Memanas, Trump Minta Rusia Bongkar 30 Ribu E-Mail Hillary
Kamis, 28 Juli 2016 - 02:23 WIB
Memanas, Trump Minta Rusia Bongkar 30 Ribu E-Mail Hillary
A
A
A
MIAMI - Seteru dua calon presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Hillary semakin memanas. Donald Trump kini meminta agen intelijen Rusia membongkar 30 ribu dokumen e-mail milik Hillary.
Perseteruan capres AS dari Partai Republik dan Partai Demokrat dengan menyeret Rusia ini diawali oleh bocoran dokumen e-mail Komite Nasional Partai Demokrat oleh WikiLeaks. Dokumen itu berisi konspirasi para petinggi Partai Demokrat untuk menyingkirkan Bernie Sanders demi memuluskan jalan Hillary menjadi capres.
Kubu Hillary lantas menuduh Rusia membantu Trump memenangkan pemilu presiden (Pilpres) AS dengan meretas e-mail yang dokumennya dibocorkan WikiLeaks. Namun, pendiri WikiLeaks, Julian Assange, membantah dokumen itu diperoleh dari agen intelijen Rusia. Kremlin juga membantah tuduhan tersebut.
”Rusia, jika Anda mendengarkan, saya berharap Anda dapat menemukan 30 ribu e-mail yang hilang,” kata Donald Trump pada konferensi pers di Miami pada hari Rabu. ”Saya pikir Anda mungkin akan dipuji mati-matian oleh pers kami,” lanjut Donald Trump, seperti dikutip NPR, Kamis (28/7/2016).
E-mail Hillary yang dimaksud Donald Trump itu adalah e-mail yang digunakan saat Hillary menjabat sebagai Menteri Luar Negeri AS.
Tim kampanye Hillary Clinton menanggapi manuver Donald Trump. ”Ini harus menjadi pertama kalinya bahwa calon presiden utama telah secara aktif mendorong kekuatan asing untuk melakukan spionase terhadap lawan politiknya,” kata penasihat kebijakan Hillary Clinton, Jake Sullivan.
“Ini bukan hiperbola,” lanjut dia dalam sebuah pernyataan. ”Ini telah berubah dari masalah rasa ingin tahu soal politik, menjadi isu keamanan nasional,” imbuh dia.
Perseteruan capres AS dari Partai Republik dan Partai Demokrat dengan menyeret Rusia ini diawali oleh bocoran dokumen e-mail Komite Nasional Partai Demokrat oleh WikiLeaks. Dokumen itu berisi konspirasi para petinggi Partai Demokrat untuk menyingkirkan Bernie Sanders demi memuluskan jalan Hillary menjadi capres.
Kubu Hillary lantas menuduh Rusia membantu Trump memenangkan pemilu presiden (Pilpres) AS dengan meretas e-mail yang dokumennya dibocorkan WikiLeaks. Namun, pendiri WikiLeaks, Julian Assange, membantah dokumen itu diperoleh dari agen intelijen Rusia. Kremlin juga membantah tuduhan tersebut.
”Rusia, jika Anda mendengarkan, saya berharap Anda dapat menemukan 30 ribu e-mail yang hilang,” kata Donald Trump pada konferensi pers di Miami pada hari Rabu. ”Saya pikir Anda mungkin akan dipuji mati-matian oleh pers kami,” lanjut Donald Trump, seperti dikutip NPR, Kamis (28/7/2016).
E-mail Hillary yang dimaksud Donald Trump itu adalah e-mail yang digunakan saat Hillary menjabat sebagai Menteri Luar Negeri AS.
Tim kampanye Hillary Clinton menanggapi manuver Donald Trump. ”Ini harus menjadi pertama kalinya bahwa calon presiden utama telah secara aktif mendorong kekuatan asing untuk melakukan spionase terhadap lawan politiknya,” kata penasihat kebijakan Hillary Clinton, Jake Sullivan.
“Ini bukan hiperbola,” lanjut dia dalam sebuah pernyataan. ”Ini telah berubah dari masalah rasa ingin tahu soal politik, menjadi isu keamanan nasional,” imbuh dia.
(mas)