Keroyok Suu Kyi, 23 Peraih Nobel Desak PBB Selamatkan Rohingya

Jum'at, 30 Desember 2016 - 19:51 WIB
Keroyok Suu Kyi, 23...
Keroyok Suu Kyi, 23 Peraih Nobel Desak PBB Selamatkan Rohingya
A A A
NEW YORK - Sebanyak 23 tokoh peraih Hadiah Nobel “mengeroyok” Aung San Suu Kyi yang pasif melihat komunitas Muslim Rohingya ditindas militer Myanmar. Puluhan peraih Hadiah Nobel itu mendesak PBB ikut campur guna menyalamatkan komunitas Rohingya.

Dalam sebuah surat terbuka yang ditujukan kepada Dewan Keamanan PBB, 23 peraih Hadiah Nobel, politikus, dermawan dan aktivis, kompak mengecam pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi—yang juga penerima Hadiah Nobel Perdamaian—karena tidak berbuat banyak untuk menolong warga Rohingya.

“Tragedi kemanusiaan setara pembersihan etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan berlangsung di Myanmar,” bunyi surat terbuka dari kelompok peraih Nobel itu.

”Kami frustrasi bahwa dia (Suu Kyi) belum mengambil inisiatif untuk memastikan hak-hak kewarganegaraan penuh dan setara (untuk) Rohingya,” lanjut surat mereka.

Dalam beberapa pekan terakhir, lebih dari 27 ribu warga minoritas Muslim yang dianiaya telah melarikan diri dari operasi militer Mynamar di negara bagian Rakhine. Operasi militer diluncurkan untuk menanggapi serangan kelompok bersenjata terhadap tiga pos perbatasan yang menewaskan sembilan polisi Myanmar.

Pemerintah Bangladesh telah berada di bawah tekanan untuk membuka perbatasannya guna menampung para pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar. Tapi, aparat keamanan Bangladesh tetap memperkuat pos perbatasan dengan mengerahkan kapal penjaga pantai untuk mencegah kedatangan para pengungsi Rohingya terbaru.

”Rohingya adalah salah minoritas yang paling teraniaya di dunia, yang selama puluhan tahun telah mengalami kampanye marjinalisasi dan dehumanisasi,” lanjut surat terbuka kelompok peraih Hadiah Nobel. Puluhan peraih Hadiah Nobel yang angkat suara membela warga Rohingya itu salah satunya Desmond Tutu, Shirin Ebadi dan Jose Ramos-Horta.

Mereka mendesak Dewan Keamanan PBB yang terdiri dari 15 negara anggota untuk menekan Sekjen PBB agar mengunjungi Myanmar dalam beberapa minggu mendatang.

”Jika kita gagal untuk mengambil tindakan, orang mungkin mati kelaparan, jika tidak, mereka mungkin dibunuh dengan peluru, dan kami mungkin berakhir menjadi pengamat pasif atas kejahatan terhadap kemanusiaan yang akan membawa kita kembali ke perasan tangan kami yang terlambat dan mengatakan 'tidak pernah lagi, lagi,” imbuh surat mereka, seperti dikutip AFP, Jumat (30/12/2016).
(mas)
Berita Terkait
PBB Khawatir Nasib Rohingya...
PBB Khawatir Nasib Rohingya di Myanmar Kian Terpuruk setelah Kudeta
Negara Kecil Ini Ingin...
Negara Kecil Ini Ingin Myanmar Dihukum atas Genosida Etnis Muslim Rohingya
Sebut Tentaranya Diancam,...
Sebut Tentaranya Diancam, Myanmar Bantah Pengakuan Kekejaman Rohingya
Pengakuan Tentara Myanmar...
Pengakuan Tentara Myanmar Soal Pembantaian Rohingya: Bunuh Mereka Semua
Pendekatan Rasional...
Pendekatan Rasional terhadap Krisis Rohingya
Agama Warga Negara Bagian...
Agama Warga Negara Bagian Rakhine Myanmar dan Persentasenya
Berita Terkini
12,9 Juta Siswa Ikuti...
12,9 Juta Siswa Ikuti Ujian Gaokao untuk Masuk Universitas di China
18 menit yang lalu
Israel Bombardir Markas...
Israel Bombardir Markas Besar Hizbullah di Beirut
1 jam yang lalu
9 Tempat Paling Suci...
9 Tempat Paling Suci di Dunia, Nomor 5 Paling Populer bagi Orang Indonesia
2 jam yang lalu
6 Tradisi Teraneh di...
6 Tradisi Teraneh di Dunia, Salah Satunya Makan Abu Orang Mati
3 jam yang lalu
Mendagri Pakistan Sampaikan...
Mendagri Pakistan Sampaikan Surat Khusus untuk Mojtaba Khamenei
3 jam yang lalu
Partai Janta Kecoa Jadi...
Partai Janta Kecoa Jadi Inspirasi bagi Gen Z di Seluruh Dunia
4 jam yang lalu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved