ISIS Bakar 19 Gadis Yazidi di Kandang karena Menolak Jihad Seks
Sabtu, 04 Juni 2016 - 08:13 WIB
ISIS Bakar 19 Gadis Yazidi di Kandang karena Menolak Jihad Seks
A
A
A
MOSUL - Para militan ISIS membakar hidup-hidup 19 gadis Yazidi di kandang besi atas tuduhan menolak “jihad seks”. Pembunuhan brutal ini terjadi di wilayah Mosul, Irak utara yang dikuasai ISIS.
Kebrutalan ISIS itu dilaporkan aktivis media lokal bernama Abdullah al-Malla.
”Mereka dihukum karena menolak untuk berhubungan seks dengan militan ISIS, 19 gadis dibakar sampai meninggal, sementara ratusan orang menonton. Tidak ada yang bisa melakukan apa saja untuk menyelamatkan mereka dari hukuman brutal,” katanya, seperti dikutip IB Times, semalam (3/6/2016).
Pada bulan Agustus 2014, ISIS menyerang dan mengambil alih wilayah-wilayah warga Yazidi di Irak utara. Serangan itu menyebabkan perpindahan dari hampir 400 ribu orang ke kamp-kamp pengungsi di Timur Tengah.
Tahun lalu, Kurdi pasukan Peshmerga di Kurdistan Irak, dengan bantuan dari pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat berhasil membebaskan sebagian besar wilayah Yazidi dari ISIS atau Daesh.
Di kota-kota dan desa-desa yang dibebaskan itu ditemukan kuburan massal yang diduga korban pembantaian ISIS. Human Rights Watch (HRW) menyoroti kasus pembantaian ini.
“Banyak pelanggaran, termasuk penyiksaan, perbudakan seksual, dan penahanan sewenang-wenang, akan jadi kejahatan perang jika dilakukan dalam konteks konflik bersenjata, atau kejahatan terhadap kemanusiaan jika mereka adalah bagian dari kebijakan ISIS selama serangan sistematis atau meluas terhadap penduduk sipil,” bunyi pernyataan HRW.
“Pelanggaran terhadap perempuan dan anak perempuan Yazidi didokumentasikan oleh HRW, termasuk praktek menculik wanita dan anak perempuan dan memaksa mereka pindah agama atau memaksa menikah dengan anggota ISIS, dapat menjadi bagian dari genosida terhadap Yazidi,” lanjut HRW.
Kebrutalan ISIS itu dilaporkan aktivis media lokal bernama Abdullah al-Malla.
”Mereka dihukum karena menolak untuk berhubungan seks dengan militan ISIS, 19 gadis dibakar sampai meninggal, sementara ratusan orang menonton. Tidak ada yang bisa melakukan apa saja untuk menyelamatkan mereka dari hukuman brutal,” katanya, seperti dikutip IB Times, semalam (3/6/2016).
Pada bulan Agustus 2014, ISIS menyerang dan mengambil alih wilayah-wilayah warga Yazidi di Irak utara. Serangan itu menyebabkan perpindahan dari hampir 400 ribu orang ke kamp-kamp pengungsi di Timur Tengah.
Tahun lalu, Kurdi pasukan Peshmerga di Kurdistan Irak, dengan bantuan dari pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat berhasil membebaskan sebagian besar wilayah Yazidi dari ISIS atau Daesh.
Di kota-kota dan desa-desa yang dibebaskan itu ditemukan kuburan massal yang diduga korban pembantaian ISIS. Human Rights Watch (HRW) menyoroti kasus pembantaian ini.
“Banyak pelanggaran, termasuk penyiksaan, perbudakan seksual, dan penahanan sewenang-wenang, akan jadi kejahatan perang jika dilakukan dalam konteks konflik bersenjata, atau kejahatan terhadap kemanusiaan jika mereka adalah bagian dari kebijakan ISIS selama serangan sistematis atau meluas terhadap penduduk sipil,” bunyi pernyataan HRW.
“Pelanggaran terhadap perempuan dan anak perempuan Yazidi didokumentasikan oleh HRW, termasuk praktek menculik wanita dan anak perempuan dan memaksa mereka pindah agama atau memaksa menikah dengan anggota ISIS, dapat menjadi bagian dari genosida terhadap Yazidi,” lanjut HRW.
(mas)