Protes Perkosaan di Kampus Afsel, Para Mahasiswi Demo Topless

Jum'at, 22 April 2016 - 08:42 WIB
Protes Perkosaan di...
Protes Perkosaan di Kampus Afsel, Para Mahasiswi Demo Topless
A A A
GRAHAMSTOWN - Para mahasiswi di Universitas Rhodes, di Grahamstown, Afrika Selatan (Afsel) demo telanjang dada atau topless untuk memprotes tindakan pemerkosaan di kampus yang mereka sebut telah “membudaya”.

Demo yang dimulai sejak hari Senin di kampus itu terjadi setelah pihak kampus mengabaikan keluhan mereka terkait tindakan pemerkosaan di universitas.

Polisi turun tangan untuk membubarkan demonstran dengan menggunakan semprotan merica dan pistol listrik.

Demo itu juga dipicu bocornya daftar para terduga pemerkosa di media sosial pada hari Minggu. Mereka sebenarnya sudah melaporkan tindakan pemerkosaan di kampus kepada pihak universitas dan polisi.

Namun, para mahasiswi menjadi marah setelah pihak universitas tidak merespons laporan mereka. Demonstran menuntut pihak universitas mengambil tindakan untuk mengakhiri budaya pemerkosaan di kampus.


Mereka juga menuntut universitas mengeluarkan 11 terduga pemerkosa di kampus dan mengubah kebijakannya tentang bagaimana seharusnya korban pemerkosaan diperlakukan.


Pada Selasa sore, para mahasiswi kembali demo dengan menari topless. Beberapa dari mereka menuliskan tulisan berbunyi;”ini milikku di bagian dada mereka.

Demo terus berlanjut pada hari Rabu, di mana lebih dari 200 mahasiswa dan mahasiswi diserang dengan peluru karet, semprotan merica dan granat setrum oleh polisi yang mencoba untuk membubarkan massa.


Polisi mengabaikan permintaan pihak rektorat untuk berhenti menyerang para mahasiswa dan mahasiswi.

Polisi Eastern Cape telah menangkap lima demonstran selama protes. Mereka kemudian dibebaskan tanpa jaminan.

Menurut Naledi Mashishi dari Dewan Perwakilan Mahasiswa, lima mahasiswa telah ditangkap dan satu masuk rumah sakit setelah polisi menembakkan granat kejut dan peluru karet terhadap mereka.


Menurutnya, mahasiswa dan mahasiswi menolak berhenti demo.”Jika mereka yakin tidak ada pengunjuk rasa yang akan menghadapi tindakan keras atau dihukum karena berpartisipasi dalam protes,” katanya, seperti dikutip dari Times Live, Jumat (22/4/2016).

Para dosen juga ikut telah bergabung dalam demonstrasi. Kami memutuskan untuk bergabung dengan aksi mogok mahasiswa karena kebrutalan polisi,” kata pihak Serikat Pekerja Pendidikan Nasional dan Kesehatan.

Kami tidak bisa menonton anak-anak kita yang diperlakukan dengan cara seperti kemarin, jadi kami mengambil keputusan, bahwa itu sudah terlalu banyak.”
(mas)
Berita Terkait
Indonesia Dorong Aksi...
Indonesia Dorong Aksi Nyata Pemberdayaan Perempuan di G20 Afrika Selatan
4 Alasan Afrika Selatan...
4 Alasan Afrika Selatan Selalu Jadi Pusat Pergeseran Tatanan kekuatan Global pada 2025
Gedung Parlemen Afrika...
Gedung Parlemen Afrika Selatan di Cape Town Terbakar
Presiden Afsel Berupaya...
Presiden Afsel Berupaya Pertahankan Kekuasaan di Tengah Skandal Korupsi
25.000 Tentara Dikerahkan...
25.000 Tentara Dikerahkan untuk Redam Kerusuhan di Afrika Selatan
Kerusuhan Afrika Selatan...
Kerusuhan Afrika Selatan Menggila, 212 Orang Tewas Secara Brutal
Berita Terkini
Serangan Drone Ukraina...
Serangan Drone Ukraina Meningkat, Perang Hadir di Depan Rumah Warga Rusia
37 menit yang lalu
12,9 Juta Siswa Ikuti...
12,9 Juta Siswa Ikuti Ujian Gaokao untuk Masuk Universitas di China
4 jam yang lalu
Israel Bombardir Markas...
Israel Bombardir Markas Besar Hizbullah di Beirut
5 jam yang lalu
9 Tempat Paling Suci...
9 Tempat Paling Suci di Dunia, Nomor 5 Paling Populer bagi Orang Indonesia
6 jam yang lalu
6 Tradisi Teraneh di...
6 Tradisi Teraneh di Dunia, Salah Satunya Makan Abu Orang Mati
7 jam yang lalu
Mendagri Pakistan Sampaikan...
Mendagri Pakistan Sampaikan Surat Khusus untuk Mojtaba Khamenei
7 jam yang lalu
Infografis
10 Wonderkid Calon Bintang...
10 Wonderkid Calon Bintang di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved