Wabah Ransomware Landa Dunia, Media China Salahkan AS
Rabu, 17 Mei 2017 - 15:36 WIB
Wabah Ransomware Landa Dunia, Media China Salahkan AS
A
A
A
BEIJING - Media pemerintah China mengkritik Amerika Serikat (AS) karena menghalangi upaya untuk menghentikan ancaman siber global setelah serangan "ransomware" WannaCry. Serangan ransomware WannaCry telah menginfeksi lebih dari 300 ribu komputer di seluruh dunia dalam beberapa hari ini.
China Daily mengatakan Badan Keamanan Nasional AS, NSA, harus menanggung kesalahan tersebut yang menargetkan kerentanan pada sistem Microsoft Corp (MSFT.O). Malware ini telah menginfeksi sekitar 30.000 organisasi di China pada hari akhir pekan lalu.
"Upaya terpadu untuk mengatasi kejahatan siber telah terhambat oleh tindakan AS," tulis China Daily seperti dikutip dari Reuters, Rabu (17/5/2017).
China Daily menambahkan bahwa Washington memiliki bukti yang tidak kredibel untuk melarang perusahaan teknologi asal China di AS setelah serangan tersebut
Serangan malware yang terjadi pada Jumat lalu itu oleh sejumlah peneliti telah dikaitkan dengan sejumlah serangan yang dilakukan oleh kelompok peretas Korea Utara (Korut). Mereka memanfaatkan alat yang dikembangkan oleh NSA yang bocor secara online pada bulan April lalu, kata Microsoft.
Itu terjadi saat China bersiap untuk menerapkan undang-undang keamanan siber yang luas. Undang-undang ini menurut kelompok bisnis AS akan mengancam operasi perusahaan asing di China dengan undang-undang penyimpanan data lokal yang ketat dan persyaratan pengawasan yang ketat.
Otoritas siber China telah berulang kali mendorong apa yang mereka sebut keseimbangan "adil" dalam pemerintahan siber global, yang mengkritik dominasi AS.
China Daily menunjuk pada larangan AS pada penyedia telekomunikasi China Huawei Technologies Co Ltd [HWT.UL], mengatakan bahwa pembatasan tersebut dilakukan secara munafik karena kebocoran NSA.
Beijing sebelumnya mengatakan bahwa proliferasi berita palsu di situs media sosial AS, yang sebagian besar dilarang di China, adalah alasan untuk memperketat pemerintahan siber global.
Surat kabar tersebut mengatakan bahwa peran aparatus keamanan AS dalam serangan tersebut harus menanamkan urgensi yang lebih besar dalam misi China untuk mengganti teknologi asing dengan sendirinya.
Sementara media milik negara lainnya, Daily People's, membandingkan serangan siber dengan hacking teroris yang digambarkan di film AS "Die Hard 4", yang memperingatkan bahwa peran China dalam perdagangan global dan konektivitas internet membukanya untuk meningkatkan risiko dari luar negeri.
Kampanye pemerasan siber yang menyebar cepat mereda untuk hari kedua pada hari Selasa, namun identitas dan motif penciptanya tetap tidak diketahui.
China Daily mengatakan Badan Keamanan Nasional AS, NSA, harus menanggung kesalahan tersebut yang menargetkan kerentanan pada sistem Microsoft Corp (MSFT.O). Malware ini telah menginfeksi sekitar 30.000 organisasi di China pada hari akhir pekan lalu.
"Upaya terpadu untuk mengatasi kejahatan siber telah terhambat oleh tindakan AS," tulis China Daily seperti dikutip dari Reuters, Rabu (17/5/2017).
China Daily menambahkan bahwa Washington memiliki bukti yang tidak kredibel untuk melarang perusahaan teknologi asal China di AS setelah serangan tersebut
Serangan malware yang terjadi pada Jumat lalu itu oleh sejumlah peneliti telah dikaitkan dengan sejumlah serangan yang dilakukan oleh kelompok peretas Korea Utara (Korut). Mereka memanfaatkan alat yang dikembangkan oleh NSA yang bocor secara online pada bulan April lalu, kata Microsoft.
Itu terjadi saat China bersiap untuk menerapkan undang-undang keamanan siber yang luas. Undang-undang ini menurut kelompok bisnis AS akan mengancam operasi perusahaan asing di China dengan undang-undang penyimpanan data lokal yang ketat dan persyaratan pengawasan yang ketat.
Otoritas siber China telah berulang kali mendorong apa yang mereka sebut keseimbangan "adil" dalam pemerintahan siber global, yang mengkritik dominasi AS.
China Daily menunjuk pada larangan AS pada penyedia telekomunikasi China Huawei Technologies Co Ltd [HWT.UL], mengatakan bahwa pembatasan tersebut dilakukan secara munafik karena kebocoran NSA.
Beijing sebelumnya mengatakan bahwa proliferasi berita palsu di situs media sosial AS, yang sebagian besar dilarang di China, adalah alasan untuk memperketat pemerintahan siber global.
Surat kabar tersebut mengatakan bahwa peran aparatus keamanan AS dalam serangan tersebut harus menanamkan urgensi yang lebih besar dalam misi China untuk mengganti teknologi asing dengan sendirinya.
Sementara media milik negara lainnya, Daily People's, membandingkan serangan siber dengan hacking teroris yang digambarkan di film AS "Die Hard 4", yang memperingatkan bahwa peran China dalam perdagangan global dan konektivitas internet membukanya untuk meningkatkan risiko dari luar negeri.
Kampanye pemerasan siber yang menyebar cepat mereda untuk hari kedua pada hari Selasa, namun identitas dan motif penciptanya tetap tidak diketahui.
(ian)