Moskow Tak Gentar dengan Sanksi Baru AS
Kamis, 03 Agustus 2017 - 05:53 WIB
Moskow Tak Gentar dengan Sanksi Baru AS
A
A
A
MOSKOW - Moskow "tidak akan membungkuk" atau tidak memiliki rencana untuk mengubah kebijakannya menyusul penandatanganan sanksi baru anti Rusia oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Hal itu dikatakan oleh perwakilan permanen Rusia di PBB, Vassily Nebenzia.
Baca juga:
Sah, Trump Teken Sanksi untuk Rusia
"Mereka yang menemukan undang-undang ini, jika mereka berpikir bahwa mereka mungkin akan mengubah kebijakan kami, mereka salah, seperti yang telah terbukti berkali-kali dalam sejarah. Mereka seharusnya tahu lebih baik bahwa kami tidak akan membungkuk dan tidak akan mengubah (kebijakan)," kata Nebenzia seperti dikutip dari Russia Today, Kamis (3/8/2017).
Nebenzia menambahkan bahwa ratifikasi tersebut diharapkan, dan akan "mau tidak mau" lebih lanjut merusak hubungan antara kedua negara.
"Beberapa pejabat AS mengatakan bahwa ini adalah undang-undang yang bisa mendorong Rusia untuk bekerja sama. Ini adalah bentuk dorongan yang aneh, tapi bukan kebiasaan kita untuk menjadi anak yang menyebalkan," lanjut diplomat tersebut, yang menjanjikan bahwa Moskow tidak bergantung pada menemukan cara untuk bekerja sama di arena internasional mengenai isu-isu seperti Suriah.
Kremlin juga memilih untuk tidak meningkatkan situasi lebih lanjut.
"De facto, ini tidak mengubah apapun. Tidak ada yang baru di sini. Tindakan balasan telah dilakukan," kata sekretaris pers Vladimir Putin, Dmitry Peskov.
Setelah rancangan undang-undang sanksi Rusia disetujui oleh DPR dan Senat pekan lalu, presiden Rusia tersebut mengumumkan bahwa AS harus memangkas staf kedutaan besarnya di negara tersebut sebanyak 755 orang pada bulan September. Putin juga mengatakan bahwa Moskow akan menyita beberapa bangunan yang digunakan oleh diplomat AS.
Baca juga:
Putin Usir 755 Diplomat AS dari Rusia
Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev mengatakan bahwa RUU tersebut merupakan kekalahan yang memalukan atas pemerintahan impoten Trump.
"Sanksi muncul sebagai cara lain untuk menempatkan Trump sebagai gantinya. Akan ada usaha baru, tujuan akhirnya adalah melepaskan kekuasaan darinya," katanya.
RUU Kongres menghukum sektor energi dan pertahanan Rusia atas campur tangan Moskow dalam pemilu AS pada tahun lalu dan tuduhan keterlibatan di Ukraina timur.
Baca juga:
Sah, Trump Teken Sanksi untuk Rusia
"Mereka yang menemukan undang-undang ini, jika mereka berpikir bahwa mereka mungkin akan mengubah kebijakan kami, mereka salah, seperti yang telah terbukti berkali-kali dalam sejarah. Mereka seharusnya tahu lebih baik bahwa kami tidak akan membungkuk dan tidak akan mengubah (kebijakan)," kata Nebenzia seperti dikutip dari Russia Today, Kamis (3/8/2017).
Nebenzia menambahkan bahwa ratifikasi tersebut diharapkan, dan akan "mau tidak mau" lebih lanjut merusak hubungan antara kedua negara.
"Beberapa pejabat AS mengatakan bahwa ini adalah undang-undang yang bisa mendorong Rusia untuk bekerja sama. Ini adalah bentuk dorongan yang aneh, tapi bukan kebiasaan kita untuk menjadi anak yang menyebalkan," lanjut diplomat tersebut, yang menjanjikan bahwa Moskow tidak bergantung pada menemukan cara untuk bekerja sama di arena internasional mengenai isu-isu seperti Suriah.
Kremlin juga memilih untuk tidak meningkatkan situasi lebih lanjut.
"De facto, ini tidak mengubah apapun. Tidak ada yang baru di sini. Tindakan balasan telah dilakukan," kata sekretaris pers Vladimir Putin, Dmitry Peskov.
Setelah rancangan undang-undang sanksi Rusia disetujui oleh DPR dan Senat pekan lalu, presiden Rusia tersebut mengumumkan bahwa AS harus memangkas staf kedutaan besarnya di negara tersebut sebanyak 755 orang pada bulan September. Putin juga mengatakan bahwa Moskow akan menyita beberapa bangunan yang digunakan oleh diplomat AS.
Baca juga:
Putin Usir 755 Diplomat AS dari Rusia
Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev mengatakan bahwa RUU tersebut merupakan kekalahan yang memalukan atas pemerintahan impoten Trump.
"Sanksi muncul sebagai cara lain untuk menempatkan Trump sebagai gantinya. Akan ada usaha baru, tujuan akhirnya adalah melepaskan kekuasaan darinya," katanya.
RUU Kongres menghukum sektor energi dan pertahanan Rusia atas campur tangan Moskow dalam pemilu AS pada tahun lalu dan tuduhan keterlibatan di Ukraina timur.
(ian)