PBB Desak Penyelidikan Serangan Terhadap Sekolah di Suriah
Jum'at, 28 Oktober 2016 - 04:50 WIB
PBB Desak Penyelidikan Serangan Terhadap Sekolah di Suriah
A
A
A
NEW YORK - Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, telah menuntut dilakukannya penyelidikan atas serangan udara mematikan di Suriah yang kabarnya menghantam sebuah sekolah dan menewaskan lebih dari 20 anak. Aktivis mengatakan sebuah sekolah menjadi sasaran serangan udara di Idlib yang dikuasai oleh pemberontak pada Rabu lalu.
"Jika tindakan mengerikan terus berlangsung meski memicu kecaman dari dunia global, itu karena sebagian besar pelakunya baik mereka yang berada dalam koridor penguasa atau di dalam benteng pemberontak, tidak lagi takut dengah keadilan. Mereka terbukti bersalah," kata Ki-moon seperti dikutip dari BBC, Jumat (28/10/2016).
Sementara kepala UNICEF mengatakan, jika serangan itu terbukti di sengaja maka hal itu adalah kejahatan perang. "Kekejaman terbaru ini mungkin serangan paling mematikan terhadap sekolah sejak perang dimulai lebih dari lima tahun yang lalu," katanya.
"Anak-anak selamanya kehilangan keluarga mereka, guru selamanya kehilangan siswa mereka, satu lagi bekas luka di masa depan Suriah. Kapan dunia yang penuh dengan kebiadaban ini dapat dihentikan dengan sebuah desakan yang keras agar ini dihentikan," katanya lagi.
UNICEF mengatakan, termasuk satu di Idlib, tercatat sudah lima sekolah di Suriah yang menjadi target serangan tidak manusiawi sejak 11 Oktober. Rusia sendiri telah membantah jika Moskow dan sekutunya menjadi pelaku serangan tersebut.
Seorang juru bicara kementerian pertahanan Rusia, Mayor Jenderal Igor Konashenkov, mengatakan klaim itu palsu dan menyatakan bahwa pesawat tak berawak Rusia menemukan atap sekolah masih utuh.
Tapi Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris, yang mengumpulkan informasi dari jaringan orang-orang di dalam negeri, mengatakan pesawat-pesawat tempur Rusia atau Suriah telah melakukan enam serangan udara di desa. Aktivis mengambil foto sejumlah mayat, yang kebanyakan anak-anak, di lantai pusat perawatan darurat.
"Jika tindakan mengerikan terus berlangsung meski memicu kecaman dari dunia global, itu karena sebagian besar pelakunya baik mereka yang berada dalam koridor penguasa atau di dalam benteng pemberontak, tidak lagi takut dengah keadilan. Mereka terbukti bersalah," kata Ki-moon seperti dikutip dari BBC, Jumat (28/10/2016).
Sementara kepala UNICEF mengatakan, jika serangan itu terbukti di sengaja maka hal itu adalah kejahatan perang. "Kekejaman terbaru ini mungkin serangan paling mematikan terhadap sekolah sejak perang dimulai lebih dari lima tahun yang lalu," katanya.
"Anak-anak selamanya kehilangan keluarga mereka, guru selamanya kehilangan siswa mereka, satu lagi bekas luka di masa depan Suriah. Kapan dunia yang penuh dengan kebiadaban ini dapat dihentikan dengan sebuah desakan yang keras agar ini dihentikan," katanya lagi.
UNICEF mengatakan, termasuk satu di Idlib, tercatat sudah lima sekolah di Suriah yang menjadi target serangan tidak manusiawi sejak 11 Oktober. Rusia sendiri telah membantah jika Moskow dan sekutunya menjadi pelaku serangan tersebut.
Seorang juru bicara kementerian pertahanan Rusia, Mayor Jenderal Igor Konashenkov, mengatakan klaim itu palsu dan menyatakan bahwa pesawat tak berawak Rusia menemukan atap sekolah masih utuh.
Tapi Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris, yang mengumpulkan informasi dari jaringan orang-orang di dalam negeri, mengatakan pesawat-pesawat tempur Rusia atau Suriah telah melakukan enam serangan udara di desa. Aktivis mengambil foto sejumlah mayat, yang kebanyakan anak-anak, di lantai pusat perawatan darurat.
(ian)