Dendam, Wanita Yazidi di Jerman Pulang ke Irak untuk Perangi ISIS
Kamis, 05 Mei 2016 - 11:29 WIB
Dendam, Wanita Yazidi di Jerman Pulang ke Irak untuk Perangi ISIS
A
A
A
SINJAR - Haseba Nauzad, nama wanita Kurdi etnis Yazidi berusi 24 tahun ini. Dia sebenarnya sudah mengungsi ke Jerman setelah ISIS menyerang Sinjar, Irak utara tahun 2014.
Namun, Nauzad nekat pulang ke Irak untuk balas dendam pada ISIS yang membunuh dan menjadikan para wanita Yazidi sebagai budak seks.
Nauzad kini menjadi komandan unit pasukan perempuan Kurdi di Irak. Saat kelompok Islamic State atau ISIS menyerang Sinjar dan mengumumkan “kekhalifahan” tahun 2014, dia tinggal di Turki bersama suaminya.
”Kami melihat mereka bertindak dengan cara yang sangat kriminal. Mereka merugikan orang. Mereka membunuh orang. Mereka memenggal kepala dan mereka memaksa perempuan untuk melakukan tindakan seksual. Oleh karena itu, sebagai seorang gadis Kurdi, saya melihat mereka memperkosa saudara Kurdi saya, saya tidak bisa menerima ketidakadilan ini,” kata Nauzad.
Dua tahun lalu, suaminya membayar penyelundup manusia untuk membawa mereka ke Eropa bersama dengan lebih dari satu juta orang lainnya yang melarikan diri konflik di wilayah tersebut.
Nauzad telah kehilangan kontak dengan suaminya sejak dia tiba di Jerman. Dia kemudian nekat pulang ke Irak untuk balas dendam pada ISIS. Menurutnya, jenis kelamin tidak tidak bisa melarang para perempuan untuk memasuki medan pertempuran.
”Jika seorang pria dapat membawa senjata, seorang wanita dapat melakukan hal yang sama,” kata Nauzad, seperti dikutip IB Times, semalam (4/5/2016). ”Para pria terinspirasi untuk berjuang lebih keras ketika mereka melihat wanita berdiri di medan perang yang sama seperti mereka.”
“Para wanita di unit pasukan yakin militan ISIS takut pada pejuang perempuan, karena mereka pikir jika mereka dibunuh oleh seorang wanita, mereka tidak akan masuk surga,” ujar Nauzad.
Lantaran dendam, Nauzad bergabung dengan sebuh unit pasukan yang terdiri dari 30 perempuan dari Yazidi, serta etnis lain dari Kurdi Irak dan Suriah untuk mengangat senjata melawan ISIS. Bagi unit pasukan yang dipimpin Nauzad, mereka hanya berpikir satu hal; balas dendam untuk wanita yang diperkosa, dipukuli dan dieksekusi oleh militan ISIS.
Namun, Nauzad nekat pulang ke Irak untuk balas dendam pada ISIS yang membunuh dan menjadikan para wanita Yazidi sebagai budak seks.
Nauzad kini menjadi komandan unit pasukan perempuan Kurdi di Irak. Saat kelompok Islamic State atau ISIS menyerang Sinjar dan mengumumkan “kekhalifahan” tahun 2014, dia tinggal di Turki bersama suaminya.
”Kami melihat mereka bertindak dengan cara yang sangat kriminal. Mereka merugikan orang. Mereka membunuh orang. Mereka memenggal kepala dan mereka memaksa perempuan untuk melakukan tindakan seksual. Oleh karena itu, sebagai seorang gadis Kurdi, saya melihat mereka memperkosa saudara Kurdi saya, saya tidak bisa menerima ketidakadilan ini,” kata Nauzad.
Dua tahun lalu, suaminya membayar penyelundup manusia untuk membawa mereka ke Eropa bersama dengan lebih dari satu juta orang lainnya yang melarikan diri konflik di wilayah tersebut.
Nauzad telah kehilangan kontak dengan suaminya sejak dia tiba di Jerman. Dia kemudian nekat pulang ke Irak untuk balas dendam pada ISIS. Menurutnya, jenis kelamin tidak tidak bisa melarang para perempuan untuk memasuki medan pertempuran.
”Jika seorang pria dapat membawa senjata, seorang wanita dapat melakukan hal yang sama,” kata Nauzad, seperti dikutip IB Times, semalam (4/5/2016). ”Para pria terinspirasi untuk berjuang lebih keras ketika mereka melihat wanita berdiri di medan perang yang sama seperti mereka.”
“Para wanita di unit pasukan yakin militan ISIS takut pada pejuang perempuan, karena mereka pikir jika mereka dibunuh oleh seorang wanita, mereka tidak akan masuk surga,” ujar Nauzad.
Lantaran dendam, Nauzad bergabung dengan sebuh unit pasukan yang terdiri dari 30 perempuan dari Yazidi, serta etnis lain dari Kurdi Irak dan Suriah untuk mengangat senjata melawan ISIS. Bagi unit pasukan yang dipimpin Nauzad, mereka hanya berpikir satu hal; balas dendam untuk wanita yang diperkosa, dipukuli dan dieksekusi oleh militan ISIS.
(mas)