Pemberontak Suriah Sepakat Kirim Delegasi Pembicaraan Damai yang Ditengahi Rusia
Sabtu, 31 Desember 2016 - 08:58 WIB
Pemberontak Suriah Sepakat Kirim Delegasi Pembicaraan Damai yang Ditengahi Rusia
A
A
A
DAMASKUS - Oposisi Suriah telah berkomitmen untuk membentuk sebuah delegasi guna mengikuti pembicaraan damai yang direncanakan di Kazakhstan. Pembicaraan damai ini diinisiasi oleh Moskow, Ankara, dan Teheran. Pernyataan itu tertuang dalam dokumentasi yang ditemukan The New Arab.
Dua belas kelompok pemberontak telah menandatangani kesepakatan untuk secara independen membentuk delegasi pada 16 Januari 2017. Mereka akan menghadiri perundingan yang akan dimulai pada 23 Januari 2017 di ibukota Kazakhstan, Astana. Hanya Ahrar al-Sham, sebuah kelompok pemberontak Islam yang kuat, yang tidak menandatangani perjanjian.
"Tidak akan ada alternatif untuk solusi politik yang komprehensif bagi krisis Suriah. Proses politik di Suriah harus dimulai segera. Oposisi harus membentuk delegasi negosiasi untuk mencapai solusi politik melalui jalan damai," bunyi dokumentasi itu, Sabtu (31/12/2016).
Sebelumnya, Rusia telah menyampaikan rancangan resolusi ke Dewan Keamanan (DK) PBB yang mendukung gencatan senjata guna membantu pembicaraan damai di Suria seperti yang telah direncanakan. Moskow menyusun resolusi itu mendukung gencatan senjata nasional Suriah yang dibantu Turki dan Iran.
Gencatan senjata mulai berlaku pada tengah malam dan berlangsung hingga Jumat meski ada laporan tentang bentrokan sporadis di dekat Damaskus. "Gencatan senjata melibatkan 12 kelompok yang mewakili 60 ribu pejuang yang mengontrol 'potongan besar' dari Suriah, tampaknya cukup memadai," kata Dubes Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin.
Kesepakatan itu tidak mencakup kelompok-kelompok ekstremis termasuk kelompok ISIS dan Front Fateh al-Sham, afiliasi al-Qaeda yang sebelumnya dikenal sebagai Front al-Nusra.
Churkin mengatakan rencana Rusia tidak tumpang tindih dengan inisiatif negosiasi pada bulan Februari yang dimediasi oleh utusan perdamaian PBB Staffan de Mistura. Namun demikian, Moskow mengharapkan PBB akan sepenuhnya terlibat dalam mempersiapkan pembicaraan Astana.
"Kami berharap orang lain akan bergabung, seperti Mesir, Arab Saudi, Kuwait, Qatar," kata Churkin.
Dua belas kelompok pemberontak telah menandatangani kesepakatan untuk secara independen membentuk delegasi pada 16 Januari 2017. Mereka akan menghadiri perundingan yang akan dimulai pada 23 Januari 2017 di ibukota Kazakhstan, Astana. Hanya Ahrar al-Sham, sebuah kelompok pemberontak Islam yang kuat, yang tidak menandatangani perjanjian.
"Tidak akan ada alternatif untuk solusi politik yang komprehensif bagi krisis Suriah. Proses politik di Suriah harus dimulai segera. Oposisi harus membentuk delegasi negosiasi untuk mencapai solusi politik melalui jalan damai," bunyi dokumentasi itu, Sabtu (31/12/2016).
Sebelumnya, Rusia telah menyampaikan rancangan resolusi ke Dewan Keamanan (DK) PBB yang mendukung gencatan senjata guna membantu pembicaraan damai di Suria seperti yang telah direncanakan. Moskow menyusun resolusi itu mendukung gencatan senjata nasional Suriah yang dibantu Turki dan Iran.
Gencatan senjata mulai berlaku pada tengah malam dan berlangsung hingga Jumat meski ada laporan tentang bentrokan sporadis di dekat Damaskus. "Gencatan senjata melibatkan 12 kelompok yang mewakili 60 ribu pejuang yang mengontrol 'potongan besar' dari Suriah, tampaknya cukup memadai," kata Dubes Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin.
Kesepakatan itu tidak mencakup kelompok-kelompok ekstremis termasuk kelompok ISIS dan Front Fateh al-Sham, afiliasi al-Qaeda yang sebelumnya dikenal sebagai Front al-Nusra.
Churkin mengatakan rencana Rusia tidak tumpang tindih dengan inisiatif negosiasi pada bulan Februari yang dimediasi oleh utusan perdamaian PBB Staffan de Mistura. Namun demikian, Moskow mengharapkan PBB akan sepenuhnya terlibat dalam mempersiapkan pembicaraan Astana.
"Kami berharap orang lain akan bergabung, seperti Mesir, Arab Saudi, Kuwait, Qatar," kata Churkin.
(ian)