Enam Tahun Pasca Serangan ISIS, Nasib Kaum Yazidi Masih Belum Jelas
Senin, 24 Agustus 2020 - 02:05 WIB
loading...
Enam Tahun Pasca Serangan ISIS, Nasib Kaum Yazidi Masih Belum Jelas
A
A
A
BAGHDAD - Saat Yazidi memperingati serangan ISIS terhadap komunitas mereka enam tahun lalu, para aktivis menuntut dukungan untuk kaum minoritas mereka yang rapuh di Irak. Pada awal Agustus, di Provinsi Sinjar di Irak utara, jantung bersejarah bagi Yazidi, penduduk setempat berkumpul di jalan utama dan di luar gedung-gedung umum untuk menyalakan lilin dan mengingat mereka yang gugur dalam serangan.
Pada tahun 2014, militan ISIS menyerbu provinsi tersebut dan dengan sengaja menargetkan komunitas untuk membunuh ratusan dan menculik ribuan orang. Setengah juta orang Yazidi mengungsi. Serangan itu digambarkan sebagai genosida oleh PBB pada 2015 dan penyelidikan internasional yang didanai PBB terhadap kejahatan perang ISIS diluncurkan pada 2018.
(Baca: Pengadilan Jerman Adili Anggota ISIS Atas Dakwaan Genosida Yazidi )
Namun, enam tahun setelah serangan awal, komunitas di Irak masih menghadapi tantangan yang luar biasa. Sekitar 250 ribu Yazidi masih tinggal di kamp-kamp di wilayah Kurdistan dan lebih dari 100 ribu bermigrasi keluar dari Irak. Tiga ribu orang hilang atau tidak ditemukan, dengan ratusan diketahui berada di kamp pengungsian di Suriah. Pada peringatan tersebut, pelayat memegang spanduk menuntut keadilan internasional dan keamanan yang lebih besar untuk tanah air mereka.
“Kami tidak melihat adanya pergerakan dari otoritas Irak. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada kami dalam enam tahun terakhir,” kata Naji Khadida, seperti dilansir Al Arabiya. Meskipun ISIS dikalahkan pada 2017, kurang dari sepertiga dari pengungsi Yazidi telah kembali ke Sinjar, di mana salah satunya adalah Khadida.
Sebelum kembali ke tanah kelahiran, Khadida menghabiskan enam tahun di kamp pengungsi di luar kota Dohuk, di wilayah Kurdistan Irak, bersama orang tua dan saudara kandungnya. "Kami tinggal di tenda kecil tanpa dapur atau kamar mandi,” katanya.
Tapi selama bertahun-tahun, ini lebih baik daripada kembali ke tanah airnya yang hancur. Kami memiliki kewajiban untuk kembali ke Sinjar untuk melestarikan komunitas kami. Bahasa dan budaya kami berubah di kamp,” kata Khadida.
Pada tahun 2014, militan ISIS menyerbu provinsi tersebut dan dengan sengaja menargetkan komunitas untuk membunuh ratusan dan menculik ribuan orang. Setengah juta orang Yazidi mengungsi. Serangan itu digambarkan sebagai genosida oleh PBB pada 2015 dan penyelidikan internasional yang didanai PBB terhadap kejahatan perang ISIS diluncurkan pada 2018.
(Baca: Pengadilan Jerman Adili Anggota ISIS Atas Dakwaan Genosida Yazidi )
Namun, enam tahun setelah serangan awal, komunitas di Irak masih menghadapi tantangan yang luar biasa. Sekitar 250 ribu Yazidi masih tinggal di kamp-kamp di wilayah Kurdistan dan lebih dari 100 ribu bermigrasi keluar dari Irak. Tiga ribu orang hilang atau tidak ditemukan, dengan ratusan diketahui berada di kamp pengungsian di Suriah. Pada peringatan tersebut, pelayat memegang spanduk menuntut keadilan internasional dan keamanan yang lebih besar untuk tanah air mereka.
“Kami tidak melihat adanya pergerakan dari otoritas Irak. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada kami dalam enam tahun terakhir,” kata Naji Khadida, seperti dilansir Al Arabiya. Meskipun ISIS dikalahkan pada 2017, kurang dari sepertiga dari pengungsi Yazidi telah kembali ke Sinjar, di mana salah satunya adalah Khadida.
Sebelum kembali ke tanah kelahiran, Khadida menghabiskan enam tahun di kamp pengungsi di luar kota Dohuk, di wilayah Kurdistan Irak, bersama orang tua dan saudara kandungnya. "Kami tinggal di tenda kecil tanpa dapur atau kamar mandi,” katanya.
Tapi selama bertahun-tahun, ini lebih baik daripada kembali ke tanah airnya yang hancur. Kami memiliki kewajiban untuk kembali ke Sinjar untuk melestarikan komunitas kami. Bahasa dan budaya kami berubah di kamp,” kata Khadida.
Lihat Juga :