Tokoh Oposisi Prancis Sebut UE di Ambang Kehancuran
Jum'at, 20 Mei 2016 - 13:47 WIB
Tokoh Oposisi Prancis Sebut UE di Ambang Kehancuran
A
A
A
PARIS - Tokoh oposisi Prancis, Marine Le Pen menuturkan, saat ini Uni Eropa (UE) tengah berada di ambang kehancuran. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh mulai runtuhnya dua pilar utama UE, yakni Euro dan Schengen.
"Dua pilar utama yang didirikan UE, yakni Euro dan Schengen tengah mengalami keruntuhan," kata pemimpin partai sayap kanan Prancis tersebut dalam sebuah pernyataan.
"Jadi, mereka (UE) seperti berada di dalam sebuah kegilaan di mana mereka mampu melakukan apa saja hari ini untuk mencoba dan menjaga bangunan ini berdiri," sambungnya, seperti dilansir Russia Today pada Jumat (20/5).
Le Pen juga menuturkan, saat ini pertanyaanya bukan lagi jika UE runtuh, tapi kapan UE akan runtuh. Karena menurutnya saat ini para pemimpin UE tengah dibuat kalang kabut untuk mencari cara agar organisasi ini tetap bertahan, termasuk "memeras" anggota UE dengan berbagai dalih.
"Ancaman hukuman kepada negara-negara yang tidak menerima pendatang, denda 250.000 Euro untuk setiap migran yang tidak diterima oleh negara anggota UE telah menunjukan semuanya," sambungnya.
"Saat ini, ancaman dan pemerasan digunakan secara sistematis oleh UE. Di atas semua, sebuah masalah besar yang membuat organsisasi ini semakin lemah," pungkasnya.
"Dua pilar utama yang didirikan UE, yakni Euro dan Schengen tengah mengalami keruntuhan," kata pemimpin partai sayap kanan Prancis tersebut dalam sebuah pernyataan.
"Jadi, mereka (UE) seperti berada di dalam sebuah kegilaan di mana mereka mampu melakukan apa saja hari ini untuk mencoba dan menjaga bangunan ini berdiri," sambungnya, seperti dilansir Russia Today pada Jumat (20/5).
Le Pen juga menuturkan, saat ini pertanyaanya bukan lagi jika UE runtuh, tapi kapan UE akan runtuh. Karena menurutnya saat ini para pemimpin UE tengah dibuat kalang kabut untuk mencari cara agar organisasi ini tetap bertahan, termasuk "memeras" anggota UE dengan berbagai dalih.
"Ancaman hukuman kepada negara-negara yang tidak menerima pendatang, denda 250.000 Euro untuk setiap migran yang tidak diterima oleh negara anggota UE telah menunjukan semuanya," sambungnya.
"Saat ini, ancaman dan pemerasan digunakan secara sistematis oleh UE. Di atas semua, sebuah masalah besar yang membuat organsisasi ini semakin lemah," pungkasnya.
(esn)