Ribuan Muslim Rohingya Eksodus di Tengah Pembeberan Kekejaman Militer Myanmar

Selasa, 10 Januari 2017 - 11:52 WIB
Ribuan Muslim Rohingya...
Ribuan Muslim Rohingya Eksodus di Tengah Pembeberan Kekejaman Militer Myanmar
A A A
YANGON - Lebih dari 65.000 Muslim Rohingya melakukan eksodus dari negara bagian Rakhine, Myanmar. Eksodus besar-besaran itu terjadi di tengah pembeberan laporan baru tentang kekejaman militer Myanmar oleh kelompok hak asasi manusia (HAM), pada Selasa (10/1/2017).

Sebagian besar tujuan eksodus warga Muslim Rohingya adalah Bangladesh. Duta HAM PBB untuk Myanmar Yanghee Lee memberikan rincian data warga Muslim Rohingya yang telah eksodus. Data dia peroleh setelah memulai kunjungan 12 hari untuk untuk menyelidiki kekerasan di Rakhine.

Badan bantuan PBB mencatat sekitar 22.000 warga Rohingya telah tiba di kamp-kamp Bangladesh pada pekan terakhir ini. Angka itu dianggap sebagai yang terbesar dari gelombang eksodus warga Muslim Rohingya sejak kekerasan terbaru pecah di Rakhine Oktober 2016.

”Selama seminggu terakhir, 22.000 pendatang baru (Rohingya) dilaporkan telah menyeberangi perbatasan dari negara bagian Rakhine,” kata Lee, dalam laporan mingguannya.

”Sebagai data hingga 5 Januari, diperkirakan 65.000 orang tinggal di kamp-kamp yang terdaftar, pemukiman darurat dan masyarakat tuan rumah di Cox Bazaar, di Bangladesh selatan,” lanjut laporan itu.

Puttanee Kangkun, seorang peneliti kelompok HAM Fortify Rights, mengatakan bahwa dia dan rekan-rekannya telah mendokumentasikan puluhan aksi kekejaman militer Myanmar. Data itu diperoleh dari hasil wawancara terhadap para keluarga Rohingya di kamp perbatasan Bangladesh selama dua minggu.

”Banyak yang menyaksikan tentara Burma (Myanmar) membunuh orang-orang yang (mereka) cintai, termasuk anak-anak. Beberapa tenggorokan mereka digorok, sementara yang lain dibakar hidup-hidup,” kata Kangkun.

”Istri, ibu dan anak perempuan menyaksikan tentara membunuh suami, anak (lelaki) dan ayah (mereka),” lanjut dia.

Menurut data peneliti itu, ada seorang perempuan Rohingya menceritakan bagaimana keluarga mereka dilecehkan selama penggeledahan oleh pasukan Myanmar di rumah mereka. Perhiasan dan uang tunai diincar dalam penggeledahan itu.

”Karena stigma pemerkosaan melekat dalam masyarakat Rohingya, kami percaya bahwa kasus yang dilaporkan kepada kami hanya mewakili sebagian kecil dari kasus pemerkosaan yang terjadi,” ujarnya.

Kangkun menambahkan, banyak dari warga Rohingya di kamp-kamp pengungsian tidak membawa bekal selain pakaian di badan mereka. Para pengungsi Rohingya membutuhkan dukungan medis dan psiko-sosial

”Banyak korban ingin berbagi kesaksian mereka dan berpartisipasi dalam proses pengungkapan kebenaran. Tapi mereka tidak bisa melakukannya sendiri. Sekarang adalah saatnya bagi masyarakat internasional untuk bertindak,” imbuh Kangkun, seperti dikutip Sydney Morning Herald.

Pemerintah Myanmar sudah berkali-kali mengatakan klaim pelecehan oleh militernya itu palsu. Myanmar mengklaim meluncurkan komisi khusus untuk menyelidiki tuduhan tersebut.

Kekerasan terbaru yang dialami warga Rohingya di Rakhine bermula dari serangan kelompok bersenjata yang dikenal sebagai Harakah al-Yaqin (Gerakan Iman) terhadap pos-pos perbatasan yang menewaskan sembilan polisi Myanmar Oktober 2016.

Militer merespons serangan itu dengan menyerang desa-desa Rohingya di Rakhine. Laporan aktivis dan warga Rohingya, militer Myanmar melakukan pembunuhan, pemerkosaan, pembakaran desa dan tindak kekejaman lainnya.
(mas)
Berita Terkait
Negara Kecil Ini Ingin...
Negara Kecil Ini Ingin Myanmar Dihukum atas Genosida Etnis Muslim Rohingya
Sebut Tentaranya Diancam,...
Sebut Tentaranya Diancam, Myanmar Bantah Pengakuan Kekejaman Rohingya
Pengakuan Tentara Myanmar...
Pengakuan Tentara Myanmar Soal Pembantaian Rohingya: Bunuh Mereka Semua
Pendekatan Rasional...
Pendekatan Rasional terhadap Krisis Rohingya
Agama Warga Negara Bagian...
Agama Warga Negara Bagian Rakhine Myanmar dan Persentasenya
1.600 Rohingya Dipindah...
1.600 Rohingya Dipindah ke Pulau Terpencil, Ada yang Mengaku Dipaksa
Berita Terkini
Saat Banyak Orang Bermigrasi...
Saat Banyak Orang Bermigrasi ke Berlin, tapi 288.000 Warga Jermah Justru Pilih Tinggalkan Negaranya
2 jam yang lalu
Zelensky Ditekan untuk...
Zelensky Ditekan untuk Pecat Jenderal Tertinggi Ukraina di Tengah Perang Melawan Rusia
3 jam yang lalu
Khalil al-Hayya Jadi...
Khalil al-Hayya Jadi Pemimpin Hamas, Perjuangan Gaza Makin Konfrontatif atau Pragmatis?
3 jam yang lalu
Profil Sheikh Miqdad,...
Profil Sheikh Miqdad, Ulama Palestina yang Ditangkap Pasukan Indonesia dan Dikhawatirkan Diserahkan ke Israel
4 jam yang lalu
4 Fakta Film Odyssey...
4 Fakta Film Odyssey yang Picu Ketegangan, dari Isu Kulit Hitam hingga Transgender
4 jam yang lalu
Langka, Kapal Perang...
Langka, Kapal Perang China Latihan Tembak di Dalam ZEE Jepang
5 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Jalan...
10 Negara dengan Jalan Terbaik di Dunia, Juaranya Tetangga Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved