Pancung Perempuan untuk Ritual, Dukun di Afsel Dihukum Seumur Hidup

Minggu, 08 Oktober 2017 - 15:25 WIB
Pancung Perempuan untuk...
Pancung Perempuan untuk Ritual, Dukun di Afsel Dihukum Seumur Hidup
A A A
DURBAN - Seorang dukun di Afrika Selatan dihukum seumur hidup karena telah memerintahkan pembunuhan dan pemancungan terhadap seorang ibu dari India. Rencananya, kepala korban akan digunakan untuk kepentingan ritual.

Sibonakaliso Mbili (34), seorang dukun dari provinsi KwaZulu-Natal pesisir, menjanjikan empat pemuda USD 153 ribu untuk membawakannya kepala ras kulit putih, ras campuran atau wanita India. Ia juga mengatakan akan lebih mudah membawa kepala pekerja seks, dalam sidang yang dihelat di Pengadilan Tinggi Durban.

Pemuda tersebut berhasil memikat seorang PSK, Desiree Murugan, ke lapangan olahraga di luar Durban pada tahun 2014, setelah dilaporkan membayar 100 rand untuk seks. Rincian yang mengerikan menunjukkan bahwa korban ditikam lebih dari 190 kali sebelum tiga remaja memotong kepalanya, dan membawanya ke Mbili. Dukun itu kemudian memotong kepala Murugan menjadi potongan-potongan kecil dan menguburkannya di sekitar halaman rumahnya.

"Dia menggunakan pengaruhnya sebagai sangoma (dukun) dengan menjanjikan (remaja) muthi (obat) yang akan membuat mereka tidak terlihat oleh polisi. Saya setuju dengan Negara Bagian bahwa tidak ada keadaan yang substansial dan mendesak yang akan membuat pengadilan menyimpang dari hukuman maksimum yang ditentukan," kata Hakim Thoba Poyo-Dlwati sebelum memberikan putusannya, seperti dikutip dari Russia Today, Minggu (8/10/2017).

Salah satu remaja, Falakhe Khumalo, yang sebelumnya mengaku melakukan pembunuhan tersebut, saat ini menjalani hukuman seumur hidup sementara kaki tangannya Jimmy Thelejala dan Mlungisi Ndlovu keduanya dihukum waktu 15 tahun. Pemuda keempat, Mbali Magwala, hanya dihukum 12 tahun karena meskipun dia membantu memikat korban, dia tidak ambil bagian dalam pembunuhan.

Dalam vonisnya, Hakim Poyo-Dlwati mengatakan bahwa dia berharap ini akan membantu mencegah penculikan pembunuhan lainnya.

"Tidak masalah keyakinan Anda, jangan menginjak-injak hak hidup manusia lain," cetusnya.

Pembunuhan Murugan sebelumnya telah dikutuk oleh Asosiasi Dukun Tradisional Afrika Selatan karena memberi nama buruk kepada profesi mereka.

Membunuh orang untuk menggunakan bagian tubuh mereka dalam ritual tradisional atau sihir adalah praktik yang masih berlangsung di beberapa wilayah Afrika bagian selatan dan timur, terutama Tanzania, Malawi dan Mozambik. Albino sangat rentan, karena diyakini memiliki sifat magis dan bisa membawa keberuntungan, dengan geng penculik 'pemburu albino' dan membantai mereka untuk tujuan yang tepat ini.
(ian)
Berita Terkait
Indonesia Dorong Aksi...
Indonesia Dorong Aksi Nyata Pemberdayaan Perempuan di G20 Afrika Selatan
4 Alasan Afrika Selatan...
4 Alasan Afrika Selatan Selalu Jadi Pusat Pergeseran Tatanan kekuatan Global pada 2025
Gedung Parlemen Afrika...
Gedung Parlemen Afrika Selatan di Cape Town Terbakar
Presiden Afsel Berupaya...
Presiden Afsel Berupaya Pertahankan Kekuasaan di Tengah Skandal Korupsi
25.000 Tentara Dikerahkan...
25.000 Tentara Dikerahkan untuk Redam Kerusuhan di Afrika Selatan
Kerusuhan Afrika Selatan...
Kerusuhan Afrika Selatan Menggila, 212 Orang Tewas Secara Brutal
Berita Terkini
Jenazah Ayatollah Khamenei...
Jenazah Ayatollah Khamenei Akan Dimakamkan pada 9 Juli
3 jam yang lalu
PM Pakistan: Perjanjian...
PM Pakistan: Perjanjian Damai Iran dan AS Terwujud dalam 24 Jam Mendatang
5 jam yang lalu
3 Alasan Provinsi Alberta...
3 Alasan Provinsi Alberta Ingin Tinggalkan Kanada dan Bergabung dengan AS
5 jam yang lalu
Pasukan Elite AS Siapkan...
Pasukan Elite AS Siapkan Skenario Caplok Uranium Iran, tapi Kenapa Tidak Dilaksanakan?
6 jam yang lalu
Promosikan Startup ke...
Promosikan Startup ke Dunia, Indonesia Gabung London Tech Week
7 jam yang lalu
Tak Ingin Bernasib seperti...
Tak Ingin Bernasib seperti Ukraina, Polandia Operasikan Jet Tempur Siluman
7 jam yang lalu
Infografis
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved