Menlu: Sudah Ada Kontak dengan Penyandera 3 WNI di Malaysia
Senin, 11 Juli 2016 - 18:21 WIB
Menlu: Sudah Ada Kontak dengan Penyandera 3 WNI di Malaysia
A
A
A
JAKARTA - Para penyandera tiga warga negara Indonesia (WNI) sudah melakukan kontak dengan pemilik kapal tempat ketiga WNI itu bekerja. Hal itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi.
Berbicara saat menyampaikan pernyataan pers di kantor Kementerian Luar Negeri Indonesia di Jakarta, Retno mengatakan, para penyandera menghubungi pemilik kapal satu hari paska insiden penyanderaan.
"Pada 10 juli, pihak penyandera menghubungi pemilik kapal melalui ABK yang disandera. Setelah terima info, Kemlu berkoordinasi dengan empat perwakilan RI, KBRI Kuala Lumpur, Konsulat di Tawau, KBRI Manila dan Konsulat di Davao untuk memantau lebih jauh perkembangan kasus ini," kata Retno pada Senin (11/7).
"Konsulat di Tawau telah mengirimkan staf teknis kepolisian untuk berkoordiansi degan otoritas setempat dan pemilik kapal. Pada pagi ini, saya telah melakukan komunikasi dengan Menlu filipina dan Malaysia untuk meminta kembali perhatian kepada kasus baru ini," sambungnya.
Retno dalam pernyataannya menegaskan, insiden penculikan dan penyanderaan semacam ini adalah sesuatu hal yang tidak bisa ditolelir. Dirinya menyerukan kepada Pemerintah Filipina dan Malaysia untuk meningkatkan kerjasama dalam pencegahan hal semacam ini.
"Kejadian seperti ini merupakan kejadian yang sama sekali tidak bisa ditolerir. Oleh karena itu, upaya serius harus dilakukan segera, baik dengan pemerintah Filipina maupun pemerintah Malaysia. Dan, Indonesia siap untuk melakukan kerjasama dalam upaya pembebasan dalam waktu sesegera mungkin. Keselamatan sandera tetap merupakan prioritas bagi kami," pungkas mantan Duta Besar Indonesia untuk Belanda tersebut.
Berbicara saat menyampaikan pernyataan pers di kantor Kementerian Luar Negeri Indonesia di Jakarta, Retno mengatakan, para penyandera menghubungi pemilik kapal satu hari paska insiden penyanderaan.
"Pada 10 juli, pihak penyandera menghubungi pemilik kapal melalui ABK yang disandera. Setelah terima info, Kemlu berkoordinasi dengan empat perwakilan RI, KBRI Kuala Lumpur, Konsulat di Tawau, KBRI Manila dan Konsulat di Davao untuk memantau lebih jauh perkembangan kasus ini," kata Retno pada Senin (11/7).
"Konsulat di Tawau telah mengirimkan staf teknis kepolisian untuk berkoordiansi degan otoritas setempat dan pemilik kapal. Pada pagi ini, saya telah melakukan komunikasi dengan Menlu filipina dan Malaysia untuk meminta kembali perhatian kepada kasus baru ini," sambungnya.
Retno dalam pernyataannya menegaskan, insiden penculikan dan penyanderaan semacam ini adalah sesuatu hal yang tidak bisa ditolelir. Dirinya menyerukan kepada Pemerintah Filipina dan Malaysia untuk meningkatkan kerjasama dalam pencegahan hal semacam ini.
"Kejadian seperti ini merupakan kejadian yang sama sekali tidak bisa ditolerir. Oleh karena itu, upaya serius harus dilakukan segera, baik dengan pemerintah Filipina maupun pemerintah Malaysia. Dan, Indonesia siap untuk melakukan kerjasama dalam upaya pembebasan dalam waktu sesegera mungkin. Keselamatan sandera tetap merupakan prioritas bagi kami," pungkas mantan Duta Besar Indonesia untuk Belanda tersebut.
(esn)