AS: Kematian Mullah Mansour Bukanlah Sebuah Akhir
Kamis, 26 Mei 2016 - 13:42 WIB
AS: Kematian Mullah Mansour Bukanlah Sebuah Akhir
A
A
A
WASHINGTON - Kematian pemimpin Taliban Mullah Mansour bukanlah akhir dari perjuangan untuk melawan kelompok itu. Menurut Menteri Pertahahan Amerika Serikat (AS), Ashton Carter kematian Mansour hanyalah sebuah batu loncatan baru untuk terciptanya perdamaian di Aghanistan.
"Kematian Mansour berarti telah menghilangkan satu batu sandungan lainnya untuk proses perdamaian di Afghanistan," kata Carter, dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Sputnik pada Kamis (26/5).
Sementara itu, menurut mantan wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Asia Selatan dan Tengah, sekaligus penasihat senior wakil khusus untuk Afghanistan dan Pakistan, Eileen O'Connor, kematian Mansour tidak menunjukkan kemajuan di wilayah yang diperangi.
"Saya tidak berpikir itu akan berdampak besar pada upaya untuk rekonsiliasi, itu tidak menunjukan adanya kurang dari keinginan untuk menemukan penyelesaian politik. Saya melihat semuanya masih sama," ucap Eileen.
Hal senada diutarakan oleh Direktur Eksekutif Women for Afghan Women, Manizha Naderi. Menurutnya, selama Taliban belum dimusnahkan, mereka hanya akan terus berganti pimpinan, ketika pemimpin lama mereka tewas.
"Saya senang Mullah Mansur sudah mati. Hari ini adalah Mullah Mansur, besok akan ada beberapa nama lainnya yang akan menjadi pemimpin Taliban dengan dukungan dari Pakistan. Ini sudah lebih dari cukup dan kita harus memanggil Pakistan sebagai negara teroris, sebuah negara menyembunyikan teroris dan mengekspor terorisme," ucapnya.
Taliban Afghanistan sendiri kemarin mengumumkan pemimpin baru untuk menggantikan Mullah Akhtar Mansour yang tewas dalam serangan pesawat tak berawak Amerika Serikat (AS). Dalam sebuah pernyataan, Taliban mengakui kematian Mansour untuk pertama kalinya. Taliban mengumumkan Mawlawi Haibatullah Akhundzada, sebagai pengganti Mansour.
"Kematian Mansour berarti telah menghilangkan satu batu sandungan lainnya untuk proses perdamaian di Afghanistan," kata Carter, dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Sputnik pada Kamis (26/5).
Sementara itu, menurut mantan wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Asia Selatan dan Tengah, sekaligus penasihat senior wakil khusus untuk Afghanistan dan Pakistan, Eileen O'Connor, kematian Mansour tidak menunjukkan kemajuan di wilayah yang diperangi.
"Saya tidak berpikir itu akan berdampak besar pada upaya untuk rekonsiliasi, itu tidak menunjukan adanya kurang dari keinginan untuk menemukan penyelesaian politik. Saya melihat semuanya masih sama," ucap Eileen.
Hal senada diutarakan oleh Direktur Eksekutif Women for Afghan Women, Manizha Naderi. Menurutnya, selama Taliban belum dimusnahkan, mereka hanya akan terus berganti pimpinan, ketika pemimpin lama mereka tewas.
"Saya senang Mullah Mansur sudah mati. Hari ini adalah Mullah Mansur, besok akan ada beberapa nama lainnya yang akan menjadi pemimpin Taliban dengan dukungan dari Pakistan. Ini sudah lebih dari cukup dan kita harus memanggil Pakistan sebagai negara teroris, sebuah negara menyembunyikan teroris dan mengekspor terorisme," ucapnya.
Taliban Afghanistan sendiri kemarin mengumumkan pemimpin baru untuk menggantikan Mullah Akhtar Mansour yang tewas dalam serangan pesawat tak berawak Amerika Serikat (AS). Dalam sebuah pernyataan, Taliban mengakui kematian Mansour untuk pertama kalinya. Taliban mengumumkan Mawlawi Haibatullah Akhundzada, sebagai pengganti Mansour.
(esn)