatkan ini?,” bunyi judul headline dengan warna merah terang yang mempertanyakan asal-usul aset cucu raja pertama Saudi tersebut.
Baca juga: Kena 'Sapu Bersih Korupsi' Saudi, Pangeran Alwaleed Pemodal Top di Barat
Surat kabar Pan-Arab, Al-Asharq Al-Awsat, melaporkan bahwa daftar larangan terbang telah dibuat komite anti-korupsi. Pasukan keamanan telah siaga di beberapa bandara Saudi dan melarang pemilik pesawat jet pribadi untuk lepas landas tanpa izin.
Para pangeran, menteri, mantan menteri dan beberapa pengusaha rata-rata menghadapi tuduhan pencucian uang, penyuapan, pemerasan pejabat dan mengambil keuntungan pribadi lewat jabatan publik. Berbagai tuduhan itu diungkap pejabat Saudi yang mengetahui penyelidikan tersebut, kepada Reuters.
Tuduhan tersebut belum bisa diverifikasi secara independen, terlebih anggota keluarga Kerajaan Saudi tidak mudah dijangkau media.
Sebelum pembersihan anti-korupsi yang dipimpin putra kandung Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud ini diluncurkan, dokumen WikiLeaks pernah merinci tunjangan bulanan yang sangat besar yang diterima setiap anggota kerajaan Saudi. Dokumen itu juga memuat berbagai skema “pembuatan uang” yang telah digunakan beberapa orang untuk membiayai gaya hidup mewah.
(mas)