Dewan Keamanan PBB Bahas Aksi Kekerasan Terhadap Rohingya

Kamis, 31 Agustus 2017 - 23:55 WIB
Dewan Keamanan PBB Bahas...
Dewan Keamanan PBB Bahas Aksi Kekerasan Terhadap Rohingya
A A A
NEW YORK - Dewan Keamanan (DK) PBB membahas aksi kekerasan di Myanmar. Bentrokan dan aksi kekerasan oleh militer di negara bagian Rakhine telah membuat 18.500 etnis Rohingya melarikan diri melintasi perbatasan ke Bangladesh.

Tidak ada pernyataan resmi dari 15 anggota dewan setelah pertemuan tertutup tersebut. Namun Duta Besar Inggris untuk PBB Matthew Rycroft mengatakan bahwa ada seruan dari anggota dewan untuk de-eskalasi.

"Kami semua mengutuk kekerasan tersebut, kami semua meminta semua pihak untuk menguranginya," kata Rycroft seperti disitir dari Channel News Asia, Kamis (31/8/2017).

Bentrokan tersebut dimulai pada hari Jumat pekan lalu setelah gerilyawan dari minoritas Muslim Rohingya melakukan serangan mendadak terhadap pos polisi.

Kekerasan tersebut telah menyebabkan sedikitnya 110 orang, termasuk 11 pejabat negara, tewas dan ribuan orang Rohingya telah melintasi perbatasan ke Bangladesh meskipun Dhaka berupaya untuk menghentikan mereka.

Militer Myanmar telah melakukan penyisiran terhadap kelompok militan, dengan warga melaporkan bahwa pasukan keamanan membakar desa-desa.

Inggris meminta pertemuan di Myanmar, namun para diplomat mengatakan bahwa China menolak keterlibatan yang lebih kuat oleh DK PBB dalam menangani krisis tersebut.

Masih belum jelas apakah tindakan lebih lanjut direncanakan, namun isu tersebut diperkirakan akan dibahas dalam pertemuan tahunan para pemimpin dunia di Majelis Umum pada bulan September.

Rycroft mengatakan dewan tersebut masih mendukung Aung San Suu Kyi, pemenang hadiah Nobel dan ikon demokrasi yang sekarang memimpin pemerintah di Yangon.

"Banyak dari kita adalah sekutu yang sangat mendukungnya yang telah mengikuti kemajuannya dengan kekaguman dari kejauhan," katanya.

"Kami melihat dia untuk menetapkan suara yang tepat dan untuk menemukan kompromi dan de-eskalasi yang diperlukan untuk menyelesaikan konflik demi kebaikan semua orang di Myanmar," imbuhnya.

Rycroft menunjuk rekomendasi yang diajukan oleh mantan kepala PBB Kofi Annan yang menyerukan diakhirinya pembatasan kewarganegaraan dan gerakan yang dikenakan pada orang-orang Rohingya sebagai jalan keluar dari kekerasan tersebut.
(ian)
Berita Terkait
PBB Khawatir Nasib Rohingya...
PBB Khawatir Nasib Rohingya di Myanmar Kian Terpuruk setelah Kudeta
Negara Kecil Ini Ingin...
Negara Kecil Ini Ingin Myanmar Dihukum atas Genosida Etnis Muslim Rohingya
Sebut Tentaranya Diancam,...
Sebut Tentaranya Diancam, Myanmar Bantah Pengakuan Kekejaman Rohingya
Pengakuan Tentara Myanmar...
Pengakuan Tentara Myanmar Soal Pembantaian Rohingya: Bunuh Mereka Semua
Pendekatan Rasional...
Pendekatan Rasional terhadap Krisis Rohingya
Agama Warga Negara Bagian...
Agama Warga Negara Bagian Rakhine Myanmar dan Persentasenya
Berita Terkini
Selalu Jadi Target Iran,...
Selalu Jadi Target Iran, Kuwait Beli Senjata Anti-Drone Senilai Rp36 Triliun dari AS
40 menit yang lalu
140 Drone Ukraina Hajar...
140 Drone Ukraina Hajar St Petersburg, Rusia: Serangan Ini Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
1 jam yang lalu
Putin Klaim Tak Melihat...
Putin Klaim Tak Melihat Adanya Provokasi dari Iran
2 jam yang lalu
Hanya Karena Dukung...
Hanya Karena Dukung Iran, Presenter TV Cantik Kuwait Ini Dijatuhi Hukuman Penjara
3 jam yang lalu
Negara Anggota NATO...
Negara Anggota NATO Ini Mengalami Kemandulan Kemampuan Militer Terburuk
4 jam yang lalu
Kim Jong-un Perintahkan...
Kim Jong-un Perintahkan AL Korut Produksi Kapal Perusak dan Senjata Bawah Air Rahasia
5 jam yang lalu
Infografis
10 Alasan Revolusi Prancis...
10 Alasan Revolusi Prancis Jadi Simbol Perlawanan Rakyat terhadap Tirani dan Ketidakadilan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved