Mengintip Alasan Militer AS Beli Viagra Begitu Banyak

Minggu, 30 Juli 2017 - 06:50 WIB
Mengintip Alasan Militer...
Mengintip Alasan Militer AS Beli Viagra Begitu Banyak
A A A
WASHINGTON - Pentagon atau Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) menghabiskan puluhan miliar dolar untuk perawatan kesehatan bagi personel militer aktif dan pensiunan. Perawatan kesehatan itu termasuk pembelian Viagra yang begitu banyak.

“Aib” Pentagon itu sejatinya sudah muncul sejak setahun lalu. Namun kembali jadi sorotan publik setelah Presiden Donald Trump melalui Twitter mengumumkan larangan bagi kaum transgender untuk melayani militer AS. Dalam tweet-nya, Trump mempersoalkan biaya perawatan kesehatan militer, terutama untuk kalangan transgender.

Sebuah data dari surat kabar Military Times mengungkap bahwa Pentagon membelanjakan dana sekitar USD84 juta untuk pengobatan disfungsi ereksi personel militernya setiap tahun.

Data lain dari perkiraan lembaga studi Rand Corporation pada tahun lalu menyebut bahwa biaya perawatan kesehatan kaum transgender telah meningkatkan anggaran kesehatan militer AS sebesar USD8,4 juta per tahun.

Pentagon tidak merinci secara resmi alasan menghabiskan banyak dana untuk membeli obat disfungsi ereksi bagi personel militer aktif dan pensiunan tentara.

Data Military Times itu sebenarnya mengacu pada data Defense Health Agency (Layanan Kesehatan Pertahanan) pada data 2014. Dalam data itu terungkap bahwa Pentagon mengeluarkan dana USD84,2 juta untuk pengobatan disfungsi ereksi personel militer AS pada tahun itu.

Tapi, surat kabar itu juga memiliki data lain yang menyebut bahwa Pentagon mengabiskan dana USD294 juta untuk membeli Viagra, Cialis dan obat-obatan lainnya sejak tahun 2011. Besaran dana itu dianggap setara dengan biaya pembelian beberapa pesawat jet tempur.

Pada tahun 2014, sekitar 1,18 juta resep diisi sejumlah obat yang sebagian besar tertulis Viagra.

Meski Pentagon tidak merinci alasannya, namun laporan BBC mengungkap bahwa disfungsi ereksi dialami para personel militer AS. Kondisi itu semakin meningkat sejak perang di Irak dan Afghanistan dimulai. Namun, gangguan itu juga dialami para tentara AS yang tidak pernah dikerahkan di medan tempur karena faktor psikologis.
(mas)
Berita Terkait
Suhu Udara di California...
Suhu Udara di California Tembus 100 Derajat Celcius
Mewaspadai Dampak dari...
Mewaspadai Dampak dari Amerika Serikat
Apa Pemicu Kehancuran...
Apa Pemicu Kehancuran Amerika Serikat?
Menhan Prabowo Bertemu...
Menhan Prabowo Bertemu Menhan Amerika Serikat
Pilpres Bagi Diaspora...
Pilpres Bagi Diaspora Indonesia di Amerika Serikat
Pilpres Amerika Serikat...
Pilpres Amerika Serikat Diwarnai Kericuhan di Washington
Berita Terkini
Terowongan Runtuh Akibat...
Terowongan Runtuh Akibat Ledakan Pipa Gas di India, 12 Orang Tewas
37 menit yang lalu
Presiden Zelensky Pecat...
Presiden Zelensky Pecat Panglima Militer Ukraina, Rusia Untung Besar!
1 jam yang lalu
Trump akan Bicara dengan...
Trump akan Bicara dengan Hizbullah jika Presiden Lebanon Mau
2 jam yang lalu
Menlu Rubio Ungkap AS...
Menlu Rubio Ungkap AS Masih Bersedia Negosiasi dengan Iran
3 jam yang lalu
RUU Integrasi Militer...
RUU Integrasi Militer AS-Israel Dianggap Ancaman Eksistensial, Anggota Kongres Diseru Menolak
4 jam yang lalu
Trump Setujui Kesepakatan...
Trump Setujui Kesepakatan Nuklir Arab Saudi yang Memungkinkan Pengayaan Uranium
4 jam yang lalu
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved