FBI Usik Lagi Skandal E-Mail, Hillary Dikalahkan Trump

Rabu, 02 November 2016 - 01:03 WIB
FBI Usik Lagi Skandal...
FBI Usik Lagi Skandal E-Mail, Hillary Dikalahkan Trump
A A A
WASHINGTON - Jajak pendapat nasional terbaru dari ABC News/Washington Post menunjukkan kandidat presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik Donald Trump unggul satu poin dari rivalnya Hillary Clinton. “Kekalahan” Hillary ini terjadi setelah FBI membuka lagi penyelidikan skandal e-mail Hillary Clinton.

Jajak pendapat terbaru yang dikutip Rabu (2/11/2016) menunjukkan bahwa Trump meraih dukungan 46 persen. Sedangkan Hillary yang merupakan kandidat presiden Partai Demokrat meraih dukungan 45 persen.

Kekalahan Hillary dalam jajak pendapat terbaru ini mengejutkan. Karena hanya berselang sembilan hari setelah Hillary unggul 12 poin dari Trump.

Dukungan untuk Trump sempat merosot ketika dia dibombardir dengan tuduhan pelecehan seksual terhadap perempuan. Tuduhan itu sempat menguntungkan Hillary, di mana dukungannya menuju kursi Gedung Putih sempat melejit.

FBI Usik Lagi Skandal E-Mail, Hillary


Tapi, kondisi berbalik setelah Direktur FBI James Comey menulis surat kepada Kongres bahwa pihaknya membuka penyelidikan “percakapan” dari server rahasia Hillary ketika dia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri AS.

Langkah bos FBI itu telah dikecam Ketua Minoritas Senat AS dari Partai Demokrat Harry Reid. Pasalnya, penyelidikan dilakukan hanya beberapa hari sebelum pemilihan umum (Pemilu) Presiden AS digelar 8 November 2016 mendatang.

”Melalui aksi-aksi partisan Anda, Anda mungkin telah melanggar hukum,” kata Reid yang menuding Comey melanggar Hatch Act yang melarang FBI memengaruhi Pemilu AS. Dalam pernyataannya, Reid juga menyebut direktur FBI itu memiliki hubungan dekat dan berkoordinasi dengan Donald Trump, penasihat utamanya, dan Pemerintah Rusia.

”Saya tulis pada Anda beberapa bulan lalu untuk meminta informasi ini dirilis ke publik,” tegas Reid. Sementara itu, Hillary Clinton meminta Direktur FBI menjelaskan dengan rinci mengapa dia membuka kembali penyelidikan yang dinyatakan selesai pada Juli lalu.
(mas)
Berita Terkait
Donald Trump Kampanye...
Donald Trump Kampanye Pilpres Tanpa Kenakan Masker
Pilpres Amerika Serikat,...
Pilpres Amerika Serikat, Kemenangan Biden Makin Nyata
Pasar Taruhan Unggulkan...
Pasar Taruhan Unggulkan Trump Menangkan Pilpres Amerika Serikat 2024
Pendukung Donald Trump...
Pendukung Donald Trump Kembali Berunjuk Rasa di Arizona
Pertarungan Retorika...
Pertarungan Retorika Penuh Intrik di Pilpres Amerika Serikat
Akui Kekalahan dari...
Akui Kekalahan dari Donald Trump di Pilpres AS, Kamala Harris Sampaikan Pidato Konsesi
Berita Terkini
Malaysia Tak Takut Ancaman...
Malaysia Tak Takut Ancaman AS, PM Anwar Ibrahim Tetap Akan Usir Seluruh Warga Israel
46 menit yang lalu
Viral, Beruang Besar...
Viral, Beruang Besar Ini Nangkring di Atas Tiang Listrik
1 jam yang lalu
Uang Senilai Rp185 Miliar...
Uang Senilai Rp185 Miliar dan 40 Kg Emas Disita, Lagi-lagi Terkait Korupsi Wakil Menteri
1 jam yang lalu
Daftar Teroris Indonesia...
Daftar Teroris Indonesia yang Pernah Diburu Interpol, Nomor 1 Buron Internasional Bertahun-tahun
2 jam yang lalu
Laut Merah Memanas,...
Laut Merah Memanas, Houthi Yaman Serang 2 Kapal Tanker Minyak Arab Saudi
3 jam yang lalu
AS Restui Arab Saudi...
AS Restui Arab Saudi Miliki Program Nuklir, Kemenangan Besar bagi Riyadh
4 jam yang lalu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved